
"Apa loe sudah dapat cerita dari Vian, Vin?" tanya Bryan saat mereka berada di dalam mobil menuju perusahaan.
"Maaf Bryan. Kemaren saat pulang, Vian tidak mau gue antar" jawab Kevin sambil melihat ke arah Bryan sekilas
"Kok bisa?"
"Gue nggak ngerti" komen Bryan yang heran dengan apa yang dikatakan oleh Kevin.
"Kan kalian dari mall itu langsung berdua kan ya masuk dalam mobil. Kok bisa Vian pulang sendirian?" tanya Bryan yang tidak mengerti dengan perkataan Kevin.
"Jadi ceritanya tuh, kami memang sama keluar, tapi hanya sampai pintu keluar dari mall. Nah sampe di luar Vian minta gue turunin karena dia sudah mesan taksi online" ujar Kevin menceritakan kenapa Vian tidak bisa pulang dengan dirinya ke rumah.
"Anak itu benar benar keras kepala. Gue kira sudah berubah. Ternyata belum" kata Bryan.
Bryan hanya bisa geleng geleng kepala saat mendengar apa yang diceritakan oleh Kevin kepada dirinya. Dia tidak menyangka kalau Vian masih seperti yang dulu.
"Apa Julian ada cerita sama loe?" tanya Kevin balik.
"Ya, dia menceritakan semuanya ke gue" jawab Bryan.
"Parah?" tanya Kevin yang tidak mau mendengar jalan cerita yang terjadi di mall besar itu kemaren sore.
"Pake banget" jawab Bryan yang bisa memutar ulang semua yang dikatakan oleh Julian kepada dirinya kemaren malam.
"Siapa orangnya?" tanya Kevin yang tidak sabar ingin tau siapa Nyonya yang sudah dengan beraninya menampar Julian di keramaian mall.
"Syangnya itu, Julian nggak tau siapa orangnya" kata Bryan.
"Yah" nada kecewa sangat terlihat jelas dari nada suara Kevin.
"Kita harus tanya Vian"
"Hanya Vian satu satunya orang yang tau akan masalah ini" kata Kevin meminta Bryan untuk langsung bertanya kepada Vian langsung.
"Rencananya mau seperti itu. Gue mau minta Vian datang ke perusahaan saat jam makan siang" kata Bryan yang sudah menyusun agendanya untuk memanggil Vian ke perusahaan saat jam makan siang.
__ADS_1
"Terus Julian siapa yang jaga?" tanya Kevin.
"Bener juga" "Pusing gue jadinya"
Bryan tidak tau harus berbuat apa lagi. Saat dirinya mau meminta Vian datang ke perusahaan untuk menceritakan siapa orang yang telah berbuat kasar kepada Julian di mall, di satu sisi Julian akan tinggal sendirian. Benar benar makan bua simalakama Bryan saat ini.
Kevin memarkir mobil di bestman. Mereka sekarang tidak memiliki agenda untuk pergi keluar. Seharian ini Bryan akan berada di perusahaan saja. Dia akan memeriksa semua laporan yang masuk. Laporan laporan yang sudah bertumpuk karena selama lima hari kemaren Bryan sudah melakukan pekerjaan perjalanan bisnis.
"Itu apaa Bryan?" tanya Kevin saat melihat Bryan menenteng sesuatu di tangannya.
"Sepertinya itu kotak nasi?" tebak Kevin dengan santai.
"Ya, mau apa lagi kalau bukan kotak nasi" jawab Bryan.
Bryan mengangkat kotak bekalnya di depan wajah Kevin.
"Bekal makan siang dari istri tercinta" ujar Bryan dengan nada gembira dan senang karena membawa bekal makan siang yang dibuat langsung oleh istri tercintanya itu.
"Ye lah yang punya istri cantik, bisa masak, mandiri lagi" kata Kevin memuji Julian.
"Sudah, setiap hari malahan gue bersyukur sama Tuhan karena sudah mendapatkan Julian" jawab jujur Bryan yang memang benar melakukan semua itu.
"Oh ya Bryan. Apa loe sudah memikirkan bagaimana caranya loe untuk bawa Julian ke mansion utama?" tanya Kevin.
"Gue nggak mau sesuatu terjadi nantinya dan membuat loe menjadi rugi sendiri" lanjut Kevin mengingatkan Bryan untuk memikirkan bagaimana cara supaya Bryan bisa membawa Julian ke mansion utama keluarga Witama.
Bryan terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh Kevin.
