
Setelah di rawat selama tiga hari, akhirnya mama Eliza sudah di perbolehkan pulang hari ini. Kini mama Eliza, papa Hadi, dan Kenzi sedang bersiap-siap untuk pulang. Untungnya semua biaya di tanggung bpjs dan untuk biaya hari-hari selama ini, Felisa lah yang menanggungnya. Padahal uang tabungannya itu, niatnya untuk dia melahirkan.
Dengan menaiki taksi online, mama Eliza dan papa Hadi baru sampe di rumah. Sedangkan Kenzi pulang naik motor, agar sampai lebih dulu untuk menyambut sang mama pulang ke rumah. Dia lah yang membersihkan rumah dan kamar mama nya, karena sudah tidak ada lagi pembantu atau pun Farrah di rumah.
"Kemana Farrah? Mengapa hanya kalian berdua yang di rumah?" tanya mama Eliza membuat Kenzi dan sang kakak saling pandang. Saat ini sang mama menanyakan keberadaan Farrah yang tak ada, nanti malam atau besok pagi pasti menanyakan keberadaan Aditya.
"Kenapa ekspresi kalian begitu? Apa ada yang kalian rahasiakan dari mama?" tanya mama Eliza lagi menyelidik. Namun bukannya menjawab, Felisa justru malah menangis dan memeluk sang mama meluapkan kesedihannya. Hal itu membuat mama Eliza semakin tanda tanya besar dengan apa yang terjadi dengan anak-anaknya.
Felisa merenggangkan pelukannya dan menatap wajah sang mama yang masih terlihat pucat. Sungguh dirinya merasa berat untuk mengatakan hal ini kepada sang mama.
"Katakanlah apa yang terjadi dengan kalian? Mama ingin mengetahuinya!" ujar mama Eliza memaksa. Memandang kedua anaknya secara bergantian.
Akhirnya Felisa menceritakan saat itu kepada mama dan papanya. Saat dirinya pulang bersama Kenzi ke rumah untuk mengambil pakaian saat mamanya masuk rumah sakit, mereka menemukan Aditya dan Farrah sedang berada di kamar Kenzi dalam kondisi polos dan saat itu Aditya berada di atas tubuh Farrah. Air mata Felisa terus mengalir tidak bisa terbendung lagi, menemani dirinya bercerita.
Hati ibu mana yang tak akan merasa sakit, kala melihat anak kandungnya di khianati oleh mantan suaminya, terlebih saat ini sang anak sedang hamil tua dan sebentar lagi akan melahirkan.
"Kenapa cobaan masih saja menghampiri keluarga kita sih? Ibarat kata sudah jatuh ketiban tangga pula. Tetapi kita bisa apa?" ujar mama Eliza lirih. Eliza bisa merasakan apa yang di rasakan anaknya saat ini.
__ADS_1
❤️❤️❤️
Mendengar bunyi bel di rumahnya berbunyi, Eliza bergegas membuka pintu rumahnya untuk mengetahui siapa tamu yang datang. Saat itu hanya ada dirinya dan Felisa di rumah. Karena Kenzi dan papa Hadi sedang melakukan pencarian pekerjaan kembali.
"Siapa ya mereka?" ucap mama Eliza penuh tanda tanya dengan tamu yang berada di luar pagar.
Mama Eliza akhirnya membuka pagar rumah tersebut dengan ragu-ragu. Dan ternyata tamu tersebut adalah dua orang berpakaian kemeja rapi seperti orang kantoran.
"Maaf, cari siapa ya?" tanya mama Eliza sambil menatap kedua orang itu secara bergantian.
"Permisi bu. Maaf mengganggu waktu anda! Saya dengan Roni dari Bank Mega. Kami ingin bertemu Pak Hadi Wijaya." ucap Roni, orang yang di utus pihak bank untuk menyampaikan bahwa rumah Pak Wijaya akan di sita bank karena menunggak.
Seperti bom atom yang meledak, itulah yang di rasakan mama Eliza saat itu, mendengar kalau kedua orang itu adalah perwakilan dari bank tempat sertifikat rumahnya di jaminkan.
