Istri Yang Tak Di Hargai ( Berubah Cantik )

Istri Yang Tak Di Hargai ( Berubah Cantik )
Perubahan Aditya


__ADS_3

"Pokoknya aku ingin kamu segera nikahi aku dan aku tak mau kalau hanya menikah secara siri. Orang tua aku orang terhormat, kalau sampai mereka mengetahui aku mencoreng nama baik dia, pasti aku akan di usir. Aku cinta sama kamu, aku ingin hidup bahagia sama kamu." ucap Tia sambil memeluk tubuh Aditya erat.


Namun, bukannya Aditya menyambut pelukan Tia. Aditya justru melepaskan pelukan Tia. Dia masih merasa shock dan masih berpikir bagaimana dirinya harus bicara dengan Farrah. Habislah dia akan menjadi amukan Farrah. Aditya tidak mengiyakan permintaan Tia, memilih untuk diam.


"Ayo kita pulang! Aku sudah janji sama istri ku kalau sore ini aku akan pulang dari luar kota." ucap Aditya sambil mengambil ponselnya. Tia hanya bisa melongo mendengar penuturan Aditya yang masih bersikap biasa. Lebih memilih pulang bertemu dengan Farrah. Lantas dia menganggap Tia apa? Tak ada sedikit pun dirinya menjaga perasaan Tia yang saat ini sedang mengandung anaknya.


Aditya meninggalkan Tia begitu saja, keluar dari kamar hotel membuat air matanya turun satu persatu.


"Dasar laki-laki breng*sek, setelah kamu menanam benih di rahimku kamu pergi begitu saja, tak mau bertanggungjawab." teriak Tia seperti orang gila.


Penyesalan selalu datang belakangan, rayuan dan nap*su menghancurkan hidupnya. Malu rasanya untuk mengungkapkan apa yang terjadi dengannya kepada kedua orang tua angkatnya. Nasi telah menjadi bubur, kini dia telah mengandung anak dari laki-laki breng*sek itu.


"Maafkan Tia, Bun. Tia tak pernah mendengar ucapan Ayah dan Bunda. Tia menyesal. Hiks...hiks...Ternyata mencintai kamu begitu menyakitkan," ucap Tia lirih. Air matanya terus mengalir membasahi wajahnya.


❤️❤️❤️


Aditya baru saja sampai di apartemen, matanya masih sangat mengantuk. Dia ingin melanjutkan tidurnya yang sempat terganggu. Aditya melewati Farrah begitu saja. Setelah mandi dia langsung naik ke atas ranjang. Farrah hanya terdiam memandang suaminya yang kini bersikap dingin kepadanya.

__ADS_1


"Aku senang banget Kakak pulang cepat," ucap Farrah sambil memeluk suaminya dari belakang. Namun, Aditya tak meresponnya. Dia memilih untuk tidur.


Tia baru saja sampai di rumah, wajahnya terlihat lesu tak bersemangat. Sangat berbeda saat kemarin dia berangkat. Harapannya untuk hidup bahagia dengan kekasihnya telah sirna. Aditya tak serius mencintainya, jika Aditya mencintainya pasti dia tak akan membuat Tia terluka dan sedih.


"Dari mana saja kamu? Jam segini baru pulang. Kamu pikir rumah ini tak memiliki aturan, hingga kamu bebas sesuka kamu? Kalau kamu memang sudah tak menanggap kami orang tua kamu, silahkan kamu angkat kaki dari sini! Dasar anak tak tahu diri! Apa kamu tak ingat siapa yang membawa kamu menjadi orang yang berarti, kami juga memberikan kasih sayang yang tulus seperti anak kami sendiri. Tetapi balasan kamu seperti apa kepada kami?" ucap Fahri dengan emosi yang sudah memuncak. Dia merasa sangat marah karena merasa tak di hargai oleh Tia.


"Sabar Yah, tahan emosi Ayah! Kita bicarakan baik-baik!" ucap Bunda Almira mencoba menenangkan suami yang sedang terbakar api amarah. Almira merasa tak tega melihat Tia yang menangis tersedu-sedu.