"Sejujurnya gue sudah memikirkan hal itu. Tetapi sayangnya semuanya sepertinya akan menjadi jalan buntu." jawab Bryan.
Mereka berdua sudah berada di depan ruangan Bryan.
"Loe taukan Mami bagaimana jadi orang?" kata Bryan.
Kevin mengangguk, Kevin dan Felix adalah saksi hidup dimana kisah cinta Bryan harus di atur oleh Nyonya besar Witama. Bryan kabur dari rumah dan pada akhirnya menikahi Julian, semua itu adalah akibat dari Nyonya besar Witama yang meminta Bryan untuk menikah dengan wanita pilihan Nyonya besar Witama.
__ADS_1
"Karena gue tau Nyonya besar bagaimananya makanya gue ngingetin loe untuk mulai memikirkan bagaimana loe bisa membawa Julian ke mansion utama" kata Kevin menjelaskan maksudnya supaya meminta Bryan memikirkan cara membawa Julian pulang ke mansion utama keluarga Witama..
"Sabar gue pasti akan mencari cara untuk membawa Julian ke mansion utama" kata Bryan.
Bryan membuka pintu ruang kerjanya. Dia menaruh kotak bekal makanan di atas meja kerjanya. Dia sangat ingin melihat kotak bekal itu setiap menit.
Bryan menukar pakaian yang dipakainya dari rumah dengan pakaian miliknya yang sudah disediakan di dalam kame ruang istirahat. Dalam sekejap Bryan sudah berubah penampilan. Bryan sudah berubah dari tampilan seorang karyawan biasa menjadi seorang ceo hebat.
Bryan kembali menuju meja kerjanya. Dia harus melahap semua dokumen dokumen berupa laporan dan permohonan kerja sama dari perusahaan lain. Target Bryan dia harus menyelesaikan semua dokumen dan juga laporan hari ini juga. Sehingga besok dia fokus untuk menanyai Vian tentang apa yang terjadi kemaren di mall.
"Huf ngerinya ini tumpukan" kata Bryan saat melihat tumpukan dokumen dan juga laporan yang harus diselesaikannya itu.
"Gue harus bisa, semangat Bryan. Jangan kalah dengan Julian" Bryan menyemangati dirinya sendiri, dia membandingkan dirinya dengan Julian. Istrinya yang tidak memiliki kata menyerah dalam kamus hidupnya itu.
Bryan memulai pekerjaannya hari itu. Dia sangat bersemangat sekali. Dia membayangkan Julian yang juga sedang bekerja dengan semangatnya di perusahaan pesaing bisnis Bryan.
"Nona Julian?" tanya manager HRD kepada Julian.
Dari ketiga karyawan yang diterima baru baru ini. Julian merupakan karyawan paling terakhir yang dipanggil masuk ke dalam ruangan HRD untuk memberitahukan pekerjaan Julian pada divisi mana di perusahaan itu.
"Ya, Julian" kata Julian dengan nada dingin. Suara dan gestur tubuh Julian memperlihatkan kalau dia bukan orang yang bisa disemena menakan. Manager HRD kaget melihat sikap dan tingkah Julian saat ini.
"Nona Julian, kamu saya tempatkan di tempat yang sama dengan Nona Vian, dibagian pengadaan barang" ujar manager HRD memberitahukan dimana posisi Julian bekerja di perusahaan.
"Baik Bu" jawab Julia simple saja.
"Selamat bergabung di perusahaan kami Nona Julian. Kalau ada apa apa silahkan hubungi saya" kata Manager HRD dengan sangat sopan kepada Julian.
Julian kemudian berjalan keluar dari ruangan HRD. Dia sudah di tunggu oleh Vian di depan ruangan.
"Dimana?" tanya Vian sudah tidak sabaran.
"Bareng dong" jawab Julian setengah bersorak.
Julian dan Vian kemudian berpelukan. Mereka sangat senang bisa satu divisi. Bagi Julian dia senang karena sahabatnya Vian bisa terus bersama dengan dirinya. Sedangkan di sisi Vian, selain alasan yang sama dengan Julian, pekerjaan mengawal Julian yang diberikan oleh Bryan bisa dilakukannya dengan lebih mudah lagi
__ADS_1
Julian dan Vian kemudian menuju bagian tempat mereka bekerja. Julian dan Vian langsung bergabung dengan rekan rekan mereka yang lebih dahulu bekerja di sana. Julian dan Vian yang memang sangat luwes orangnya merasa tidak terlalu sulit untuk sosialisasi dengan pekerja di bagian divisi tersebut.