
Fatih baru saja pulang dari kantor dan memilih untuk langsung mandi. Hari ini dia pulang telat karena harus mengecek laporan keuangan perusahaan yang di berikan bagian keuangan. Senyuman terlihat di sudut bibirnya, melihat wajah sang istri yang selalu menggemaskan.
Fatih naik ke ranjang secara perlahan dan mengelus rambut istrinya yang tertidur pulas tak lupa mengecup kening sang istri. Tentu saja hal itu membuat Nisa terusik dari tidurnya dan perlahan membuka matanya.
"Baru pulang kamu? Maaf aku ketiduran ga menyambut kamu pulang. Sudah makan belum?" tanya Nisa lembut. Inilah hal yang paling di suka Fatih dari Nisa, dia selalu menghargai dirinya sebagai suami.
"Lumayan, tadi datang aku langsung mandi. Ya sudah tidur aja lagi kalau masih mengantuk, jangan di paksain. Nanti kalau aku lapar, aku ambil saja sendiri di meja," sahut Fatih.
"Kalau kamu bangun, yang ada aku ingin makan yang lain," goda Fatih dan langsung mendapatkan capitan dari istrinya. Perlahan mata Nisa terbuka lebar karena godaan suaminya. Fatih memang sengaja melakukannya.
Tangan Fatih sudah mulai membuka kancing piyama milik Nisa menampakkan pemandangan yang sangat indah. Nisa hanya pasrah saat tangan suaminya dengan lihai membuat tubuhnya terlihat polos. Tubuh istrinya selalu menjadi candu untuknya, padahal saat bersama Tia dulu Fatih tak seperti itu karena Tia sering kali menolak dengan alasan cape atau tidak mood.
"Assalamualaikum. Maaf Papa ganggu kamu dulu ya sebentar. Sehat terus ya anak-anak Papa," ucap Fatih sambil mengelus perut istrinya dengan lembut. Fatih selalu memperlakukan Nisa dengan baik.
"Aaahh..." desauan keluar dari bibir Nisa saat Fatih membenamkan bibirnya di bukit kembar miliknya. Ini adalah tempat favorit kedua Fatih.
Tangan Fatih mulai menyelusuri leher, tubuh, dan berlabuh di pusat kenikmatan sang istri. Jarinya mulai bermain di sana membuat tubuh sang istri bergelinjang hebat merasakan sensasi permainan suaminya.
Bibir Fatih sudah beralih di bibir kenikmatan milik sang istri, menjilati hingga membuat Nisa semakin menggila. Milik Nisa sudah terasa basah, dia mengalami pelepasan pertama. Hal itu membuat Fatih ikut menggila dan siap mempertemukan miliknya.
"Sayang aku mulai ya, aku sudah sangat menginginkannya," ucap Fatih yang napasnya sudah terengah-engah. Fatih mulai mensejajarkan miliknya dengan milik suaminya, melebarkan kedua pangkal paha istrinya dan membenamkannya. Memompanya, melum*at bibir istrinya dengan hasrat yang menggebu.
Semakin lama permainan Fatih semakin di percepat, dia sudah merasakan nikmat yang luar biasa, matanya sudah terlihat merem melek. Di tambah tangannya terus mere*mas kedua bukit kembar istrinya. Hingga akhirnya keduanya mengerang bersama.
__ADS_1
❤️❤️❤️
"Aku mau makan laper, apa kamu juga mau makan?" ucap Fatih yang baru saja keluar dari kamar mandi selesai membersihkan sisa-sisa percintaan.
"Emm, tapi aku mau makan nasi goreng buatan kamu yang pedas dan pakai telor mata sapi," sahut Nisa yang sudah merasa menginginkannya.
"Baiklah, kamu tunggu di meja makan biar aku buatin dulu nanti kita makan bersama." ujar Fatih membuat Nisa tersenyum bahagia, suaminya memang paling pintar membuatnya bahagia meskipun dengan hal yang sederhana.
Nisa memperhatikan wajah suaminya yang sedang sibuk memasak di dapur. Senyum manisnya terus mengembang di sudut bibirnya kala melihat suami sempurnanya. Dia bersyukur memiliki suami siaga. Bukan hanya tampan dan mapan, Fatih juga pintar memasak.
"Tara ... masakan papa sudah selesai untuk Mama dan anak-anak papa." ucap Fatih sambil meletakkan satu piring nasi berisi telor mata sapi.
Nisa makan sangat lahap. Fatih memang sering kali memasak saat masih bujangan dulu. Dia sudah terbiasa hidup mandiri saat harus kos bekerja di Jakarta. Tak lupa dirinya membuatkan susu coklat hangat untuk istrinya.
