Istri Sah Tuan Muda

Istri Sah Tuan Muda
Istri Sah Tuan Muda #32


__ADS_3

"Loe kenapa kerja mati matian begini Julian?" tanya Vian saat melihat Julian yang ternyata juga mengambil pekerjaan sebagai asisten dosen.


"Loe udah kerja di supermarket, sekarang malah ikut ikutan menjadi asisten dosen. Ada apa?" lanjut Vian bertanya bertubi tubi kepada sahabatnya itu.


Vian tidak habis pikir melihat bagaimana Julian bekerja. Julian tidak peduli badannya harus kecapekan karena bekerja secara marathon dan tanpa henti. Ada saja yang dikerjakan oleh dirinya.


Julian hanya diam dan tersenyum saja menanggapi pertanyaan yang diajukan oleh Vian kepada dirinya. Ingin rasanya Julian untuk menjawab pertanyaan itu. Tetapi Julian tidak ingin, kalau dia menjelaskan apa yang terjadi kepada Vian, maka sudah bisa dipastikan Vian akan menolongnya seperti biasanya. Julian tidk ingin terus memberatkan sahabatnya itu.


"Hay, Julian, aku bertanya sama kamu. Kenapa nggak kamu jawab!!!!!!!!!!!!" teriak Vian yang setengah emosi dengan Julian.


Semua pembeli yang ada di dalam supermarket itu memandang ke arah Julian dan Vian. Mereka kaget saat mendengar Vian yang berteriak lumayan keras tersebut. Mereka mengira ada sesuatu yang terjadi di sana.


"Loe bisa nggak, untuk tidak teriak teriak kayak gitu. Malu tau. Semua orang nengok ke arah kita berdua" ujar Julian.


Vian melihat ke sekeliling mereka berdua. Ternyata memang benar, para pengunjung supermarket melihat ke arah mereka. Vian hanya bisa garuk garuk kepala saja. Tingkah anehnya berhasil membuat mereka berdua menjadi tatapan dan pandangan orang orang di sekitar mereka.


"Makanya loe jawab pertanyaan dari gue kenapa. Ini pake acara diam diam pula. Rahasia rahasia juga" kata Vian setengah kesal.


Julian berlalu dari hadapan sahabat sekaligus pengawalnya itu. Dia sama sekali tidak ambil peduli dengan apa yang dikatakan oleh Vian. Julian dengan sengaja melakukannya.


"Julian" ujar Vian dengan nada sedikit keras.


"Nanti jam makan siang" jawab Julian dengan santai dan melambaikan tangannya ke arah Vian.


Julian tidak ingin kehebohan antara dirinya dan Vian membuat mereka kembali menjadi tatapan orang orang yang ada di swalayan itu semua.


"Jadi ada apa? Kenapa loe mengambil semua job?" Vian kembali mengulang pertanyaan yang sama kepada Julian saat mereka sedang makan siang.


"Loe emang lah ya Vian. Nggak sabaran banget" ujar Julian mengomel.


"Kan janjinya pas makan siang. Sekarang kan sedang makan siang" jawab Vian tanpa mau menunda waktu lagi untuk mendengar jawaban dari Julian, tentang kenapa dirinya bisa mengambil semua job pekerjaan yang ada.


Julian menutup kotak makanannya. Dia menatap lurus ke arah Vian. Julian sebenarnya tidak ingin merahasiakan sesuatu kepada Julian, tetapi karena hal itu tadi yang membuat Julian terpaksa tidak langsung mengatakan apa apa kepada Vian.

__ADS_1


"Jadi sebenarnya gue mengambil semua job bukan karena apa apa. Loe tau sendirikan ya berapa uang untuk wisuda" tanya Julian kepada Vian.


Vian mengangguk, dia sangat tau berapa biaya wisuda itu. Julian tersenyum melihat Vian yang mengangguk itu.


"Makanya Vian, gara gara hal itu membuat aku, harus bekerja keras. Aku nggak mungkin minta ke Bryan untuk hal itu. Makanya aku lebih memilih untuk bekerja lebih giat lagi." Julian menjelaskan kepada Vian kenapa dirinya melakukan hal itu.


"Lagian gue juga tetap akan keluar rumah pagi. Makanya gue ambil pekerjaan asisten dosen itu." lanjut Julian.


"Jadi karena itu loe kerja banting tulang?" tanya Vian lagi.


"Ya. Pada intinya, gue nggak mau Bryan nanggung biaya wisuda gue, walaupun dia udah ngomong ke gue. Biarlah Bryan menanggung biaya rumah tangga gue dan dia saja. Untuk biaya gue pribadi ya harus gue" lanjut Julian menjelaskan.


"Jujur ya Vian. Gue sangat bahagia waktu mendengar dia mau menanggung biaya wisuda gue, tetapi gue tau kalau dia juga sudah menanggung biaya rumah. Makanya gue memilih untuk menanggung biaya wisuda gue sendiri" papar Julian kepada Vian dengan nada bangga bahwasanya dia memiliki seorang suami yang sangat bertanggung jawab sekali. Bryan yang gajinya tidaklah besar, bisa menawarkan diri untuk membiayai wisuda Julian.


