Istri Yang Tak Di Hargai ( Berubah Cantik )

Istri Yang Tak Di Hargai ( Berubah Cantik )
Terbaring Lemah


__ADS_3

Farrah perlahan membuka matanya, melihat sekeliling ruangan kamarnya dia terbaring. Perlahan dirinya teringat saat dirinya sebelum jatuh pingsan. Tubuhnya masih terasa lemas, wajahnya pun masih terlihat sangat pucat meskipun masih terlihat cantik. Pipinya terlihat tirus dan tubuhnya hanya tinggal tulang saja. Tak ada lagi tubuh seksi yang dia miliki dulu.


Farrah meneteskan air matanya, dadanya terasa sesak. Jika dirinya di suruh untuk memilih, dia pasti akan lebih memilih untuk pergi selamanya dari dunia dari pada harus hidup menderita seperti ini merasakan siksaan yang begitu menyakitkan.


"Mengapa aku tak mati saja? Mengapa engkau masih memberikan aku untuk hidup?" ucap Farrah lirih yang sudah terisak tangis.


Perawat yang mendatangi ruangan rawat Farrah merasa terkejut saat melihat Farrah sudah membuka matanya. Sang perawat langsung memanggil dokter jaga untuk memeriksa kondisi Farrah saat ini.


"Dok, sebenarnya saya ini sakit apa?" tanya Farrah yang masih terlihat lemah.


"Maaf bu kami belum bisa bicara dulu kepada Ibu saat ini, karena kondisi ibu yang masih sangat lemah. Lebih baik ibu berusaha untuk sehat dan bersemangat kembali. Terus berdoa semoga penyakit ibu bisa di sembuhkan," ucap Dokter yang memeriksa Farrah saat itu.


"Sus, bisa saya meminta tolong untuk menghubungi suami saya?" pinta Farrah kepada sang perawat.


Perawat tersebut langsung menghubungi Aditya untuk memberi tahu kalau istrinya Farrah sudah sadar kembali dan meminta untuk segera datang ke rumah sakit. Saat itu Aditya sedang berada di kamar mandi. Tia yang mendengar suara ponsel suaminya berdering langsung segera mengangkat telepon tersebut. Tia bersikap jahat memilih untuk menutupi dari sang suami. Dia tak rela jika suaminya mengurus Farrah. Dia mengatakan kepada sang perawat, meminta Farrah agar tak menggangu suaminya lagi.


"Aku tak akan membiarkan kamu untuk dekat dengan suamiku lagi! Mengapa kau tak mati saja sih, segala sadar kembali. Bikin susah saja," gumam Tia dalam hati.


"Kasihan pasien ini, ternyata suaminya memiliki istri lain. Pasti bisa drop kalau dia mengetahui hal ini," gumam perawat tersebut dalam hati, dia merasa tak tega untuk mengungkapkannya. Perawat itu mengatakan kalau suaminya masih belum bisa di hubungi.


❤️❤️❤️

__ADS_1


Sudah tiga hari Farrah terbangun dari komanya, tetapi sampai saat ini Aditya masih belum menengok dirinya hanya air mata yang menemani hari-harinya. Tak ada tempat dirinya untuk berpijak.


"Kamu memang sudah melupakan aku, Kak. Tak sedikitpun rasa kepedulian kamu kepadaku," ucap Farrah lirih. Bagaimana Aditya datang, kalau dirinya tak tau kalau dirinya sudah terbangun dari komanya.


"Apa ga sebaiknya kita menghubungi suaminya kembali? Kasihan pasien itu, setiap hari menanti suaminya datang menengoknya. Jam segini pasti suaminya sedang di kantor, sebaiknya kita menghubunginya kembali. Kali ini biar aku yang menghubunginya."


Sang perawat mencoba menghubungi Aditya kembali. Akhirnya sang perawat bisa berbicara langsung dengan suami dari pasien tersebut. Tentu saja Aditya merasa terkejut saat sang perawat mengatakan kalau temannya sempat menghubungi dirinya 3 hari yang lalu. Aditya memang tak mengetahuinya, karena Tia telah menghapus panggilan masuk dari rumah sakit dan menutupinya dari Aditya.


