
"Aku yakin kamu pasti cape, kita istirahat dulu ya! Besok-besok kita kan bisa lanjut lagi ga harus melakukannya terus menerus. Milik kamu masih sakit ga?" ujar Fatih sampai mengelus-elus milik istrinya membuat Nisa kegelian.
"Sudah Bang, jangan di gituin lagi!" rengek Nisa manja.
"Kenapa? Kamu pengen lagi ya? Ya sudah kita lanjut lagi," goda Fatih membuat wajah Nisa memerah.
Matanya sudah mengantuk dan tubuhnya terasa remuk. Meskipun hanya melakukan sekali, tetapi baginya suaminya sangat perkasa di ranjang. Terlebih ini adalah hal pertama kali bagi Nisa melakukan olahraga ranjang.
"Aww ...," ringis Nisa merasakan sakit di miliknya. Hal itu tentu saja Fatih justru tersenyum karena semua itu karena ulahnya.
"Senyum lagi, seneng banget bikin aku kesakitan," cerocos Nisa.
"Aku bahagia kamu seperti ini karena ulah aku. Ayo aku gendong, aku laki-laki yang bertanggung jawab." ujar Fatih sambil mengangkat tubuh istrinya. Netra mereka saling pandang. Tak ada alasan bagi Nisa untuk tidak mencintai suaminya.
Setelah keduanya telah selesai, Fatih langsung mengangkat tubuh istrinya dan meletakkan di ranjang. Kemudian dia mengambil pakaian tidur untuk istrinya dan juga dirinya.
"Selamat tidur istri cantik aku. I Love you. Sekarang kita tidur ya, besok shubuh kita sholat bersama," ujar Fatih dan Nisa menganggukkan kepalanya. Fatih memberikan kecupan di kening istrinya.
Perlahan mata mereka semakin meredup, hingga akhirnya mereka benar-benar tertidur pulas saling berpelukan. Kebahagiaan menyertai keduanya. Berbeda halnya dengan Kenzi yang justru masih terjaga dan masih belum bisa tidur.
"Saat ini pasti kamu sedang memadu kasih dengannya. Semoga kamu hidup bahagia. Aku berharap Allah tak menghukum aku terlalu lama, memberikan jodoh yang terbaik untuk aku," ucap Kenzi.
Kenzi berusaha mengikhlaskan Nisa, meskipun rasanya sangat sulit terlebih dirinya harus satu kantor dengan Fatih dan Nisa. Harus melihat keromantisan mereka berdua sebagai sepasang suami istri. Akankah dia sanggup menghadapinya?
__ADS_1
Sama halnya dengan Tia yang saat ini masih terjaga dan mulutnya terus mengumpat karena sang suami setelah mengantarkan dirinya pulang ke apartemen langsung pergi lagi dan sampai jam 2 dini hari sang suami belum juga kembali dan bahkan ponselnya saat ini tidak aktif. Impian Tia untuk memiliki suami yang perhatian terhadap dirinya dan juga kehamilannya saat ini hanya menjadi sebuah mimpi yang tak akan pernah menjadi kenyataan.
❤️❤️❤️
Jam di ponsel Nisa berbunyi tanda sudah waktunya mereka menunaikan ibadah sholat shubuh. Nisa bangun lebih dulu dan berniat untuk mandi wajib dan sholat.
"Aww ...," ringis Nisa membuat Fatih terbangun dari tidurnya.
"Kenapa? Masih sakit ya?" tanya Fatih lembut. Nisa hanya menganggukkan kepalanya.
Fatih langsung menggendong tubuh istrinya dan membawanya ke kamar mandi. Nisa merasa malu untuk membuka pakaiannya.
"Kenapa malu? Kita sama-sama sudah melihatnya dan merasakannya. Ayo kita segerakan, biar ke buru sholah shubuh!" ujar Fatih. Mau tak mau Nisa mengikuti ucapan suaminya, dia harus mulai terbiasa kalau dirinya sudah menikah dengan laki-laki yang saat ini bersamanya.
Grep!
Fatih melingkarkan tangannya di pinggang istrinya dari belakang, dan menyenderkan dagunya di pundak istrinya. Nisa membalikkan badannya dan kini mereka saling berhadapan.
