
"Sayang, aku pulang" ujar Byan dengan menjinjing sebuah kantong kresek warna hitam di tangan kanannya.
Bryan sangat bahagia karena hari ini dia bisa membawa bekal untuk makan malam dirinya dan Julian. Selama ini Bryan menahan nahan hatinya untuk bisa membawa bekal pulang ke rumah. Bukannya karena Bryan ingin menutupi siapa dirinya lagi, tetapi Bryan tidak bisa membawa makanan pulang ke rumah, karena Julian pasti akan langsung marah kepada dirinya.
Julian akan mengatakan kalau dirinya menghambur hamburkan uang saja, karena Julian selalu memasak menu makan malam, untuk mereka makan berdua. Tetapi kali ini berbeda, Bryan tetap membeli bekal makanan karena dia ingin membahagiakan istri cantiknya itu. Bryan akan menghadapi kemarahan Julian nantinya. Dia akan memberikan jawaban yang masuk akal kepada Julian, sebagai pembelaan diri karena sudah membawa makanan pulang ke rumah.
Julian yang sedang menata makanan super sederhana yang baru saja siap di masaknya sebentar ini, langsung saja bergegas menuju pintu rumah. Julian tidak ingin suaminya itu menunggu terlalu lama di depan pintu. Bisa bisa nanti para jendis jendis yang rumah kontrakannya tepat di depan kontrakan Julian akan melirik melirik ke arah suami tampannya tersebut. Julian tidak ingin berbagi kesenangan mata dengan para jendis jendis di luar sana. Julian ingin memiliki suami tampannya itu sendiri saja, tanpa diganggu oleh orang lain.
"Jeng jeng jeng jeng"
"Sayang ini"
Byan memberikan kantong kresek yang dibawanya tadi kepada Julian.
Julian menatap lama ke kantong kresek yang di angkat oleh suaminya itu tepat di depan matanya.
Bryan menggoyang goyang kantong kresek tersebut saat melihat tidak adanya respon dari Julian untuk mengambil kantong yang diangkatnya.
"Sayang ini menu makan malam kita" kata Bryan dengan nada bangga karena sudah berhasil membawa pulang bekal makan malam untuk mereka santap berdua.
Julian menggeleng gelengkan kepalanya. Dia berusaha mencerna apa yang dikatakan oleh Bryan kepada dirinya. Julian tidak ingin terlihat seperti orang linglung. Dia tersenyum saat sudah bisa mencerna apa yang dikatakan oleh suaminya tersebut.
"Kok beli?" ujar Julian sambil menatap Bryan.
"Sayang, jangan marah dulu. ini aku beli karena aku mendapatkan kelebihan uang dari bos. Makanya aku beli makanan ini untuk kita berdua" ujar Bryan memberikan alasan yang masuk akal kepada Julian
Julian menatap ke arah Bryan. Bryan mengangguk meyakinkan Julian dengan alasan yang diberikan oleh dirinya tadi.
__ADS_1
"Makasi sayangku. Mari kita makan"
Julian menggamit tangan Bryan dan membawanya pergi menuju meja makan sederhana yang memang sudah ada juga di kontrakannya saat dia pertama sekali mengontrak di rumah kecil tersebut.
"Wow kamu masak sayang?" ujar Bryan saat melihat ada hidangan makan malam dengan menu sederhana yang baru kali ini dilihat oleh Bryan terhidang di atas meja makan.
Biasanya menu menu yang dilihat oleh Bryan terhidang di meja makan adalah menu menu super spesial yang dimasak oleh koki hotel dan restoran bintang lima yang dimiliki keluarga besar Witama.
"Maaf sayang hanya bisa masak ini"
Julia menekurkan kepalanya dalam dalam, takut menatap wajah kecewa suaminya itu saat melihat menu makanan yang hanya telor balado dicampur kentang dan tahu. Serta sayur daun kelor yang tadi di ambil Julian di pekarangan rumahnya yang kecil tersebut.
