
"Assalamualaikum anak Papa, lagi apa di perut Mama?" ucap Fatih sambil memberikan kecupan di perut istrinya bertubi-tubi. Membuat Nisa merasa bahagia, karena merasa beruntung memiliki suami seperti Fatih yang begitu menyayangi dirinya dan calon anaknya kelak.
"Terima kasih sudah menjadi istri yang sempurna untuk aku. Aku mencintaimu," ucap Fatih yang kini beralih mengecup kening istrinya.
"Terima kasih juga, karena sudah menjadi suami yang sempurna untuk ku. Aku juga menyayangi dirimu," balas Nisa dan memberikan kecupan sekilas di bibir suaminya.
Hanya kecupan, membuat Fatih melayangkan protes dan meminta lebih. Fatih langsung menarik tengkuk Nisa dan mencum*bunya dengan mesra, lidah mereka saling membelit satu sama lain. Ciu*man mereka semakin memanas.
"Sayang, aku menginginkannya. Sudah cukup lama aku berpuasa, ku mohon jangan buat aku puasa kembali," bisik Fatih. Nisa menganggukkan kepalanya sebagai tanda bahwa dirinya menyetujui permintaan suaminya.
Tentu saja hal itu membuat Fatih merasa senang seperti Mendapatkan undian kemenangan. Dirinya bersemangat untuk segera memulai penyatuan. Nisa berusaha membuat sang suami merasa senang.
Keduanya sangat menikmati peranannya sebagai pasangan suami istri yang sesungguhnya tidak seperti dulu. Sebenarnya sejak dulu Fatih sudah menjalankan tugasnya sebagai suami, tetapi Tia 'lah yang tak pernah menjalankan tugasnya sebagai seorang istri.
"Pelan-pelan ya sayang, sekarang sudah ada anak-anak kita di rahim aku," Nisa mengingatkan. Fatih memacunya secara perlahan, dia tak ingin membuat anak-anaknya terganggu.
Fatih melakukannya sangat lembut, tetapi tetap membuat istrinya mencapai puncaknya. Justru Nisa lebih menyukai permainan suaminya saat ini. Entah hormon ibu hamil yang meningkat atau memang Nisa sudah mulai terlena nikmatnya surga dunia.
❤️❤️❤️
Nisa perlahan membuka matanya, karena mendengar bunyi alarm di ponselnya telah berbunyi. Mau tak mau dirinya harus terbangun untuk menjalankan kewajiban sholat Shubuh. Nisa mencoba mengangkat tangan suaminya yang berada di atas perutnya.
__ADS_1
"Emmm ... memangnya sekarang jam berapa?" tanya Fatih sambil merenggangkan tubuhnya yang terasa remuk. Fatih merasakan tubuhnya yang terasa remuk akibat ulahnya sendiri.
Fatih langsung bangkit dari ranjang, bergantian dengan sang istri untuk mandi. Setelah itu mereka melakukan sholat Shubuh bersama. Hal ini adalah salah satu rutinitas yang di lakukan Fatih dan Nisa, yaitu melakukan sholat berjamaah. Setelah sholat selesai, Nisa mencium tangan suaminya dan Fatih mengecup kening istrinya.
"Kamu mau ke mana? Aku masih ingin memeluk kamu," ucap Fatih sambil menarik tangan istrinya. Dia tak membiarkan sang istri pergi meninggalkan dirinya, dia ingin mengajak sang istri menemani dirinya di ranjang untuk bermalas-malasan sebelum bersiap-siap berangkat bekerja. Untuk sementara waktu Fatih meminta agar sang istri tidak bekerja dan fokus kepada kehamilannya. Terlebih ini adalah kehamilan pertama istrinya dan langsung mengandung dua anak sekaligus, sungguh tidaklah mudah.
"Aku ingin memasak sayang, nanti kita makan apa?" ucap Nisa sambil memberikan cubitan di kedua pipi suaminya karena merasa gemas.
"Untuk hari ini aku tak akan mempermasalahkan jika harus memakan masakan Bi Inah. Aku tak mengizinkan kamu memasak." cerocos Fatih.
Untungnya Nisa sudah mulai beradaptasi, tak mengalami mual yang berlebihan. Nisa juga tak pernah bersikap manja dan mengidam sesuatu seperti kebanyakan wanita hamil. Justru Fatih yang sering merasakan mengidam makanan.
