Istri Yang Tak Di Hargai ( Berubah Cantik )

Istri Yang Tak Di Hargai ( Berubah Cantik )
Peranan seorang istri


__ADS_3

Bulan madu adalah masa yang di nanti oleh pasangan pengantin baru, masa di mana merasa dunia hanya milik berdua. Memadu kasih kapan pun mereka mau. Bagi sebagian pasangan tak mengharuskan mengadakan bulan madu, karena bagi mereka kapan pun mereka mau mereka bisa melakukan kemesraan berdua.


"Sayang, hari ini aku harus ke kantor. Menyelesaikan pekerjaan yang sempat tertunda. Lusa kita kan akan berangkat ke Bali, sebelum kita ke sana aku ingin menyelesaikan pekerjaan aku terlebih dahulu. Kalau kamu masih ingin bersantai lebih baik kamu beristirahat saja di rumah. Karena di sana aku tak akan membiarkan kamu tertidur pulas maupun bersantai," ucap Fatih dan akhirnya mendapatkan cubitan mesra dari istrinya. Fatih langsung menangkap tubuh istrinya dan membawanya ke dalam dekapannya. Mereka kerap sekali menampilkan kemesraan meskipun hanya bersifat sederhana.


Setelah Nisa mencium tangan suaminya dan Fatih mencium kening istrinya, Fatih pamit untuk berangkat bekerja. Fatih selalu menyetir mobil sendiri tak pernah menggunakan jasa supir. Kini dirinya sudah sampai di kantor. Memasuki kantor dengan membalas senyum kepada semua karyawan yang bertemu. Fatih sosok pemimpin yang ramah tetapi bersifat tegas dan bijaksana. Aura kebahagiaan terpancar di wajahnya.


Deg!


Netra Kenzi dan Fatih saling bertemu. Ada goresan luka di hati Kenzi. Berkata sudah mengikhlaskan tetapi hati sulit sekali mengikhlaskan.


"Se-selamat pagi Pak Fatih," sapa Kenzi dan Fatih langsung membalasnya dan pergi berlalu meninggalkan Kenzi untuk masuk ke ruangannya.


Sama halnya dengan Fatih, Kenzi pun masuk ke ruangannya. Posisi Kenzi sudah kembali ke posisi awal menempati jabatan Manager Marketing. Nisa berharap kinerja Kenzi tetap baik, jika tidak Nisa akan mencabut kembali jabatan tersebut.


"Selamat berbahagia Nis, aku yakin kamu sudah menemukan pendamping yang tepat untuk kamu. Jika di bandingkan dia, aku tak ada apa-apanya," ucap Kenzi lirih. Mengubur masa lalu sangatlah tak mudah, terlebih mereka berada di satu kantor. Sungguh hal yang sangat menyakitkan bagi Kenzi saat melihatnya.


❤️❤️❤️

__ADS_1


"Ibu mau apa? Tadi Bapak pesan ke saya Ibu jgn bekerja apapun, Bapak menyuruh Ibu beristirahat. Kata Bapak, lusa Ibu sama Bapak mau ke Bali," ujar Bi Inah.


"Aku mau memasak Bi, tolong bantu aku ya! Aku mau membawakan makanan untuk Bang Fatih. Aku bosan Bi kalau hanya tidur dan menonton TV," sahut Nisa di sertai senyuman manis.


"Bapak beruntung banget punya istri seperti Ibu, sudah cantik, masih muda, pintar masak, memiliki hati lembut lagi. Tidak seperti Bu Tia. Istri model begini bikin rumah tangga adem ayem, bukan hanya taunya menghabiskan uang suami untuk shopping," ucap Bi Inah sambil tangannya sibuk menyiangi sayuran. Nisa hanya membalasnya dengan senyuman.


Nisa sibuk memasak untuk menu makan siang suaminya dan dia di kantor. Setelah selesai memasak, dia akan mendatangi kantor suaminya untuk makan siang bersama. Menu makan siang kali ini yaitu cumi saus padang, capcay, dan ayam goreng mentega. Semua makanan Nisa yang memasaknya. Dia sudah pintar memasak sejak ibunya masih ada. Dia sering kali membantu sang ibu memasak.