"Maafkan Tia, Yah! Tia mengaku salah, tolong jangan usir Tia dari sini! Hanya Ayah dan Bunda tempat Tia berlindung." ucap Tia memohon. Bahkan kini dirinya sudah bersujud di kaki Fahri.


Fahri memandang lurus, dia tak ingin menatap wajah Tia. Hatinya merasa panas, karena kasih sayang yang yang dia berikan kepada Tia sia-sia. Dia gagal untuk mendidik Tia menjadi pribadi yang baik.


Air mata Tia tak terbendung lagi. Kepalanya tiba-tiba saja sakit. Dia tak kuasa menahan beban yang dia rasakan saat ini, hingga akhirnya Tia jatuh pingsan tak sadarkan diri. Melihat Tia pingsan tentu saja Fahri merasa tak tega, dia menyuruh supir istrinya untuk membawa Tia ke kamarnya.


"Sebenarnya ada apa sih kamu, Ti? Kemarin kamu terlihat bahagia, hari ini Bunda lihat kamu begitu murung tak ceria." ujar Bunda Almira.


Fahri langsung memanggil anak sahabatnya yang seorang Dokter. Dokter Al faridzi adalah Dokter pribadi sekaligus anak dari sahabat Fahri sewaktu SMA.

__ADS_1


"Tia kenapa om?" tanya Dokter Al yang baru saja sampai di kediaman Fahri. Al berusia 30 tahun.


"Ga ngerti juga. Tadi habis om marahin terus dia nangis, eh tiba-tiba pingsan." jelas Fahri kepada Al. Dulu Tia sempat jatuh cinta pada sosok Al. Al seorang Dokter yang memiliki wajah tampan dan Atletis. Sayangnya Al menolaknya, karena dia masih ingin fokus dengan kariernya. Hingga akhirnya Tia bertemu dengan Fatih di kantor Ayahnya, saat itu Fatih bekerja sebagai HRD di Perusahaan Aneka Karya. Setelah menjalani hubungan selama tiga bulan, Fatih melamarnya. Karena Fatih tak ingin berpacaran terlalu lama. Perbedaan usia mereka cukup jauh.


"Baiklah, aku periksa dulu." ujar Dokter Al.


Dengan di antar Fahri dan Almira, Al naik ke kamar Tia untuk memeriksa keadaan Tia saat ini. Menurut pemeriksaan Al, kondisi Tia dalam keadaan normal tak ada masalah. Dia mencoba memberikan minyak angin di hidung Tia, agar Tia terbangun dari pingsannya. Tia mengerjapkan matanya secara perlahan. Dirinya menatap wajah semua orang yang berada di sana.


Uwek ... uwek ... uwek.


Tia langsung bangkit dan langsung berlari ke kamar mandi. Perutnya terasa mual, dan akhirnya Tia memuntahkan semua isi perutnya. Wajah Tia benar-benar terlihat pucat dan tubuhnya terasa lemas membuat dirinya jalan sempoyongan. Melihat kondisi anaknya yang seperti itu, Fahri langsung memapahnya ke ranjang.


Al mencurigai kalau Tia saat ini sedang hamil. Karena ciri-ciri yang terjadi kepada Tia sama seperti orang hamil.


"Ti, ada beberapa hal yang aku mau tanyain sama kamu. Tolong kamu jawab yang jujur ya!" ucap Al dan Tia menganggukkan kepalanya dengan ragu. Jantungnya berpacu sangat cepat. Dia merasa takut kalau sampai Al mengetahui kalau dirinya saat ini sedang hamil.


" Apa kamu sudah datang bulan?" tanya Al profesional. Jika dirinya saat ini tidak memakai jas dokter, mungkin dirinya akan merasa risih menanyakan hal pribadi seperti itu. Tia menggelengkan kepalanya lemah sambil menatap wajah kedua orang tuanya satu persatu.

__ADS_1


Tia merasa takut untuk mengatakan kalau dirinya saat ini sedang hamil kepada orang tuanya. Dia yakin Ayahnya akan marah kepadanya.


"Maksud kamu apa Al menanyakan hal itu kepada Tia? Apa yang kamu maksud kalau saat ini Tia sedang hamil?" tanya Ayah Fahri serius. Matanya menatap lekat ke arah Tia


__ADS_2