
Di sebuah taman yang indah, sedang duduk pasangan berbeda jenis kelamin. Mereka tampak asyik mengobrol, senyum manis terbit di sudut bibir keduanya. Beban hidupnya seakan lepas, berganti keceriaan.
"Dok, kok dokter mau sih jadi dokter di rumah sakit jiwa? Dokter kan tampan dan keren apa tidak merasa risih gitu berhubungan dengan orang-orang yang tak waras." tanya Tia merasa ingin tahu.
"Enggak kok, justru saya merasa nyaman dengan pekerjaan saya. Dengan melihat mereka sembuh dan menjalani hidup normal lagi, ada kepuasan dan kebanggaan tersendiri yang saya rasakan. Lagi pula tak akan ada yang mau menjadi orang yang tak waras, jiwa kemanusiaan saya merasa terpanggil. Mereka sama-sama manusia yang membutuhkan kehidupan yang layak di dunia." ungkap dokter Al.
Tia merasa bangga mendengar penuturan dokter Al, begitu mulianya dia. Dia tak menyangka masih ada orang yang peduli dengan orang yang tak waras. Rasa sakit hatinya kepada Aditya tiba-tiba saja mencuat, Aditya menceraikan dia karna dirinya tak waras dan tak memiliki rahim untuk memiliki keturunan. Membuang dirinya seperti sampah karena merasa malu memiliki istri yang tak waras.
"Pasti pasangan Dokter merasa sangat bangga memiliki Dokter. Seorang laki-laki yang seperti malaikat memiliki hati yang luar biasa," Puji Tia. Sayangnya ucapan Tia tak membuat Dokter Al merasa bangga, justru wajahnya berubah sendu membuat Tia bertanya dalam hatinya. Adakah masa lalu Dokter Al yang membuat dirinya seperti itu.
"Tak perlu memuji saya, saya bukan laki-laki yang sempurna. Saya memiliki kekurangan yang membuat tak ada satu wanita pun yang akan mau menjadi pendamping saya," ungkap Dokter Al.
Ada satu rahasia besar yang dia miliki, membuat dirinya merasa tak seberuntung dengan laki-laki lain. Setelah mengalami kecelakaan dan mengalami cedera di tulang ekor dan punggung, Dokter Al di nyatakan mengalami impotensi membuat dirinya tak percaya diri untuk menjalin hubungan dengan wanita karena dia merasa malu tak bisa memuaskan istrinya di ranjang. Bahkan tunangannya pergi meninggalkan dirinya saat dirinya mengalami kecelakaan yang menyebabkan dirinya mengalami impotensi.
"Kemarin itu aku juga merasakan hal yang sama, membuat aku merasa frustasi dengan kondisi yang aku alami. Saat aku harus menerima kenyataan kalau aku harus kehilangan bayiku dan di vonis tak akan pernah bisa hamil lagi. Hingga akhirnya aku harus merasakan di campakkan mantan suamiku dan bahkan dalam kondisi aku terpuruk dan masuk rumah sakit jiwa, suamiku justru menceraikan aku." ungkap Tia lirih.
Dokter Al memberi semangat agar Tia tetap semangat melanjutkan hidupnya. Dokter Al menyatakan kalau Tia sudah sehat kembali dan besok sudah di perbolehkan pulang. Hari ini Dokter Al akan menghubungi keluarga Tia.
__ADS_1
"Terima kasih Dok, aku sangat bahagia. Terima kasih atas kesabaran Dokter merawat aku." ucap Tia. Tanpa sadar Tia menarik tangan Dokter Al membuat netra keduanya saling bertemu. Hening seketika, keduanya merasa nyaman.
"Maaf kalau aku bersikap lancang. Aku hanya terlalu bahagia mendengarnya," ucap Tia dengan wajah yang memerah menahan rasa malu. Dokter Al hanya membalas dengan senyuman, membuat getaran di hati Tia.
Malam telah datang, Tia termenung sendiri di kamarnya. Dia merasa bersyukur karena akhirnya dia bisa hidup normal kembali, menata kehidupan barunya dan melupakan kenangan buruknya. Menutup lembaran hidup yang lalu. Kenangan kebersamaan dengan Dokter Al tiba-tiba saja hadir, membuat Tia tersenyum karena merasa masih ada orang yang peduli kepadanya.
