
MANSION UTAMA WITAMA
Tuan besar Witama berjalan masuk dengan sangat cepat dan tergesa gesa ke dalam mansion. Tania yang melihat tingkah dan gerak gerik Papinya itu menjadi sangat heran sekali. Beribu ribu pertanyaan bergelantungan di otaknya. Tetapi Tania tidak punya keberanian yang kuat untuk mencari tau apa penyebab Papinya bisa berjalan cepat dan bertingkah laku tidak tenang seperti sekarang ini.
"Ada apa dengan Papi ya? Kenapa semenjak tau kalau kakak sudah menikah Papi menjadi aneh seperti sekarang ini?"
"Apa Papi tidak suka Kakak menikah dengan Julian? Apa karena Julian tidak satu kelas sosial dengan keluarga ini sehingga Papi menjadi seperti sekarang? Kalau memang gara gara itu, Papi tidak ada bedanya dengan Mami. Menyesal gue ngasih tau hal ini ke Papi" ujar Tania berkata sendirian sambil masuk ke dalam mansion menuju kamarnya yang terletak di lantai tiga mansion mewah itu.
"tapi rasanya itu tidak mungkin, Papi bukan orang yang seperti itu, aku sangat tau bagaimana sifat Papi"
"aku yakin kalau pasti ada apa apanya. pasti ada penyebab sehingga Papi bersikap seperti ini"
"tapi bagaimana cara aku mencari taunya ya, aku tidak tau harus mulai dari mana. aku bener bener nggak se pengalaman Kak Bryan kalau masalah seperti ini, kak Bryan sangat hebat dalam bidang ini" lanjut Tania mengomrl sendirian di kamar sambil berjalan bolak balik di dalam kamarnya yang luas tersebut.
"kalau tanya kak Bryan nggak akan mungkin ini masalah ada kaitannya dengan kak Bryan. kalau aku kasih tau pasti kak Bryan akan tanya ke Papi"
"bisa makin runyam ini masalah" lanjut Tania berkata sendirian.
Tania sibuk dengan pemikirannya sendiri sekarang. Dia benar benar tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Permasalahan ini hanya bisa diyakini oleh Tania akan berjalan sangat alot. Sehingga Tania hanya bisa memantaunya saja.
Sedangkan Tuan besar Witama yang sudah berada di dalam ruang kerjanya langsung berjalan menuju brangkas rahasia yang di simpan nya secara rapi. Hanya Tuan besar Witama saja yang tau dimana dirinya menaruh brangkas itu. Selain Tuan besar Witama maka tidak ada satupun orang yang tau lagi.
"Bryan, sejujurnya Papi sangat senang kamu menikah dengan wanita baik seperti Julian. Tetapi maafkan Papi nak, karena suatu hal pada masa lalu, membuat Papi tidak bisa merestui pernikahan kamu" ujar Tuan besar Witama dengan nada lemah dan penuh penyesalan. Tuan Witama tidak menyangka hal ini akan terjadi. Hal yang sangat rumit penyelesaiannya.
Tuan besar Witama kemudian membuka brangkas ukuran menengah yang di letakkan nya di belakang lukisan Bryan waktu masih berumur tiga tahun. Aura kepemimpinan dan juga CEO sudah terlihat jelas semenjak Bryan dari kecil. Tuan besar Witama sampai kagum menatap lukisan anaknya itu.
Tuan besar Witama menarik sebuah map kecil yang di dalamnya berisi sebuah surat yang sudah puluhan tahun berada di dalam brangkas tersebut. Surat yang sudah sangat lama tidak dilihat lihat lagi oleh Tuan besar Witama.
__ADS_1
Tuan besar Witama mengeluarkan surat tersebut dari dalam map coklat yang membungkus surat itu dengan sangat rapi selama ini. Map yang sudah menjaga sebuah rahasia yang memang harus disimpan rapat oleh Tuan besar Witama.
Tuan besar Witama kembali membaca surat itu untuk ke tiga kalinya semenjak surat tersebut ditandatangani oleh Tuan Witama dan Tuan Demitri.
"Bagaimana cara saya menyampaikan kepada Tuan Demitri tentang kejadian ini. Bisa bisa semuanya menjadi hancur" kata Tuan besar Witama sambil menautkan jari jari tangannya.
Tuan besar Witama memeras otaknya untuk berfikir. Dia tidak mungkin membiarkan saja apa yang terjadi sekarang ini. Dia harus mengatakan apa yang terjadi kepada Tuan Demitri.
Tuan besar Witama meraih ponselnya. Dia sudah mencari nomor ponsel Tuan Demitri. Tapi sebuah keraguan kembali hadir di dalam hati Tuan beaar Witama. Tuan besar Witama belum siap kehilangan apapun dalam hidupnya. Tuan beaar Witama kembali menaruh ponselnya ke atas meja kerjanya. Dia hanya bisa menatap ke arah map coklat dan ke arah ponsel miliknya itu. Dua pilihan sulit tersaji di depan Tuan besar Witama hari ini.
