
"Elang, gimana kabar kamu? Papa kangen sama kamu. Papa menyesal. Disaat Papa bisa melihat kamu, Papa justru sibuk dengan lainnya. Hiks ... hiks ...," ucap Aditya yang sudah diiringi isak tangis.
Bahkan Adrian pun ikut sedih melihatnya. Terlebih saat Elang tak ingin dipegang Adit. Elang berteriak jika Papanya adalah Adrian, dia tak ingin memiliki Papa seperti Aditya. Bertambah hancur hidup Aditya mendengar sang anak yang tak mengakui dirinya.
" Elang tidak boleh bicara seperti itu. Papa kandung Elang adalah Papa Adit. Harusnya Elang senang karena mendapatkan cinta dari keduanya," ujar Felisa memberikan pengertian kepada anaknya.
"Sudah Fel, jangan dipaksa. Elang tak salah, semua ini karena salah aku yang dulu telah melupakan kalian. Sekarang hanyalah tinggal penyesalan yang aku rasakan," sahut Aditya lirih.
__ADS_1
"Apa disini ada Adrian, suami dari Felisa? Aku ingin bicara sama kamu," ucap Adit.
Kini Adrian yang mendekat dengan Adit. Mama Indah tak mampu lagi membendung perasaannya. Dia takut jika anak semata wayangnya akan pergi meninggalkan dunia untuk selamanya.
"Adrian, aku titip Feli dan Elang kepada kamu! Tolong bahagiakan mereka! Sudah cukup mereka merasakan kepahitan dunia, kini saatnya mereka merasa bahagia. Mungkin umur aku tak akan lama lagi di dunia. Untuk itu, sebelum aku pergi meninggalkan dunia aku ingin meminta maaf yang sebesar-besarnya kepada Felisa dan juga Elang. Tak lupa untuk Mama dan Papa yang sudah mau menerima aku kembali," ungkap Adit.
Adit menyadari kalau penyakit HIV yang dia derita saat ini, kapan pun bisa mengambil nyawanya. Terlebih daya tahan tubuhnya saat ini semakin lemah, terlebih dirinya tak memiliki semangat hidup lagi. Dia berharap Allah akan segera mengambil nyawanya, agar dia tak terus menerus menyusahkan kedua orang tuanya.
__ADS_1
Adit tak mampu lagi menahan perasaannya, sejak tadi air matanya terus menetes hingga membasahi wajahnya. Pertemuan kali ini begitu mengharukan. Elang hanya bisa menatap satu persatu wajah nenek, kakek, Papa Adrian, dan Mama Felisa secara bergantian.
"Sudah Dit, hentikan ucapan kamu! Tidak perlu di lanjut! Manusia tak bisa menentukan kapan maut akan datang menghampiri kita, serahkan semuanya sama yang di atas. Tugas kita adalah terus berusaha untuk menjadi orang yang lebih baik," ucap Papa Rizal.
"Sayang, ayo kita pulang! Ingat kata dokter kamu tak boleh terlalu lelah! Pikirkan kandungan kamu juga," ucap Adrian. Hal itu membuat Adit bertambah sakit, kala mendengar laki-laki memanggil kata sayang kepada mantan istrinya.
"Dit, sorry kita pamit pulang ya! Doa terbaik untuk lo, semoga lo bisa lekas sehat dan bisa hidup normal lagi. Tetap semangat, jangan putus asa meskipun saat ini lo berada di posisi yang sulit," ujar Adrian dan Adi hanya menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Felisa pamit kepada Aditya dan juga kedua orang tuanya. Elang tetap tak mau mencium tangan Aditya, hanya mau mencium kakek dan neneknya saja. Adrian rencananya akan langsung mengajak Felisa dan Elang untuk berjalan-jalan ke kota Bandung. Bahkan diam-diam Adrian sudah memesan kamar hotel untuk mereka menginap.
Meninggalkan Felisa dan Adrian yang sedang menikmati keindahan kota Bandung dan juga kuliner di sana. Aditya justru sedang meraung-raung meratapi hidup dengan penyesalan. Dia tak bisa menerima kenyataan hidupnya sekarang.