❤️❤️❤️
"Aku pamit ya Dok, semoga kita bisa bertemu di lain waktu. Terima kasih atas kesabaran Dokter dalam merawat aku," ucap Tia. Ada rasa berat yang mereka rasakan saat harus melakukan perpisahan.
"Terima kasih Dok karena anda sudah menyembuhkan putri kami, semoga Allah membalas kebaikan anda." ucap Pak Fahri. Dokter Al mengantarkan Tia dan juga kedua orang tuanya Tia sampai depan, melepas kepergian teman bicara sekaligus pasiennya.
Tia terlihat lebih tenang dan percaya diri. Dia berusaha untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi, menghilangkan sifat angkuh dan sombongnya dan berniat untuk bersikap sederhana. Tia juga berniat memakai hijab, hijrah dari kehidupan masa lalunya. Untuk urusan jodoh, semua dia serahkan kepada yang maha kuasa. Dia berharap semoga kelak mendapatkan suami yang bisa menerima dirinya apa adanya.
"Alhamdulillah ya Yah, Tia sudah menjadi sosok wanita yang baik. Pelajaran hidup membuat dirinya menjadi sosok yang baik. Dokter Al berhasil menyembuhkan Tia. Andai saja Dokter Al belum menikah, Bunda berharap Dokter itu berjodoh sama Tia" cerocos Bunda Almira.
"Alhamdulillah. Pelajaran hidup yang sangat berharga. Untuk urusan jodoh, Ayah tidak mau ikut campur semua Ayah serahkan kepada Tia. Ayah berharap Tia mendapatkan yang terbaik," sahut Ayah Fahri dan di aminkan oleh Bunda Almira.
__ADS_1
❤️❤️❤️
Hari terus berganti, entah mengapa Dokter Al merasa sangat kehilangan sosok Tia pasiennya dulu. Senyum manis dan keceriaan Tia membuat dirinya merasa hampa. Tapi dia tidak boleh egois, Tia sudah sembuh tak sepantasnya dia masih di rumah sakit.
"Mengapa aku menjadi kehilangan Tia seperti ini? Apa aku telah jatuh cinta kepadanya? Tidak-tidak, ini hanya perasaan aku saja. Mungkin saja selama ini kita sering bersama, hingga membuat aku merindukan dirimu," gumam Dokter Al.
Ternyata rasa rindu juga menghampiri Tia, dia merasa kehilangan sosok sahabat yang selalu mendengarkan curahan hatinya, seseorang yang memberikan kenyamanan untuknya, dan laki-laki yang membuat dia lebih berarti.
"Bun, boleh aku keluar sebentar? Aku ingin bertemu Dokter Al," ucap Tia kepada sang Bunda. Tia menjadi sosok yang lemah lembut, Tia sudah berubah. Tentu saja hal itu membuat kedua orang tuanya merasa bahagia.
"Mau apa, Ti? Kamu tak memiliki perasaan kan sama Dokter Al? Sepertinya dia sudah menikah, kamu jangan menjadi pelakor lagi. Jalanin hubungan dengan yang belum memiliki pasangan," nasihat Bunda Almira.
Tia mengatakan kalau Dokter Al belum memiliki pasangan. Mereka memiliki masa lalu yang begitu menyakitkan yaitu di tinggalkan pasangan karena kekurangan mereka.
"Jadi ceritanya kamu jatuh cinta ni sama Dokter Al? Bunda ikut senang mendengarnya, berarti kamu sudah move on dari laki-laki bajing*an itu. Ya udah hati-hati ya di jalan dan kalau sudah selesai segera pulang ya sayang," ucap Bunda Almira. Tia langsung memeluk tubuh ibu angkatnya, dia merasa bahagia karena ibu angkatnya mendukungnya. Dia tak merasa sendiri lagi, merasa bersyukur karena memiliki orang tua angkat yang menyayangi dirinya.
Mampir yuk di karya temanku, ceritanya seru
__ADS_1