Istri Sah Tuan Muda

Istri Sah Tuan Muda
Istri Sah Tuan Muda #56


__ADS_3

"Kalian berdua memanglah ya. Makan siang nggak ngajak ngajak gue. Apa salahnya kasih tau dan undang gue makan kek" kata Felix saat baru masuk ke dalam ruang kerja Bryan dan melihat Bryan serta Kevin yang sedang menatap bekal makanan yang terbuka di atas meja tamu.


"Lah kami mana tau loe mau datang ke kantor pusat. Kami kira sangat betah di kantor cabang setelah tidak mengikuti kegiatan sehari hari Julian lagi" kata Bryan sambil memindahkan nasi ke dalam piring maka.


"Ya ya ya" jawab Felix.


Kevin dan Felix bergantian mengisi piring mereka dengan menu bekal makan siang milik Bryan. Mereka bertiga kemudian makan dengan sangat lahap bekal makan siang yang sangat enak itu.


"Ini bener bener enak" kata Felix memuji masakan yang dibuat oleh Julian.


"Enak lah kalau makanan yang dibuat Julian tidak enak, mana mungkin berat badan gue bisa naik" jawab Bryan memuji istrinya yang luar biasa itu.


"Ya lah orang yang udah punya istri" komentar Felix sambil melirik ke arah Bryan.


Bryan yang dilirik memberikan senyuman penuh kemenangan kepada Felix dan Kevin. Hal ini semakin membuat Felix dan Kevin menyesal karena sudah bertanya kepada bos mereka itu.


Kevin merapikan semua peralatan makan. Dia memasukkan kembali rantang yang menjadi kotak bekal makanan, serta menaruh ke luar ruangan piring yang mereka pakai untuk tempat makan tadi.


"Vin, apa Vian ada cerita tentang kejadian yang menimpa Julian kemaren?" tanya Felix kepada Kevin.


"Jadi tujuan loe jauh jauh datang ke sini untuk bertanya itu?" tanya Bryan.


"Ya mau ngapain lagi" jawab Felix dengan santai.


"Tapi sayangnya usaha loe yang sudah bersusah susah datang ke sini tidak akan ada hasilnya." jawab Bryan sambil melirik ke arah Kevin.


Felix menatap tidak mengerti kepada Bryan dan Kevin. Felix sama sekali tidak tau apa maksud perkataan dari Bryan sebentar ini.


"Maksudnya apa?" tanya Felix.


"Gue males harus menceritakannya kembali. Tapi satu yang pasti, Vian tidak jadi pulang sama gue. Dia pulang naik taksi online" Kevin menjawab dengan jawaban singkat apa yang ditanyakan oleh Felix kepada dirinya dan Bryan.


"Huf gue kira ada" kaya Felix.


Felix menghembuskan nafasnya dengan cukup berat. Dia tidak menyangka kalau Vian tidak jadi pulang dengan Kevin ke rumah.


Bryan menatap ke arah Felix. Felix kembali menghembuskan nafasnya dengan berat saat dia menerima tatapan Bryan yang seperti itu.

__ADS_1


"Baiklah, jujur saat kejadian hari itu gue sempat mengirim pesan chat kepada Vian" kata Felix memilih untuk menceritakan apa yang diketahuinya kepada Bryan dan Kevin.


"Terus bagaimana hasilnya? Apa Vian mengatakan siapa yang melakukan tindakan bodoh itu kepada Julian?" tanya Bryan yang sudah tidak sabar lagi mendengar apa yang diketahui oleh Felix tentang kejadian yang menimpa dirinya itu.


Felix tidak mau bercerita. Dia memberikan ponselnya kepada Bryan. Bryan mengambil ponsel Felix. Dia membaca chat antara Felix dan Vian. Wajah Bryan langsung berubah saat membaca pesan chat tersebut. Bryan tidak menyangka kalau yang menjadi dalang dari kejadian itu adalah orang yang sangat dekat dengan dirinya.


"Ada apa ini? Siapa dalangnya?" kata Kevin yang heran melihat reaksi yang diberikan oleh Bryan saat membaca pesan chat Vian yang ada di ponsel Felix.


Bryan yang tidak sanggup mengatakan apa apa kepada Kevin, pada akhirnya hanya memberikan ponsel Felix kepada Kevin. Bryan menyuruh Kevin untuk membaca pesan chat itu sendirian


"Hah!!!!!! Nyonya besar????" kata Kevin yang tidak percaya saat membaca nama yang tertulis di chat itu.


"Seperti yang dikirim oleh Vian. Pelakunya adalah Mami" jawab Bryan.


"Apa loe yakin Nyonya besar bisa melakukan hal itu?" tanya Kevin yang masih tidak percaya kalau pelakunya adalah Nyonya besar Witama.


"Apa mungkin Vian salah mengenali Mami?" Bryan balik bertanya kepada Kevin.


Kevin menggelengkan kepalanya, dia sangat yakin Vian pasti mengenal wajah Nyonya besar Witama dengan sangat baik. Jadi kemungkinan Vian salah mengenali orang itu suatu hal yang tidak mungkin terjadi.


Bryan, Felix dan Kevin terdiam. Masalah kali ingin sangat rumit sekali.


Mereka cukup lama terdiam.


"Apa Julian ada bercerita sesuatu ke elo?" tanya Felix kepada Bryan.


