
Setelah itu Felix menutup panggilan video call dengan Nyonya istri dari salah seorang manager yang ada di dalam ruangan.
"Baiklah, setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Nyonya tadi, bagaimana apa kalian ada yang akan membuka suara untuk mengatakan apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Felix kepada semua orang.
"Kami masih membuka kesempatan kepada kalian untuk bersuara, sebelum kami memberikan tindakan tegas kepada kalian semua tanpa terkecuali" lanjut Felix yang sudah mulai kesal karena aksi diam semua orang yang ada di dalam ruangan itu.
"Maaf Tuan Felix, kenapa anda memaksa mereka untuk mengatakan apa yang terjadi sebenarnya sekarang?" tanya direktur yang mengawasi perusahaan selama ini.
"Jadi menurut Anda tidak ada yang terjadi di perusahaan?" tanya balik Felix yang sedikit kaget tetapi sudah bisa memprediksi kalau direktur itu pasti akan bertanya kenapa semua manager dipaksa untuk berbicara jujur.
"Ya menurut saya tidak ada yang terjadi di perusahaan apapun itu permasalahannya. Semua laporan juga sudah kita lihat tidak ada yang aneh atau bagaimana nya. Kenapa masih juga anda meminta semua rekan kerja saya menyampaikan apa yang sebenarnya terjadi" lanjut direktur lagi yang memaksa Felix untuk tidak bertanya lagi kepada semua managernya itu.
Bryan tersenyum jahat ke arah direktur. Direktur yang tidak fokus ke arah Bryan tidak bisa melihat wajah marah Bryan itu. Tetapi berbeda dengan beberapa orang manager yang fokus ke arah Bryan, bisa melihat kemarahan di senyuman Bryan itu.
"Felix sudah tidak perlu basa basi lagi Felix. Langsung saja tayangkan temuan kita itu. Saya sudah bosan, terlalu lama meeting seperti ini" Bryan sudah meradang dan sudah emosi. Dia sudah tidak mau menunggu terlalu lama lagi. Meeting itu harus segera menemukan titik terangnya.
"Siap Tuan Muda" kata Felix yang langsung akan melaksanakan perintah yang diberikan oleh Bryan kepada dirinya.
Felix kemudian menampilkan di layar besar dan juga di layar tablet semua manager laporan keuangan yang mereka dapatkan.
Keringat dingin mulai keluar dari tubuh direktur Ryan. Dia tidak menyangka kalau laporan itu akan di dapatkan oleh Bryan. Sedangkan para manager wajah mereka sudah kembali seperti semula. Tidak ada lagi wajah penuh kecemasan di sana. Mereka sudah sedikit lega karena laporan yang mereka buat di masing masing bidang sudah ditemukan dan didapatkan oleh Bryan, pemilik perusahaan tempat mereka bekerja.
"Bagaimana Tuan Ryan, kenapa anda berkeringat?" tanya Kevin saat melihat Ryan yang keluar keringat dingin.
"Tidak ada apa apa Tuan Kevin" jawab Ryan dengan tergagap. Ryan tidak menyangka laporan itu akan ditemukan oleh Bryan, padahal dia sudah menyimpan laporan itu dengan sangat baik. Dia tidak menyimpan laporan itu di sembarangan tempat di dalam laptopnya. Sedangkan hard copy laporan itu sudah di bakarnya. Malahan dia sendiri yang membakar. Ntah kenapa pada akhirnya Bryan mendapatkan juga laporan itu.
"Ryan sudah berapa tahun anda berbuat curang seperti ini?" tanya Bryan.
Nada dingin, kekecewaan, kemarahan tidak ditutup tutupi lagi oleh Bryan. Dia sudah muak ditipu dan dicurangi seperti ini.
Ryan menekurkan kepalanya dalam dalam. Dia sama sekali tidak berani mengangkat kepalanya. Dia takut melihat wajah Bryan yang pastinya sekarang sudah memerah karena menahan kemarahannya.
"Kenapa diam Ryan. Jawab pertanyaan saya. Anda masih punya mulut bukan" kata Bryan dengan menekankan setiap kata katanya dengan penekanan.
__ADS_1
Hal ini semakin membuat Ryan takut untuk membuka suaranya. Ryan tidak berani mengakui apa yang terjadi sekarang ini. Dia cemas akan nasibnua di perusahaan itu. Dia sangat membutuhkan pekerjaan ini sekarang.
"Maafkan saya Tuan Muda. Saya khilaf" jawab Ryan yang pada akhirnya berani membuka suaranya dan meminta maaf kepada Bryan.
"Apa? Khilaf? Sudah berapa tahun kamu khilaf?" tanya Bryan lagi.
Bryan ingin tertawa mendengar alasan klise yang selalu dikatakan oleh orang orang yang bersalah. Alasan yang sangat tidak masuk di akal sama sekali.
"Sudah selama tiga tahun Tuan Muda" jawab Ryan yang sudah tidak bisa mengelak lagi.
Semua manager terkejut, mereka tidak menyangka kalau direktur perusahaan mereka itu akan melakukan tindakan bodoh seperti ini. Pantesan mereka selalu tidak menerima penuh uang lembur terkadang bonus, ternyata karena hal ini.
