
"Sayang, apa aku boleh meminta sesuatu," ucap Felisa sambil menatap wajah sang suami.
"Tentu saja, katakanlah! Aku akan mencoba mewujudkannya selama aku bisa," sahut Adrian sambil mengelus rambut istrinya dengan lembut. Adrian selalu bisa memperlakukan istrinya dengan mesra.
Felisa mengatakan kalau dirinya mendapatkan telepon dari Mama Indah, mantan mertuanya. Mama Indah mengatakan kalau Aditya ingin bertemu dengan Elang. Sontak hal itu membuat Adrian merasa tak suka.
"Kenapa tidak mati saja sih itu orang, kalau jadinya akan seperti ini menyusahkan orang lain. Jujur aku sebenarnya tak ingin mengizinkan kamu untuk bertemu si pengkhianat itu. Dirinya pantas untuk mendapatkan pembalasan seperti itu," ujar Adrian ketus. Jika Felisa sudah melupakan kesalahan Aditya, justru Adrian masih merasa geram dengan sikap Aditya dulu di masa jayanya.
__ADS_1
Felisa terdiam, dia mencoba menangkap ucapan suaminya. Memang ada benarnya juga yang dikatakan suaminya itu. Tetapi Felisa merasa tak enak hati, karena Mama Indah dan Papa Rizal adalah orang yang mengangkat dirinya dari keterpurukan. Felisa banyak memiliki hutang budi kepada kedua orang tua Aditya. Lagi pula, dia tak ingin memisahkan Elang dari orang tua kandungnya. Meskipun tak semudah itu Elang menerima Aditya sebagai Papanya.
"Jika kamu menginginkannya, mau tak mau aku akan mengizinkan kamu untuk bertemu dengannya. Semua aku serahkan kepada kamu," ucap Adrian sambil mengecup pipi Felisa mesra.
Adrian selalu bersikap manis kepada Felisa. Meskipun pendekatan mereka bisa dikatakan sangat singkat. Sama halnya dengan cinta mereka yang berawal sangat cinta. Seperti diketahui Adrian jatuh cinta kepada Felisa saat pandangan pertama di acara resepsi pernikahan sepupunya.
"Maaf! Jika sebenarnya di dalam lubuk hatimu yang terdalam, kamu sebenarnya tak menyukai aku untuk bertemu dengannya. Aku janji tak akan di luar batasan," ujar Feli dan Adrian hanya menganggukkan kepalanya. Dia akan mencoba memberi kepercayaan kepada istrinya yang sangat dia cintai.
__ADS_1
"Papa Elang, Papa Adrian," teriak Elang. Elang teriak histeris, dia justru menangis.
"Iya, iya. Papa Adrian, Papanya Elang. Meskipun demikian Elang tetap bersikap baik ya sama Papa Adit. Kasihan Papa Adit sekarang sudah tidak bisa melihat dan tidak bisa berjalan. Nanti dia pasti sedih. Kita sebagai umat manusia, harus bersikap baik kepada siapapun. Apabila kita memberikan kebahagian kepada orang yang sakit, kelak kita akan mendapatkan pahala dari Allah. Elang mau tidak dapat pahala dari Allah," jelas Feli dan Elang menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
Mobil yang membawa mereka telah sampai, di depan gerbang rumah Adit. Rumah yang sempat memberikan kenangan untuk Felisa. Namun, kedatangan dirinya kini sudah dengan status yang berbeda. Felisa tak lagi menjadi istri dari Aditya.
"Dit, Felisa sudah sampai," ucap Mama Indah.
__ADS_1
Jika Adit bisa melihat dunia, pasti dirinya akan merasa bahagia karena bisa melihat wajah mantan istrinya yang bertambah cantik dan juga wajah anak semata wayangnya. Sayangnya hal itu tak akan terjadi, hanya bayangan gelap yang bisa dilihat Aditya. Hal itu membuat Aditya meneteskan air matanya.
Mama Indah mengajak Felisa dan Elang untuk masuk ke kamar Adit, tentu saja Adrian akan ikut menemani sang istri masuk ke dalam. Elang duduk di atas pangkuan Felisa. Anak kecil tak berdosa itu menatap lekat wajah Papanya. Anak seusianya sudah bisa merasa iba dengan kondisi laki-laki yang dibilang sebagai Papanya.