"Sayang banget sama kamu," ucap Fatih membuat Nisa tersenyum bahagia. Setelah penderitaan dan kesedihan yang dia rasakan, kini Nisa merasakan kebahagiaan.
Wajah mereka semakin mendekat perlahan bibir mereka saling bertemu. Fatih langsung melu*mat bibir istrinya dan lidah mereka saling membelit membuat ciu*man mereka semakin memanas. Fatih menggendong tubuh Nisa seperti koala tanpa melepas pangutan. Kemudian meletakkan sang istri di ranjang. Suasana ruangan terasa dingin, di iringi rintikan hujan di luar kamar membuat dua insan yang sedang kasmaran tak kuasa menahan hasratnya. Nisa melepaskan pangutan suaminya.
"Bang, punya aku masih terasa sakit. Aku takut akan tambah sakit," protes Nisa.
__ADS_1
"Makanya Abang mau buat kamu tak merasa sakit, Abang yakin rasa sakit kamu akan menghilang perlahan demi perlahan. Dingin banget yang, si otong sudah bangun, sudah tak tahan!" ungkap Fatih dan akhirnya Nisa menurutinya.
Perlahan Fatih mulai memberikan rangsangan kepada istrinya. Tangannya mulai membuka kain yang menempel di tubuh istrinya dan juga dirinya. Mengeksplore tubuh istrinya dari mulai leher, hingga akhirnya terhenti di bukit kembar istrinya dan menghisapnya seperti bayi yang kelaparan. Membuat tubuh Nisa bergelinjang.
Lidah Fatih semakin turun hingga sampai di ladang istrinya. Menghisap cairan yang keluar dari milik istrinya, bermain-main di sana. Jari tangannya tak mau tinggal diam. Membuat Nisa terus mendesau. Fatih menarik tangan Nisa agar Nisa bangkit dan duduk. Fatih meminta agar Nisa memanjakan terlebih dahulu rudalnya, dan kini Fatih yang mendesau. Awalnya Nisa merasa jijik untuk memasukkan rudal milik suaminya ke goa bergigi miliknya. Dengan telaten Fatih memandunya, mengajarkan Nisa untuk memuaskan dirinya.
Merasa sudah tak tahan, Fatih langsung mendorong tubuh istrinya kembali dan melebarkan paha istrinya dan bersiap-siap untuk bercocok tanam kembali.
Blesh!
Rudal milik Fatih sudah masuk ke dalam dengan sempurna. Fatih mulai memompanya perlahan demi perlahan membuat Nisa menjerit keenakan. Semakin lama permainan Fatih semakin memanas. Entah berapa kali Nisa mengalami pelepasan, membuat Fatih semakin bersemangat.
"Aaahhhh," suara erangan panjang akhirnya keluar dari bibir Fatih bersamaan dengan semburan yang di keluarkan dari miliknya. Rasa sakit yang di rasa Nisa kini berubah menjadi rasa nikmat yang luar biasa.
"Makasih sayang, kamu selalu buat aku bahagia!" ungkap Fatih.
Nisa dan Fatih kini sudah bersiap-siap untuk sarapan bersama kedua orang tua mereka. Sebenarnya Nisa merasa malu karena harus bertemu dalam keadaan rambut yang basah.
"Mengapa harus malu sayang, kita ini pasangan suami-istri wajar jika melakukan aktivitas ranjang. Dulu mereka juga melakukan seperti kita saat ini," ucap Fatih memberi pengertian kepada istrinya.
Akhirnya mereka berdua dari kamar. Bukan hanya Fatih dan Nisa saja yang menginap di hotel tempat pernikahan mereka, Fahri juga memesan kamar untuk dia dan istrinya tetapi dia juga menyediakan kamar untuk kedua orang tua Fatih.
"Ayo duduk! Makan yang banyak, biasanya pengantin baru banyak mengeluarkan energi jadi harus makan yang banyak biar ga lemes," goda Fahri membuat Almira dan kedua orang tua Fatih ikut menggoda. Hal itu membuat wajah Nisa memerah menahan rasa malu.
__ADS_1
"Tidak perlu malu sayang, kamu harus mulai terbiasa dengan kehidupan dewasa!"