
"Julian, bagaimana kalau aku manggil kamu dengan panggilan kakak saja, gimana?" tanya Tania yang merasa tidak sopan memanggil Julian dengan panggilan nama. Padahal tania tau kalau Julian adalah istri dari kakaknya. Sehingga otomatis Julian menjadi kakak bagi Tania.
"Senyaman kamu aja Tania. Kalau aku tipe menurut saja. Asalkan jangan kau saja. Haha haha" jawab Julian yang memang tidak pernah ribet dengan panggilan orang kepada dirinya, bagi Julian asalkan itu sopan, maka Julian tidak akan pernah mempermasalahkan panggilan tersebut.
"Tania, hidup udah ribet dengan semua permasalahan dan konflik yang ada, jadi hal sepele nggak perlu rasanya dijadikan permasalahan" Julian memberikan pandangannya kepada Tania.
Vian yang memang sangat hobby mendengarkan pandangan pandangan dari Julian tentang kehidupan akan langsung serius saat Julian mulai berbicara seperti itu. Vian selalu memiliki pemikiran kalau Julian bukanlah apa yang ditampilkan nya seperti sekarang ini. Vian sangat yakin kalau Julian adalah seseorang yang sukses sebenarnya.
"Tapi ya Tania. Seseorang akan memandang suatu permasalahan dari sudut yang berbeda apa bila dia tidak merasakan pahitnya sebuah kehidupan" lanjut Julian.
"Ini maaf ya Tania. Sekali lagi maaf" kata Julian kepada Tania.
Tania mengangguk. Tania sekarang memiliki kesimpulan yang sama dengan Vian. Julian sangat menarik dan terlihat luar biasa pintar dan memiliki pandangan hidup yang tidak dimiliki oleh orang yang kelasnya sama dengan dirinya.
"Contoh sederhana saja, bagi kamu mungkin, meninggalkan makanan saat kamu makan adalah hal biasa saja. Atau contoh lainnya, saat di rumah kau, pelayan sudah masak berbagai masakan yang lezat lezat, tiba tiba saja kamu nggak selera dan memilih untuk makan di luar saja." Julian menjeda kalimatnya dia memperhatikan Tania dan Vian
Ternyata kedua sahabatnya itu sedang memperhatikan apa yang dikatakan oleh dirinya saat ini.
"Bagi kamu dua contoh di atas adalah permasalahan yang gampang gampang aja. Berbeda loh dengan orang seperti aku, aku tidak pernah meninggalkan makanan atau makan yang disisain, bukan karena pelit atau bagaimana nya, cuma aku tau betapa susahnya aku mendapatkan makanan itu, proses untuk mendapatkannya, memasaknya, aku sangat menghargai hal itu" lanjut Julian kembali.
Julian diam sesaat. Dia tidak ingin terlihat menggurui Tania, karena bagaimanapun orang lain berhak menentukan kehidupannya sendiri, kebiasaannya sendiri tanpa campur tangan orang lain, sekalipun itu kerabat dekatnya sendiri.
"Ini sama dengan waktu Bryan pertama sekali masuk ke kehidupan gue" ujar Julian yang sudah kembali akan bercerita tentang kehidupannya sebagai pembelajaran bagi Tania dan Vian.
Tania yang mendengar nama kakaknya disebut, langsung semakin bersemangat untuk mendengarkan cerita Julian. Tetapi rasa semangat itu tidak di nampakkan oleh Tania di raut wajahnya.
"Jadi waktu itu gue siap masak. Masakan sangat sederhana, telur mata sapi pedas manis sama kalau nggak salah waktu itu goreng tahu. Itu masakan yang hari itu gue buat" kata Julian memulai ceritanya.
__ADS_1
"Bentar bentar, berhubung ceritanya akan semakin panjang, kita tambah pesanan dulu gimana?" kata Tania menawarkan kepada Julian dan Vian.
Tania merasa segan dengan pemilik warung ice krim, karena mereka akan mengobrol lama sedangkan es krim sudah habis. Makanya Tania menyarankan untuk memesan makanan kembali. Jadi, pemilik warung tidak perlu memandang mandang ke arah mereka nantinya.
"Gue setuju" jawab Vian.
"Sana gue setuju juga." jawab Julian kali ini.
Tania kemudian memanggil pelayan untuk membawa daftar menu kembali ke meja mereka. Ketiga wanita cantik itu kembali memesan cemilan, makanan, serta es krim kembali. Mereka kali ini memesan lebih banyak menu dari pada saat pertama kali datang.
