
Bryan tersenyum. Cup. Sebuah kecupan singkat mendarat di bibir indah Julian. Julian memegang bibirnya. Dia sangat bahagia di kecup Bryan di depan banyak orang. Padahal sebelumnya dia malu kalau menunjukkan kemesraan di depan orang lain. Tapi kali ini beda. Julian harus melakukannya.
Para karyawan wanita yang melihat adegan mesra tersebut hanya bisa mengurut dada mereka. Ternyata pria tampan yang dari tadi menyita waktu mereka bahkan membuat mereka seperti melihat artis luar negeri sudah dimiliki oleh rekan kerja mereka sendiri.
"Gue kira singel ternyata double" ujar salah satu karyawan wanita yang berdiri paling depan. Karyawan itu berbalik untuk pulang ke rumah nya.
"Huft kalau tau udah ada yang punya, gue nggak akan buang buang waktu untuk nengok tu orang" ujar yang lainnya.
Semua karyawan wanita bubar dari tempat mereka semula. Mereka keluar dari perusahaan secara beramai ramai.
"Akhirnya pertunjukan itu selesai juga" kata Julian saat melihat rekan rekannya berjalan keluar dari dalam gedung perusahaan.
"Pertunjukan apa sayang?" tanya Bryan yang pura pura tidak tau dengan maksud perkataan dari Julian tadi.
"Is males pake nggak tau segala." kesal Julian saat mendengar pertanyaan dari Bryan.
"Haha haha haha" Bryan tertawa puas mendengar nada suara kesal Julian.
"Ais puas kali lah dia, sampai tertawa seperti itu sekali. Dinikmati banget pak, di plototin sama cewek cewek cantik" lanjut Julian yang sama sekali tidak menyimpan kekesalan sekaligus kemarahannya itu.
"Nggak juga udah biasa" jawab Bryan dengan dinginnya.
"Aku lebih senang saat di plotitin kamu, apalagi kalau sedang tidak pakai apa apa" ujar Bryan mulai berkata yang ke arah arah negatif.
Vian yang mendengar perkataan dari bos besarnya itu hanya bisa menahan tawanya. Dia tidak mau bermasalah dengan Bryan saat dirinya tertawa tanpa bisa di tahan. Dia tidak ingin hal bodoh itu menjadi umpan bos besarnya untuk marah.
"Sayang jangan mulai. Sore ini baru, lagian orang masih rame" kata Julian yang sudah langsung melupakan tragedi karyawan wanita memplototi Bryan saat menjemput Julian ke perusahaan.
"Jadi kalau malam boleh? Gitukan maksudnya?" kata Bryan dengan percaya dirinya berkata kepada Julian.
"Serah deh"
"Sayang ayuk pulang. Vian udah mau ke bandara itu. Selagi kita masih di sini, dia nggak akan pergi pergi itu" kata Julian yang sangat tau bagaimana seorang Vian bersikap dan bertindak selama ini. Vian memang tidak akan pergi sebelum tuan dan nyonya mudanya pergi dari sana.
__ADS_1
"Kami duluan Vian" kata Bryan saat dirinya sudah di atas motor.
"Hati hati di jalan Vian" kali ini Julian yang memberikan pesan kepada Vian.
"Oke sip. Terimakasih" ujar Vian yang tidak tau harus menjawab bagaimana kepada dua orang yang berada di depannya saat ini. Vian berada di dalam posisi yang sulit sekarang
Bryan dan Julian kemudian berlalu dari hadapan Vian. Mereka berdua akan menuju rumah untuk beristirahat setelah lelah seharian beraktifitas dan bekerja. Sedangkan Vian akan menjemput orang yang sudah menunggunya di bandara.
"Sayang, kamu capek?" tanya Bryan yang merasakan sesuatu di sana yang ingin di lepaskan secepatnya.
"Emang kenapa?" lanjut Julian bertanya.
"Nggak ada kenapa kenapa" jawab Bryan yang tidak lagi melanjutkan apa yang diinginkannya saat ini.
"Sayang aku tau apa yang kamu mau, tapi sayangnya hari ini aku masih kedatangan tamu. Jadi, besok ya kalau tamunya udah beneran hilang, baru aku kasih kamu" jawab Julian.
Julian sebenarnya juga sudah sangat rindu kepada Bryan junior. Tapi mau bagaimana tamu yang tak diundang itu datang. Jadi mau tidak mau, suka tidak suka, Julian terpaksa harus pasrah saja menerima kedatangan tamu itu.
"Oke sayang. Tak apa. Tapi kalau menyusu aja bisa kan ya?" tanya Bryan yang masih mencoba peruntungannya dengan cara yang lain.