"Arghhhhhhhhhh. Kenapa pilihan seperti ini yang diberikan kepada hamba ya Tuhan. Sebuah pilihan yang luar biasa sulitnya. Apa yang harus hamba lakukan Tuhan" kata Tuan vesar Witama sambil menghadapkan wajahnya ke arah langit langit ruang kerja.
"Hamba bukan menolak untuk di uji Tuhan, tapi ini ujian yang luar biasa. Tidak hanya hamba yang akan menerima akibatnya Tuhan, tapi banyak nyawa yang akan menanggungnya Tuhan" lanjut Tuan besar Witama.
Tuan besar Witama mengucapkan semua yang dirasakannya saat ini. Dia benar benar tidak tau harus melakukan apa lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi, maka Tuan beaar Witama harus menanggung semua konsekuensinya. Dia hanya bisa memberikan suatu hal yang terbaik yang masih bisa dilakukannya. Tapi hal apa itu, Tuan besar Witama masih belum mengetahuinya.
"Tapi kalau kasih tau Mami, maka hal pertama yang akan muncul adalah Mami pasti akan marah marah karena Bryan menikah tidak dengan orang yang satu level dengan keluarga mereka. Hal itu akan semakin mempersulit keadaan saja" saran yang diajukan oleh Tuan besar di bantah sendiri oleh dirinya.
"Kalau tidak dengan Mami dengan siapa lagi? Apa mungkin dengan Tania?" kata Tuan besar Witama yang teringat dengan anak perempuannya itu.
Tuan besar Witama sudah tidak bisa berpikiran jernih lagi. Semua pilihan yang sekarang ada di hadapannya adalah pilihan semu semua. Pilihan yang sangat banyak resikonya.
"Sekarang harus bagaimana?" kata Tuan besar Witama lagi.
Akhirnya hari ini Tuan besar Witama tidak menemukan sama sekali solusi yang akan dilakukan oleh dirinya. Tuan beaar Witama memilih untuk diam dan tidak melakukan tindakan apa apa. Tuan Witama akan melihat respon yang diberikan oleh keluarga Demitri. Setelah ada respon dari keluarga itu barulah Tuan Witama akan memikirkan kembali bagaimana cara mengatasi masalah itu.
"penyesalan memang selalu terakhir, kalau di awal pendaftaran namanya" kata Tuan besar Witama, sambil meletakkan surat itu ke atas meja kembali
__ADS_1
Tok tok tok tok. Terdengar bunyi ketukan pintu dari arah luar ruang kerja Tuan besar Witama. Tuan besar bergegas kembali memasukkan surat tersebut ke tempatnya. Dia tidak mau ada orang lain yang mengetahui hal ini. Ntah besok besoknya saat Tuan besar Witama terpaksa menyampaikan permasalahan itu ke orang lain saat dirinya sudah buntu memikirkan apa yang terjadi.
Tuan beser Witama menekan sebuah tombol yang ada di bawah meja kerjanya itu. Pintu ruang kerja Tuan Witama kemudian terbuka. Nyonya besar Witama berjalan masuk ke dalam ruang kerja suaminya itu dengan anggunnya.
"Sayang, kenapa nggak langsung ke kamar dari luar? Nggak biasanya kamu langsung masuk ke dalam ruang kerja" kata nyonya besar bertanya dengan heran akan kelakuan suaminya itu.
"Maaf sayang, ada urusan yang harus aku kerjakan secepatnya tadi. Makanya aku langsung menuju ruang kerja tidak ke kamar dulu" jawab Tuan besar sambil pura pura merapikan file file yang ada di atas meja kerhanya itu.
"Oh begitu. Aku kira ada pembicaraan apa lagi yang buat kamu menjadi pusing seperti ini sayang" kata nyonya besar.
"Sekarang apa sudah selesai?" kata Nyonya besar selanjutnya.
"Sudah, apa sudah masuk jam makan malam?" tanya Tuan besar yang tidak bisa mengenal orientasi waktu saat ini.
"Belum, masih ada satu jam lagi menjelang waktu jam makan malam"
"Sekarang suamiku yang sudah sangat lelah bekerja seharian ini harus mandi terlebih dahulu." ujar Nyonya besar sambil menggandeng tangan suaminya keluar dari dalam ruang kerja.
"Kamu udah mandi?" tanya Tuan besar.
"Nggak nampak udah cantik gini" jawab Nyonya besar sambil tertawa dan tersenyum simpul kepada Tuan besar.
"Hahaha hahaha hahaha. Kamu selalu tampil cantik sayang, makanya nggak tau beda antara sudah mandi dengan belum mandinya" jawab Tuan besar sambil tersenyum simpul ke arah istri cantiknya yang terkadang sangat egois itu.
"Ye lah, pintar kali lah tu jawabnya" kata Nyonya besar lagi.
Tepat setelah pembicaraan yang nggak ada artinya antara Tuan dan Nyonya besar witama selesai mereka berdua berjalan meninggalkan ruang kerja Tuan Witama. Mereka berdua akan menuju kamar utama.
__ADS_1