"Baik Nona, silahkan tunggu pesanannya" ujar pelayan.
Pelayan kemudian berlalu dari hadapan mereka bertiga.
"Terus lanjutannya gimana Julian?" tanya Vian yang tidak ingin Tania yang bertanya dan membuat Julian menjadi curiga atau ada rasa tidak suka kepada Tania.
"Sampai mana tadi?" tanya Julian yang sedikit lupa akan ceritanya.
"Oh oke.". Julian sudah ingat kelanjutan dari ceritanya sendiri.
" Jadi waktu itu, kehidupan gue kan susah banget ya. Nggak bisa lagi di katakan susah saja, tapi harus pake banget, kalau bisa di tambah luar biasa belakangnya."
Tania nampak kaget mendengar apa yang dikatakan oleh Julian.
"Serius Kak, loe susah banget luar biasa waktu itu?" tanya Tania sangat kaget mendengar apa yang dikatakan oleh Julian sebentar ini.
"Ya, sangat susah sekali waktu itu. Kalau nggak percaya tanya Vian. Vian tau gimana susahnya gue saat itu" kata Julian.
__ADS_1
Tania melihat ke arah Vian. Vian mengangguk.
"Bener, bahkan untuk pergi kuliah saja harus jalan kaki, saking harus berhemat akan uang" kata Vian yang mengingat masa masa sulit Julian.
"Good Girl." Julian memberikan kedua jempolnya kepada Vian.
"Apa suami Kakak waktu itu belum bekerja?" tanya Tania lagi.
"Sama sekali belum. Bryan dapat pekerjaan setelah empat bulan ntah lima bulan menikah dengan gue. Gue lupa pastinya, pokoknya sekitar itu lah" kata Julian memberitahukan kepada Tania.
"Lama juga ya kak, suami kakak numpang hidup dengan kakak" ucap Tania yang sekarang sudah bisa membayangkan betapa banyak beban hidup yang ditanggung oleh Julian seorang diri.
"Kalau kita jadikan itu beban maka dia akan berat. Tapi kalau di bawa asik aja, sama sekali nggak jadi masalah" jawab Julian yang memang tidak pernah menjadikan Bryan sebagai beban hidupnya saat itu.
"Lagian suami sendiri dijadikan beban itu tidak baik. Dia ditakdirkan untuk kita ya udah kita harus Terima. Baik buruk yang jelas Terima" kata Julian lagi.
"Terus kelanjutan telor gimana?" tanya Vian yang penasaran dengan kasus telor dan tahu.
"Pas waktu itu dia kan makan bersisa. Sekali dua kali gue diemin aja dulu. Nah pas hari itu gue masak telor lagi. Masih juga disisain kan ya walaupun sedikit" kata Julian melanjutkan cerita telor dan tahu.
"Saat itu langsung gue tegur. Emangnya kalau makan wajib disisain ya? Terus dia jawab, emang kenapa? tanya dia balik gitukan ya." lanjut Julian
"Terus gue ngomonglah saa dia. Sebaik baiknya niat mau ngasih makan peliharaan, jangan yang sisa. Apa lagi sudah jelas kalau kita makan nggak boleh ada sisa. Gue gituin aja" kata Julian kemudian.
"Marah nggak Brya?" ujar Vian yang penasaran dengan tanggapan dari Tuan mudanya itu.
"Nggak. Dia hanya mengangguk angguk saja seperti mengerti dan paham apa yang gue katakan ke dia. Semenjak itu sampe sekarang, Bryan nggak pernah makan yang bersisa lagi. Dia pasti mengambil makanan sesuai kebutuhannya. Kalau kurang dia akan nambah" kata Julian menjelaskan perubahan yang terjadi dalam diri Bryan.
__ADS_1
Tania dan Vian setuju dengan apa yang dikatakan oleh Julian. Selama ini asal mereka makan bersama dengan Bryan, Bryan pasti akan memesan makanan yang dalam porsi besar, kalau sekarang tidak. Dia hanya memesan makanan yang dirasa oleh Bryan akan dihabiskan. Ternyata inilah penyebabnya. Julian sudah membuat Bryan berubah sikap.
Tiga orang pelayan datang untuk menghidangkan makanan yang tadi mereka pesan. Julian saat melihat wafell yang begitu nikmat langsung saja mengambil garpu kecil. Dia akan menikmati wafell yang di atasnya ada es krim coklat dan coklat leleh. Hidangan yang benar benar menggugah selera.