Fatih langsung membawa sang istri kembali ke pelukannya. Pelukan itu semakin erat, seakan Fatih tak ingin terpisah dengan Nisa. Nisa mencoba merenggangkan pelukan suaminya, dirinya merasa sesak tak betah jika harus di peluk terlalu erat.
"Ih kamu gimana sih di peluk malah ingin lepas," gerutu Fatih.
"Aku sesak, ga betah di peluk erat seperti itu!" sahut Nisa.
❤️❤️❤️
Fatih sudah berangkat bekerja, dirinya semakin giat bekerja karena tanggung jawabnya akan bertambah. Meskipun Nisa anak orang kaya, tak menjadi alasan bagi Fatih untuk berpangku tangan. Ini adalah salah satu yang membuat Fahri merasa bangga dengan sosok Fatih. Sifat Fatih tak pernah berubah, dia adalah seorang pekerja keras dan bertanggung jawab.
__ADS_1
Nisa membolak-balik tubuhnya sejak tadi, lama kelamaan dirinya semakin jenuh harus berada di rumah terus menerus. Dia mencoba berpikir tentang hal yang diinginkan olehnya. Tapi sia-sia. Nisa tak terlalu suka bermain sosial media. Sesekali dia suka membaca novel online untuk menghilangkan kejenuhan selama dirinya diam di rumah.
Akhirnya dia memutuskan untuk memasak dan nantinya akan dia bawa ke kantor suaminya untuk makan siang bersama suaminya. Nisa mulai memasak. Menu siang ini adalah sop iga, tempe dan tahu goreng, dan sambel.
"Sudah di siapkan Bi?" tanya Nisa yang kini menghampiri ART nya. Setelah dirinya selesai memasak, Nisa langsung bersiap-siap untuk ke kantor. Sebelumnya dia berpesan terlebih dahulu kepada sang ART untuk menyiapkan dua porsi makanan untuk dirinya dan suaminya.
Nisa melangkahkan kakinya memasuki kantor, dirinya menyapa semua karyawan yang bertemu dengan ramah sambil menampilkan senyuman termanisnya. Setelah mengetuk pintu, Nisa membuka pintu ruangan suaminya dan mengucap salam. Mendengar suara istrinya mengucap salam, membuat Fatih menghentikan pekerjaannya. Ternyata bukan hanya sekedar halusinasi, istrinya memang datang.
Fatih menghampiri sang istri dan melingkarkan tangannya di pinggul istrinya. Netra mereka saling memandang. Jarak wajah mereka sangat dekat membuat hembusan napas mereka saling bertemu.
"Ehem, ayo kita langsung makan! Aku yang memasaknya loch," ujar Nisa. Nisa sengaja mengalihkannya, dia tak ingin kejadian tempo lalu terjadi. Saat dirinya bercum*bu mesra, tiba-tiba saja Kenzi datang.
Nisa melayani suaminya dengan baik, menyiapkan nasi, tempe, tahu, dan juga sambel di piring yang sama dan untuk sop iga di pisahkan di mangkok tersendiri. Fatih makan sangat lahap, dia selalu suka makanan masakan istrinya. Melihat sang suami selalu menyukai masakannya, tentu saja membuat dirinya semangat memasak.
"Kamu memang pinter segalanya. Pinter memasak, pintar melayani suami, dan pinter juga cara memuaskan di ranjang. Bukan itu saja, wajah dan tubuh kamu sangat menggoda iman. Ingin rasanya aku segera menerkam kamu," puji Fatih kepada sang istri, hal itu membuat Nisa tersipu malu mendengar pujian dari suaminya.
"Kamu tunggu aku saja ya, nanti kita pulang bersama! Biar mobil kamu nanti di antar supir kantor." ucap Fatih dan mau tak mau Nisa menyetujuinya.
Perlahan mata Nisa semakin meredup hingga akhirnya dia tertidur pulas. Fatih menghentikan pekerjaannya dan melirik ke arah sang istri yang sedang tertidur pulas, baginya wajah istrinya sangat menggemaskan. Akhirnya Fatih menghampiri Nisa.
"Pastinya kamu merasa sangat lelah karena harus merasakan mengandung anak-anak kita. Kamu memang wanita luar biasa," gumam Fatih dalam hati.
__ADS_1