"Tenang Eliza, coba kamu hadapi kedua orang ini! Cari tau apa yang mereka inginkan!" ucap mama Eliza kepada hatinya.
Mama Eliza mempersilahkan kedua orang tersebut untuk masuk, dia ingin mencoba meminta waktu untuk membayar.
__ADS_1
"Apa pak Hadi ada bu? Saya harus bicarakan hal ini kepada beliau perihal penting." ujar Roni kembali.
Mama Eliza menjelaskan kalau sang suami sedang keluar mencari pekerjaan baru, karena sang suami beberapa bulan ini tidak bekerja dan saat ini sedang mencari pekerjaan baru. Mama Eliza meminta waktu untuk melakukan pembayaran cicilan sertifikat yang di jaminkan. Saat melakukan renovasi rumah itu, papa Hadi menjaminkan sertifikat rumah itu ke bank. Dia membangun rumahnya menjadi tingkat dan bagus.
"Tidak bisa bu! Pihak bank sudah cukup toleransi cukup lama! Jika sudah tidak mampu, lebih baik rumah ini di serahkan saja ke pihak bank!" ujar pria yang di sebelah pak Roni.
Tak terbayang perasaan Eliza saat itu, Allah benar-benar mengambil semua yang dia miliki karena kesombongannya. Tangis dan penyesalan pun tak ada gunanya lagi. Tak bisa mengembalikan semuanya lagi seperti dulu. Mama Eliza tak mampu lagi menahan tangisnya.
"Baiklah bu, kami pihak bank akan menunggu sampai tujuh hari jika tidak mohon maaf sekali kami harus menyita rumah ini! Kami pamit, tolong sampaikan kepada pak Hadi." ujar pa Roni.
Debt colector bank sudah pulang, dan hanya meninggalkan kesedihan yang di rasakan mama Eliza. Air mata yang turun sejak tadi tak bisa di bendung lagi. Mendengar suara tangis sang mama, membuat Felisa turun dari kamarnya dan menghampiri sang mama yang sedang menangis tersedu-sedu.
"Ma, mama kenapa?" tanya Felisa sambil mengelus punggung sang mama. Mencoba menenangkan.
"Tadi ada pihak bank Fel, dan mereka menyampaikan kalau dalam satu minggu cicilan rumah ini tidak ke bayar maka pihak bank akan menyita rumah ini. Hiks...hiks...hiks...Hidup kita menderita banget. Semua ini gara-gara Aisyah, jahat banget wanita itu menghancurkan kita." cerocos mama Eliza di iringi isak tangis.
"Sabar ma, semoga kita bisa melewati ujian ini! Jangan menyalakan Aisyah, justru ini harus kita jadi pelajaran hidup untuk kita! Pengalaman ini mengajarkan kita untuk hidup lebih baik. Felisa juga menyesal kalau selama ini tidak bisa menjadi istri yang baik buat mas Aditya hingga akhirnya dia berpaling ke wanita lain. Hanya saja Felisa tak hanis pikir mengapa mas Aditya memilih wanita ib*lis itu. Felisa menyadari kalau Felisa dulu sangat jahat sama Aisyah. Di saat dia mendapat caci maki dan penghinaan dari Kenzi, aku tak mengingatkan Kenzi dan justru malah ikut-ikutan. Dan sekarang Felisa merasakan di campakkan mas Aditya, dia lebih membela Farrah." ucap Felisa lirih.
__ADS_1
Sungguh berat cobaan yang di rasakan keluarga Hadi Wijaya, cobaan silih berganti, datang bertubi-tubi. Membalaskan apa yang mereka perbuat dulu. Allah benar-benar murka kepada mereka. Dan mereka hanya bisa meratapi kehidupan mereka yang penuh keterbatasan.
"Tetap mama ga terima, semua ini berawal dari Aisyah! Dia begitu tega memecat papa dan Kenzi. Kalau mereka masih bekerja, kita ga akan susah seperti ini. Dia benar-benar tega menutup akses Kenzi dan papa mendapatkan pekerjaan kembali." ujar mama Eliza merasa tidak terima. Dan Felisa hanya bisa menghela nafas panjang.