"Kevin suruh masuk saja mereka yang sudah berdiri di luar. Saya sudah terlalu capek dengan urusan seperti ini"
"Selesai lebih cepat maka lebih aman." kata Bryan yang sudah sangat muak sekali saat ini.
"Siap Tuan Muda" jawab Kevin.
Kevin masuk dengan tiga orang anggota kepolisian berpakaian lengkap. Mereka juga membawa surat penangkapan untuk Ryan.
"Tuan Ryan, Anda kami tangkap atas dasar penipuan terhadap Tuan Bryan dan perusahaan miliknya" kata polisi yang pangkatnya lebih tinggi.
Dua orang polisi maju dan siap memborgol tangan Ryan. Tetapi Ryan menolaknya.
"Bryan, hanya tiga tahun Bryan. Tiga tahun saya berbuat salah kenapa hilang yang sekian tahun" kata Ryan lagi yang tidak Terima dirinya harus masuk penjara karena kelakuannya yang merugikan Bryan selama tiga tahun.
"Saya tidak mau tau Ryan. Mau tiga tahun bahkan yang hanya satu bulan saja, saya akan tetap memasukkan mereka ke dalam penjara tanpa terkecuali" jawab Bryan yang sudah menahan emosinya dari tadi. Apalagi saat melihat tingkah Ryan yang merasa kalau dirinya tidak bersalah sejak pagi.
Polisi akhirnya membawa Ryan pergi dengan tangan terborgol. Semua orang yang ada di sana bergidik ngeri melihat apa yang terjadi. Bryan benar benar tidak memberi ampun orang yang sudah merugikan dirinya. Bryan tidak melihat besar atau kecil kerugian yang harus ditanggungnya, semua kesalahan memang harus di bayar. Itulah prinsip Bryan.
"Sekarang tolong jawab saya, apa kalian semua tau kecurangan yang dilakukan oleh Ryan?" tanya Bryan kepada semua orang yang ada di sana.
"Maaf Tuan Bryan, kami baru tau akan adanya kecurangan ini satu bulan yang lalu saat manager pemasaran memberikan info kepada kami kalau perusahaan ada pencurinya." kata seorang manager mengatakan apa yang mereka ketahui.
__ADS_1
"Tapi kami tidak bisa berbuat banyak karena keluarga kami di bawah ancaman Tuan Ryan" lanjut manager ituitu lagi menjelaskan kenapa mereka sampai tidak mau membuka suara.
Bryan mendengarkan semuanya. Bryan sudah tau semua kasus yang terjadi di perusahaan miliknya itu.
"Saya paham dan saya mengerti. Semua kekurangan uang lembur dan bonus akan segera di cairkan kalian jangan cemas akan hal itu. Maafkan saya karena kurang mengontrol keadaan di perusahaan" kata Bryan.
"Saya harap ke depannya tidak ada lagi hal seperti ini. Saya menginginkan perusahaan ini berjalan seperti semula lagi" lanjut Bryan.
"Saya mengucapkan terimakasih kepada Anda semua, karena sudah membantu saya untuk menjalankan perusahaan ini" kata Bryan.
"Kevin, loe tinggal di sini. Urus perusahaan. Felix, loe balik ke negara kita sesuai dengan perjanjian" kata Bryan memberikan perintah selanjutnya.
Sebelum sempat mendengar protes dari Kevin, Bryan sudah keluar dari zoom rapat tersebut. Sehingga membuat Kevin tidak bisa berkomentar apapun.
"Baiklah meeting hari ini selesai sampai si sini. Sampai jumpa dengan meeting besok bersama direktur yang baru. Direktur Kevin." kata Felix yang sangat senang dan bahagia mendengar Kevin akan memimpin perusahaan milik Bryan.
Felix dan Kevin kemudian meninggalkan ruangan rapat, setelah itu para manager dan juga kepala divisi ikut keluar dari dalam ruangan rapat.
"Gila tu orang, tanpa minta persetujuan gue, malah nunjuk gue untuk menjadi pemimpin perusahaan" kata Kevin yang ngedumel sendirian karena apa yang dikatakan oleh Bryan tadi.
"Loe kayak nggak paham dia saja. Sejak kapan Bryan menunjuk kita berdua dengan menanyakan apakah kita bersedia atau tidak. Belum ada dalam kamus Bryan yang seperti itu" jawab Felix dengan santainya.
"Loe pasti bahagiakan gue tinggal di sini?" tebak Kevin.
"Bahagia sedikit. Sedihnya juga sedikit." jawab Felix lagi.
"Banyak nya apa?" tanya Kevin yang mendengar jawaban dari Felix semuanya serba sedikit
"Banyaknya, gue bersyukur banget kerjaan loe akhirnya sama dengan kerjaan gue" jawab Felix dengan santainya tanpa memikirkan bagaimana perasaan Kevin.
"Dasar, sahabat nggak ada akhlak"
Kevin emosi mendengar apa yang dikatakan oleh Felix kepada dirinya.
__ADS_1