"Sayang, jangan menekurkan kepala kamu. Apapun yang kamu hidangkan akan aku makan karena aku memang sangat sangat menyukai apapun yang kamu masak. Jangan bersedih seperti ini sayang"
Bryan membawa Julian ke dalam pelukannya. Dia tidak mau Julian bersedih, karena bagi Bryan, apapun yang disiapkan oleh Julian pasti akan dimakannya karena Julian membuat dengan penuh rasa ikhlas. Apalagi Bryan sangat tahu bagaimana perjuangan Julian di luar sana untuk menghemat pengeluarannya.
"Makasi sayang" Julian mengusap air matanya yang menetes tersebut. Julian sangat bersyukur sekali mendapatkan suami seperti Bryan yang sama sekali tidak menuntut banyak untuk menu menu yang dihidangkan oleh Julian sebagai menu sarapan dan makan malamnya.
"Bagaimana Mami? Apa Mami sudah bertemu dengan Bryan?"
Tuan besar Witama bertanya kepada istrinya sambil melihat ke arah Nyonya besar Witama yang sekarang sedang menyeduh english tea kesukaan suaminya.
Mami mengangguk.
"Terus?" Papi mencecar Mami dengan pertanyaan pertanyaan.
"Dia nggak mau pulang Papi." jawab Mami dengan hanya satu kalimat final saja.
__ADS_1
"Dia masih marah sama kita?" Papi semakin penasaran dengan jawaban yang diberikan oleh Mami kepada dirinya.
Mami menggeleng mendengar pertanyaan Papi selanjutnya. Papi menatap Mami, menuntut penjelasan lebih dari jawaban yang diberikan Mami kepada dirinya.
"Dia hanya masih belum bisa pulang. Katanya ada saatnya dia pulang" ujar Mami menjawab keingintahuan Papi atas semua pertanyaan.
Papi hanya bisa menggeleng gelengkan kepalanya dengan lemah. Akibat keegoisan mereka sebagai orang tua membuat anak satu satunya sekaligus penerus perusahaan wiratama keluar dari dalam mansion mewah yang memiliki fasilitas yang luar biasa mewahnya itu.
"Apa kita terlalu keras terhadap Bryan, Mami?" kata Papi dengan wajah lesu. Wajah keputusasaan seorang Ayah karena kehilangan putra yang menjadi kebanggaannya.
"Papi tenang saja. Kita tida kehilangan Bryan sebagai pewaris. Bryan tetap datang ke perusahaan menjalankan tugasnya."
"Dia hanya pergi dari sini untuk menenangkan pikirannya saja."
"Papi jangan cemaskan itu"
Mami menyandarkan kepalanya ke dada bidang suami tercintanya itu. Suami yang dinikahinya sebelum memiliki apa apa seperti sekarang ini.
"Syukurlah Mami, anak itu masih ingat dengan tanggung jawabnya" jawab Papi dengan nada lemah. Papi tidak akan bisa mengurus semua perusahaannya sendirian. Dia memang membutuhkan Bryan untuk mengurus perusahaan utama.
Papi mengubah posisi duduknya. Papi memilih untuk melihat ke arah Mami dengan tatapan tajam. Mami yang melihat cara pandang Papi berubah mengangkat alisnya dengan maksud bertanya kepada Papi
Papi meraih tangan istrinya itu. "Mi, Papi tahu kalau Mami sibuk mencarikan calon istri untuk Bryan. Tapi apakah Papi bisa memohon kepada Mami untuk satu hal?"
"Apa?" ujar Mami dengan suara yang hampir sama sekali tidak terdengar.
"Papi berharap Mami menghentikan sebentar keinginan Mami untuk mencarikan Bryan istri. Papi ingin dia kembali ke mansion kita ini" ujar Papi mengutarakan permintaannya kepada Mami.
__ADS_1
Mami terdiam saat mendengar apa yang diminta suaminya itu. Papi menatap Mami dengan tatapan memohon. Papi sudah tahu penyebab utama Bryan keluar dari mansion utama. Papi sudah menghubungi Kevin asisten baru Bryan. Kevin sudah memberitahukan semuanya kepada Papi.
"Baik Papi. Mami setuju dengan apa yang Papi minta" ujar Mami yang pada akhirnya telah mengambil keputusan yang terbaik untuk perusahaan dan yang paling utama untuk keutuha keluarga Witama