Berbeda halnya dengan Fatih dan Nisa yang sudah tertidur pulas, justru Tia tak henti-hentinya menangis menatap ruangan yang terlihat sepi. Air matanya tak henti-hentinya menetes satu persatu. Menyesali atas apa yang dia perbuat dulu.
"Maafkan aku ya Allah. Maafkan atas kesombongan yang selama ini aku perbuat. Aku menyesalinya. Bahkan engkau tak mengizinkan aku untuk memiliki keturunan tak bisa menjadikan aku sebagai seorang ibu dari anak-anakku. Cinta dan na*psu telah menghancurkan hidupku. Aku menyesal telah membela mati-matian laki-laki yang akhirnya menghancurkan hidupku. Di saat aku berjuang untuk bangkit dan melanjutkan hidup, justru dia membuang aku begitu saja. Dia tak menginginkan wanita yang tak waras dan tak mampu memberikan keturunan untuknya. Dengan teganya dia menceraikan aku. Hiks ... hiks. Aku benar-benar menyesal karna bersifat sombong ke Fatih." ucap Tia lirih.
Tia jadi teringat kenangan dulu, bagaimana dirinya memperlakukan Fatih seperti orang terhina karena Fatih hanya seorang pekerja di Perusahaan orang tuanya. Dia cinta Fatih, tapi kesombongan menghancurkan dia. Tia seringkali menginjak-injak harga diri Fatih. Selama ini Fatih sudah bersikap sabar.
"Bismillah. Aku sudah merasa lebih baik. Aku sudah mengontrol emosi aku. Aku sudah mengikhlaskan semuanya dan akan menjalankan kehidupan ke depannya dengan baik. Memang perceraian aku dan Aditya yang terbaik dari pada aku tersiksa melihat Aditya berselingkuh dengan wanita lain." ucap Tia dengan penuh keyakinan. Saat dirinya sedang hamil saja, Aditya sudah memperlakukan dirinya tidak baik dan kerap meninggalkan dia untuk menginap di luar.
❤️❤️❤️
__ADS_1
Pagi yang cerah, secerah hati Tia saat ini. Wajahnya sudah terlihat segar. Bersemangat untuk menjalani kehidupan selanjutnya. Dia berharap agar segera di perbolehkan pulang. Pagi ini dokter Alex akan memeriksa keadaan Tia seperti biasa. Tia berdandan cantik dengan pakaian dan alat make up sederhana yang di bawakan sang Bunda. Dirinya tak perlu lagi memakai jasa perawat untuk memandikan dirinya. Dia sudah normal kembali.
"Wah pagi ini kamu sudah terlihat segar dan cantik. Dokter saat senang melihatnya." ujar Dokter Al. Dokter Al adalah dokter kebanggaan di rumah sakit jiwa itu. Bukan hanya tampan dan memiliki kesabaran, dia juga sangat pintar mengambil hati pasien rumah sakit jiwa di situ. Tia melengkungkan senyuman di sudut bibirnya.
"Seperti yang dokter lihat, aku sudah sangat baik bukan? Aku ingin pulang dan kembali kepada orang tuaku. Apa aku sudah di perbolehkan pulang?" ucap Tia.
"Tentu saja, mengapa Dokter tak mengizinkan kalau kamu memang sudah sehat kembali. Yang terpenting kamu tidak boleh stres lagi, jalani hidup apa adanya. Nikmati saja, ikhlaskan apa yang telah terjadi dengan hidupmu," pesan Dokter Al dan Tia memberikan jempol sebagai tanda dia mengiyakan, mengikuti permintaan Dokter Al.
Sambil menunggu up mampir yuk di karya teman ku
Ketiganya memiliki nasib yang sama.tidak tau asal usulnya, tak tau dimana keluarga berada. apa mereka anak haram yang tak di inginkan?
Mereka gadis yang memiliki inisial yang sama TRIPLE'K, mereka bertemu saat kecil, sampai sekarang ketiganya menjadi sepasang sahabat yang tak bisa di pisahkan.
Hanya tinggal di sebuah kontrak petak kecil? Mereka tidak pernah mengeluh. Mereka menjalaninya dengan suka cita. ketiganya banting tulang bekerja sana sini untuk melanjutkannya pendidikan ke universitas yang mereka inginkan.
Tetapi di suatu kejadian, mereka bertemu dengan Pria kaya yang angkuh dengan kepribadian yang berbeda beda. mereka terikat dalam suatu perjanjian.
Bagaimana nasib mereka kedepannya?
Apa TRIPLE'K bisa bersabar dengan kepribadian menyebalkan mereka yang membuatnya naik darah?
__ADS_1