"Akhirnya selesai juga, sekarang aku mandi dan bersiap-siap berangkat ke kantor. Lebih baik aku tak menghubungi dia terlebih dahulu, aku ingin memberikan kejutan untuknya," ujar Nisa.


Kenzi menatap Nisa dari balik ruangannya. Ruangan Kenzi terletak mengarah ke ruangan Fatih. Dia hanya bisa tertegun menatap dengan wajah penyesalan. Sungguh penyesalan yang tak pernah berujung. Alangkah bahagianya jika dirinya 'lah yang berhasil memilikinya.


Nisa mengetuk pintu ruangan suaminya dan mengucap salam dari luar. Fatih yang sedang sibuk fokus bekerja tak sadar jika istri cantiknya sudah berada di depan pintu ruangannya.


"Sayang, kamu datang? Senang banget aku bisa melihat kamu," ucap Fatih yang langsung menghampiri istrinya dan langsung memeluk tubuh istrinya sambil memberikan kecupan di kedua pipi istrinya.


"Bang, lepasin donk! Nanti tas makannya terjatuh! Aku sengaja ke sini, karena ingin makan siang bersama. Ini semua aku yang masak loch," ucap Nisa dan akhirnya meletakkan tas berisi makanan yang dia bawa di meja kerja suaminya.

__ADS_1


"Bisa ga terbiasa manggil aku sayang? Kalau kamu manggil aku Abang, apa bedanya sama hubungan kita dulu yang hanya Abang adik? Ayo dong kamu biasakan!" protes Fatih.


Nisa langsung meraup kedua pipi suaminya dan berjanji akan mulai terbiasa melakukan itu. Deru napas keduanya sangat terasa, wajah mereka begitu dekat. Entah siapa yang memulainya bibir mereka saling mendekat, dan akhirnya ciu*man terjadi. Fatih sedikit menarik tengkuk sang istri agar memperdalam ci*uman itu, tangan mereka yang satu saling menggenggam erat.


Suara ketukan pintu menyadarkan mereka bahwa saat ini mereka berada di kantor, mereka terlihat panik saat melihat Kenzi sudah membuka pintu ruangan dengan membawa berkas. Dirinya sempat melihat saat Fatih berdiri berhadapan dengan Nisa.


"Ehem, maaf Pak jika kedatangan saya mengganggu. Saya hanya ingin memberikan berkas yang harus segera Bapak tanda tangani, karena mau langsung saya bawa untuk pertemuan jam 1 siang," ujar Kenzi.


Suasana terasa canggung di ruangan tersebut. Nisa memilih untuk cuek, karena saat ini dia sudah resmi menjadi istri laki-laki lain. Dia harus menjaga perasaan suaminya. Nisa memilih untuk menyiapkan makanan untuk dirinya dan juga suaminya. Sedangkan Kenzi sesekali melirik ke arah Nisa yang bersikap masa bodo dengannya. Posisi mereka saat ini hanya sekedar atasan dan bawahan, dan juga sebagai istri dari bosnya.


"Ada lagi yang harus saya tanda tangani?" tanya Fatih. Dia bersikap profesional dalam bekerja. Kenzi mengatakan kalau sudah tidak ada yang perlu di tanda tangani.


"Baiklah kalau begitu. Oh ya lusa saya akan berangkat berbulan madu, tolong kamu kondisikan sebaik mungkin. Tolong kamu cek kembali apa ada yang perlu kamu butuhkan dari saya, kemungkinan besok saya akan ke kantor tapi hanya sampai habis makan siang saja," ungkap Fatih.


Sakit, seperti tertusuk pisau belati. Hati Kenzi terasa terkoyak mendengar mantan istrinya akan berbulan madu dengan laki-laki lain. Jika dirinya dulu menolak merawanin Nisa, maka saat ini dia hanya bisa menelan salivanya mengetahui laki-laki lain 'lah yang merasa beruntung memiliki Nisa seutuhnya.


Tiba-tiba saja Kenzi merasa lesu, dia pamit keluar untuk pergi meeting bersama klien. Sedangkan Nisa dan Fatih melanjutkan kebersamaan mereka, menikmati makan siang bersama dengan romantis.

__ADS_1


__ADS_2