Bryan mengangguk. Bryan menceritakan kepada Felix dan Kevin apa yang terjadi pada saat itu menurut cerita dari Julian.


"Menurut gue, ini maaf ya Bryan. Sekali lagi gue minta maaf. Julian pasti menceritakan kebenarannya" kata Felix menilai kejujuran Julian dari cerita yang disampaikan oleh Bryan kepada mereka berdua.


"Kenapa loe bisa yakin sekali. Bisa jadikan di tambah tambah oleh Julian" kali ini Kevin membantah apa yang dikatakan oleh Felix. Pendapat Felix yang Kevin tidak setuju.


"Kita tau kalau Nyonya besar adalah orang yang sangat baik dan tulus. Tidak akan mungkin Nyonya besar melakukan hal serendah itu" Kevin memeberikan alasan kenapa dirinya tidak setuju dengan apa yang dikatakan oleh Felix sebentar ini.


Bryan masih saja diam. Dia tidak habis pikir kenapa masalah seberat ini harus terjadi kepada dirinya. Di satu sisi istri tercintanya di caci maki dan ditampar di depan orang ramai. Sedangkan di sisi lain, yang melakukan tindakan itu kepada istrinya tak lain tak bukan adalah Mami nya sendiri. Orang yang melahirkan dan sangat disayanginya. Cinta pertama Bryan daat terlahir ke dunia.


Felix menendang kaki Kevin. Kevin menatap protes ke arah Felix. Dia tidak suka kakinya ditendang oleh Felix. Felix memberikan kode supaya Kevin melihat ke arah Bryan. Bryan benar benar terlihat seperti seseorang yang sedang berpikir keras saat ini. Mereka berdua tau dan sadar bagaimana posisi Bryan sekarang. Posisi yang sangat sulit, satu istri yang satu lagi ibu.

__ADS_1


"Menurut gue yang salah adalah Mami" kata Bryan memecah kesunyian yang terjadi cukup lama di antara mereka bertiga.


"Maksud kamu hagaimana?" tanya Kevin yang kaget Bryan memiliki penilaian seperti itu.


"Gue tau siapa istri gue. Orang yang tidak dikenalnya seperti gue saja di perlakukannya dengan baik. Dibiayainya kehidupan gue selama ini." kata Bryan mulai menjelaskan kepada kedua sahabatnya kenapa dia beranggapan Mami yang salah.


"Kejadian ini pasti di mulai oleh Mami. Julian adalah tipe manusia yang tidak ingin ribet. Dia hanya ingin damai saja. Jadi tidak mungkin dia yang mencari perkara untuk pertama sekali" kata Bryan selanjutnya.


"Apa lagi kemaren Bryan mengatakan kalau awal mula dia bisa di tampar itu karena Mami yang menabrak Julian, kemudian Julian sudah minta maaf. Eh Mami yang mengamuk tidak jelas, sampai mengancam keselamatan Julian" terang Bryan kepada Felix dan Kevin.


"Bahkan saking Julian takut dengan ancaman yang diberikan oleh Mami kepada dirinya, Julian sampai meminta gue untuk tidak melakukan sesuatu. Julian tidak ingin terjadi hal apapun kepada gue" lanjut Bryan.


Felix dan Kevin yang mendengarnya kaget. Julian sangat peduli dengan keselamatan Bryan. Sekarang sudah bisa dipastikan memang Nyonya besar Witama lah yang memulai keributan dengan Julian.


"Sekarang apa yang mau loe lakuin Bryan?" tanya Kevin.


Bryan terdiam, dia juga tidak tau harus berbuat apa sekarang. Pilihan kali ini bener bener menyulitkan posisi Bryan.


"Apa Nyonya besar sudah memberitahukan hal ini sama loe?" tanya Felix mempermudah Bryan memutuskan dengan mengajukan pertanyaan itu.


"Sama sekali belum. Mami belum menghubungi gue. Tania juga belum"


"Nah kalau begitu anggap aja loe nggak tau masalahnya" kata Felix.


Bryan menatap ke arah Felix. Dia tidak paham maksud perkataan Felix.


"Ya, berita ini kan tidak viral, tidak tersebar ke dunia maya. Makanya, selagi Mami tidak mengatakan apa apa ke loe, loe harus bersikap seperti orang yang tidak tau saja" lanjut Felix menjelaskan apa maksud dari perkataannya tadi.


"Gue setuju dengan yang dikatakan oleh Felix" kali ini Kevin sependapat dengan Felix. Memang seharusnya Bryan bersikap tidak mengetahui kejadian itu.


"Kalau loe sempat menanyakan kepada Nyonya besar, tentu Nyonya besar menjadi bertanya tanya dari mana loe tau permasalahan itu. Nah bisa bisa posisi Julian semakin mencekam. Loe tau sendirikan bagaimana nyonya besar kalau sudah marah" kata Felix mengingatkan Bryan supaya tidak bertindak gegabah, melainkan memakai pertimbangan pertimbangan untuk tidak melakukan hal yang di luar nalar berpikir.


"Ini kali kedua gue setuju dengan Felix" ujar Kevin.


Bryan terdiam, dia memang harus mengikuti saran Felix. Bryan tidak bisa meremehkan Maminya itu. Sepak terjang Mami sudah diketahui dengan sangat baik oleh Bryan.


"Oke gue setuju dengan loe. Gue nggak akan bertanya kepada Mami." kata Bryan.

__ADS_1


__ADS_2