"Jadi intinya sekarang, loe udah cinta sama suami loe?" tanya Vian sambil senyum senyum seperti seseorang yang benar benar kepo dengan percintaan sahabatnya.


"Apa harus gue jawab?" tanya Julian kembali sambil memainkan alis matanya.


"Loe emang sahabat yang kurang ajar ye. Harus pulak gue jawab pertanyaan yang nggak harus gue jawab" kata Julian sambil menimpuk lengan Vian dengan botol air mineral.


"Haha haha haha. Gimanapun gue tentu penasaran sama elo. Dulunya loe kan agak sedikit cuek sama Bryan" kata Vian yang susah menyusun kata kata. Dia takut Julian tersinggung dan membuat dirinya berada di dalam posisi yang sangat sulit nantinya.


"Loe lihat sendiri gimana perubahan gue ke Bryan" ujar Julian sambil berjalan berlalu meninggalkan Vian sendirian.


"Alah gilak loe. Cinta ya bilang cinta" teriak Vian yang tidak memperdulikan orang orang di sekitarnya lagi.


Julian sama sekali tidak memperdulikan teriakan dari Vian. Dia tetap acuh dan melanjutkan pekerjaannya. Hari ini Julian bertindak sebagai seorang kasir.


..................................................


Sudah satu bulan berlalu semenjak sidang terbuka disertasi Julian. Kehidupan Julian dan Bryan berjalan seperti biasa. Mereka berdua masih belum mencoba kehidupan seperti suami istri pada malam harinya. Hal ini dikarenakan karena Julian yang belum siap untuk melakukan hal itu. Beberapa kali Bryan memberikan kode melalui pesan, jawaban yang diberikan oleh Julian tetap sama. Tunggu wisuda dulu, setelah itu barulah Julian akan menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri secara seratus persen. Bryan yang paham kenapa Julian meminta hal itu kepada dirinya, memaklumi semuanya dengan sangat baik. Dia tau kalau Julian tidak ingin sedang mengandung menjalani wisudanya itu.


"Bryan" panggil Julian saat mereka sedang duduk berdua selesai makan malam.

__ADS_1


Makan malam yang sedikit lebih mewah dari pada biasanya. Hal itu disebabkan karena Bryan pulang dari bekerja membawa sop daging yang luar biasa nikmatnya.


Saking nikmatnya sop daging yang di bawa oleh Bryan, Bryan dan Julian saling berebutan satu dengan yang lainnya. Pemandangan yang miris tetapi ternyata romantis sekali. Beberapa kali mereka terlihat tertawa bahagia, karena daging yang loncat, atau daging yang sudah ada di atas sendok salah satu dari mereka bisa saja menghilang dari atas sendok itu. Pemandangan yang sangat sangat lucu yang membuat siapapun yang melihatnya pasti akan tertawa juga.


"Apa sayang? Apa ada sesuatu yang penting?" ujar Bryan sambil melihat ke arah Julian yang posisi duduknya tepat berada di depan Bryan.


"Hari Sabtu besok apa kamu ada kegiatan Bryan?" tanya Julian lagi sambil melihat ke arah Bryan.


"Hari sabtu rasanya tidak ada. Kenapa?" tanya Bryan yang sekarang akan fokus mendengar apa yang akan dikatakan oleh Julian kepada dirinya.


"Rencananya hari sabtu itu adalah hari wisuda aku di kampus" kata Julian memberitahukan kepada Bryan kegiatan apa yang akan dilakukannya pada hari sabtu itu.


"Apa sudah kamu bayar uang wisuda?" tanya Bryan yang sampai sekarang belum diminta oleh Julian uang untuk membayar wisuda Julian.


"Sudah, minggu kemaren" jawab Julian dengan sangat tenang.


"Wah kok bisa? Tapi katanya kamu akan minta sama aku uang untuk pembayaran wisuda" ujar Bryan yang kaget mendengar kalau Julian sudah membayar uang wisudanya tanpa meminta kepada Bryan.


"Lupa. Lagian aku juga ada uang. Jadi ya aku pakai aja dulu" jawab Julian dengan kikuk.


Julian tidak menyangka kalau Bryan akan menanyakan kepada dirinya perihal uang wisuda. Dalam bayangan Julian, Bryan akan melupakan hal itu.


"Dasar kamu ya" ujar Bryan.


Bryan menggeleng gelengkan kepalanya. Dia tidak menyangka kalau Julian tetap akan membayar sendiri uang wisudanya itu.


"Gimana, kamu bisa datang tidak?" tanya Julian tidak sabaran mendengar jawaban dari Bryan.


"Ya, aku pasti akan datang. Sidang terbuka saja aku datang, apa lagi wisuda" ujar Bryan.


"makasi Bryan." kata Julian sambil tersenyum kepada Bryan.


Julian sangat bahagia sekali, Bryan bisa hadir dalam wisudanya. Walaupun pada akhir nya Bryan hadir memakai masker, tetapi bagi Julian itu tidak menjadi masalah sama sekali.

__ADS_1


__ADS_2