"Haha haha haha. Tau aja" ujar Bryan sambil tertawa bahagia mendengar apa hasil analisa dari seorang Julian.
"Tau lah sayang. Kan udah pernah bablas sekali" kata Julian mengingatkan Bryan kalau mereka memang pernah ke balasan dan membuat mereka terpaksa berhubungan di saat hari hari menjelang Julian menjadi bersih kembali.
"Kita mau makan di luar, atau kamu mau masak?" tanya Bryan saat mereka sudah berada di pusat kota.
Bryan memang sengaja tidak mengemudikan motornya menuju rumah mereka, tetapi Bryan mengarahkan motornya menuju pusat kota yang banyak menjual makanan di sepanjang jalan itu.
"Masak ajalah sayang. Aku sedang nggak minat untuk makan di luar. Aku mau masak nasi goreng pakai mie goreng dan ayam goreng" ujar Julian menyebutkan menu makan malam apa yang akan dibuatnya untuk dirinya dan Bryan makan malam nanti.
"Oh Oke sip. Aku setuju. Goreng kerupuk ya, biar makannya makin enak" kata Bryan memberikan tambahan menu yang harus disiapkan oleh Julian nanti
"Rasanya kerupuk masih ada di dalam toples. Jadi nggak perlu masak lagi" jawab Julian mengingat kemaren dia baru saja menggoreng kerupuk diminta oleh Bryan.
__ADS_1
Tiba tiba semua mobil dan motor yang berada di depan Julian dan Bryan berjalan pelan, seperti keadaan yang sedang macet parah.
"Tumben macet di sini sayang. Ada apa ini?" tanya Julian yang kaget di daerah yang biasanya tidak pernah macet itu mendadak menjadi macet dalam seketika.
"Aku juga tidak mengerti sayang, macet apa ini." jawab Bryan.
"Untung pake motor, masih bisa nyelip sana sini. Coba kalau pakai mobil. Bisa bisa kita akan tertahan di sini cukup lama sekali sayang" jawab Julian dengan tenang.
Akhirnya motor yang dikendarai oleh Bryan tidak bisa lagi melanjutkan perjalanan mereka karena jalanan yang memang sudah berhenti total. Bryan memberhentikan motor yang dikendarai oleh dirinya tepat di samping sebuah mobil mewah.
Julian memeluk Bryan dengan sangat erat. Bahkan kedua tangannya menjadi bisa saling berpegangan di bagian depan perut Bryan karena Julian memeluk dengan sangat sangat kuat sekali
"Tania kamu jangan seperti mereka berdua kalau pacaran. Tengok aja itu, wanita itu meluk pria kayak nggak mau melepaskan saja" kata Papi Witama di dalam mobil
Memang kebetulan sekali motor yang dikendarai oleh Bryan berhenti tepat di samping mobil yang ditumpangi oleh Papi Witama dan Tania
Tania melihat ke arah orang yang dibicarakan oleh Papi. Tania lumayan kaget karena orang itu adalah kakaknya Bryan dan Kakak Iparnya Julian.
'Ya Tuhan, kenapa bisa bersebelahan gini coba'
'Semoga aja, kakak tidak membuka helm nya' kata Tania berdoa di dalam hatinya supaya Bryan tidak membuka helem nya sekarang karena sekarang bukanlah waktu yang tepat.
"Ada dengar Tania? Jangan hanya bengong kayak gitu" kata Papi Witama saat melihat sama sekali tidak ada reaksi yang diberikan oleh Tania kepada dirinya.
"Dengar Papi. Papi kira Tania budek sehingga tidak mendengar apa yang Papi katakan" kata Tania sambil tersenyum ke arah Papi.
"Oh ya, apa kamu sudah bertemu kakak kamu di perusahaan?" tanya Papi Witama.
"Sudah. Kakak terlihat sangat bahagia sekarang" ujar Tania yang tidak menutup nutupi kebahagiannya. Nada suara Tania benar benar memperlihatkan seseorang yang sedang bahagia.
"Ya kakak kamu memang akan selalu bahagia saat jauh dari tekanan Mami" jawab Papi yang setuju dengan alasan kata bahagia yang dikira seperti itu juga dalam kepala Tania.
"Ya Papi. Tania setuju" ujar Tania yang terpaksa main setuju saja atas apa yang dikatakan oleh Papi kepada dirinya.
__ADS_1
Akhirnya setela setengah jam, mobil dan kotor sudah bisa bergerak kembali. Mobil mewah itu berjalan lebih dahulu dari pada motor yang dikendarai Bryan. Sehingga Papi Witama tidak sempat melihat siapa yang mengemudikan motor itu.