"Tia, aku yakin semua ini ulah kamu. Ternyata otak mu lebih licik dari Farrah," ucap Aditya.


Setelah jam pulang kantor, Aditya langsung bergegas ke rumah sakit. Sebelumnya dia mampir dulu ke sebuah swalayan dan juga restoran siap saji untuk membelikan makanan untuk Farrah, wanita yang masih berstatus istrinya.


"Apa tadi ada yang datang? Siapa yang membawa bungkusan ini?" gumam Farrah dalam hati. Dirinya berusaha untuk bangkit tapi tak bisa, tubuhnya terasa kaku sulit di gerakan. Terasa lemas dan hanya bisa terbaring lemah di ranjang.


"Hiks ... hiks ... hiks ... mengapa aku seperti ini? Mengapa kau tak membuat aku mati saja?" teriak Farrah histeris.


Aditya dan Perawat yang bertugas datang menghampiri ruangan saat ini Farrah berada. Farrah akan di pindahkan ke ruang perawatan.


"Kamu ini apa-apaan si?" ujar Aditya saat melihat Farrah sudah membuka selang infusnya.


"Aku cape hidup seperti ini, hanya bisa terbaring lemah seperti ini! Lebih baik aku mati, tak ada gunanya aku hidup jika harus menderita seperti ini! Kamu juga akan peduli sama aku Kak, untuk apa aku hidup di dunia ini," cerocos Farrah membuat Aditya merasa malu. Walaupun kenyataannya benar, tak seharusnya Farrah berbicara seperti itu di hadapan perawat.

__ADS_1


"Sudah ... sudah tidak usah mengoceh terus! Kamu itu masih di beri kesempatan untuk hidup, makanya sampai saat ini kamu masih bisa membuka mata kamu," sahut Aditya geram.


Tia menghubungi suaminya yang saat ini berada di rumah sakit, dia merasa bingung karena sang suami belum juga kembali dari kantornya. Aditya memilih tak meresponnya dan justru mematikan ponselnya. Hal itu tentu saja membuat Tia merasa kesal.


"Breng*sek malah di matikan teleponnya. Memangnya kamu kemana si? Apa jangan-jangan ke wanita ****** itu?" cerocos Tia.


"Kamu makan ya sama di makan juga cemilannya, biar badan ga kurus-kurus banget cuma tulang begituan. Kalau masih mau hidup, harus semangat!" pesan Aditya yang berujung menyakitkan.


"Aku ingin pulang! Aku lelah di sini!" cerocos Farrah.


Aditya mengatakan lebih baik Farrah di rumah sakit saja sampai benar-benar pulih. Karena di apartemen pun tak akan ada yang mengurusnya, karena Tia tidak akan mau mengurusnya. Kamu tenang saja, aku akan membayar biaya rumah sakit selama di sini.


"Tapi ruangan ini sangat panas, hanya kelas 3. Aku bosan, paling tidak kamu pindahkan aku ke ruangan kelas satu atau VVIP agar aku tak merasa bosan." protes Farrah.


"Kau ini masih saja protes, sudah syukur aku masih mau membiayai biaya rumah sakit kamu. Kalau ku mau, aku bisa menghentikannya! Lebih baik aku pakai uangnya untuk keperluan lainnya," sahut Aditya ketus.


Aditya langsung pergi meninggalkan Farrah, dia tak peduli Farrah berteriak memanggilnya. Sebelum pergi, dia menitipkan Farrah kepada Perawat. Karena kelak dia akan jarang menengok. Jika ada hal penting saja, dirinya baru akan datang.


Aditya baru saja sampai di apartemen dan sudah di sambut dengan Tia yang sudah berkecak pinggang dengan tatapan tajam. Gayanya seperti seorang preman tak menyadari kalau dirinya sedang hamil.


"Dari mana saja kamu? Pasti kau dari ja*lang itu kan?" cerocos Tia.

__ADS_1


__ADS_2