Istri Yang Tak Di Hargai ( Berubah Cantik )

Istri Yang Tak Di Hargai ( Berubah Cantik )
Perselingkuhan Aditya dengan Farrah


__ADS_3

"Enak banget sekarang kamu minta tolong sama kami. Memangnya kalian lupa apa yang kalian lakukan dulu kepada kami pada saat kami susah? Hanya untuk meminjam uang 500 ribu untuk makan anak-anak saja kamu menghina kami, menganggap suami saya pemalas. Nasib manusia tak pernah ada yang tahu, kini keadaan berbalik kepada kalian. Hinaan yang Eliza ucapkan dulu menjadi cambuk untuk kami berusaha. Kami banting tulang bekerja untuk mengumpulkan uang. Dan dari uang yang kami kumpulkan, kami membuka usaha kecil-kecilan di rumah berdua. Ternyata usaha yang kami rintis dengan penuh kesabaran dan kerja keras membuah hasil. Usaha kami berkembang pesat. Dari situ kami belajar bahwa tak ada yang bisa membantu kami di dalam kesulitan selain diri sendiri dan Allah.


Nyes


Sakit tak berdarah itulah yang di rasakan Eliza saat ini. Perbuatannya di masa lampau, terbalaskan sekarang. Semasa hidupnya dulu dia selalu menyakiti hati orang-orang, menganggap rendah orang, dan sombong. Kini hanyalah penyesalan yang dia lakukan. Menangis sampai air mata darah pun tak akan mengubah semuanya. Dirinya dulu telah menorehkan luka di hati orang yang berada di bawahnya.


"Ya sudah kalau tidak mau membantu, ga perlu ceramah panjang lebar." gerutu Eliza.


Eliza langsung mengajak paksa suaminya untuk pulang. Ternyata sifatnya masih saja tidak berubah, masih saja bersikap sombong. Padahal dia membutuhkan bantuan, tapi dia masih tidak bisa mengendalikan sifat angkuhnya.


Kini Eliza sedang dalam perjalanan pulang. Hatinya terasa rapuh, bahkan merasa putus asa karena tak ada yang bisa membantunya.


❤️❤️❤️


"Ma, mama! Ayo mah bangun!" teriak Hadi saat melihat sang istri yang tiba-tiba saja jatuh pingsan. Hadi langsung berteriak memanggil sang anak untuk meminta pertolongan.


Felisa yang mendengar sang papa berteriak, langsung bergegas untuk turun melihat apa yang terjadi dengan sang mama.


"Mas, mas! Mas, mama pingsan!" teriak Felisa memanggil suaminya. Untungnya Aditya ada di rumah, jadi mereka bisa membawa mama Eliza ke rumah sakit.

__ADS_1


Bukan hanya pak Hadi dan Felisa saja yang merasa khawatir, Kenzi pun merasa khawatir melihat kondisi sang mama yang tak sadarkan diri. Kenzi dan Pak Hadi meminta Aditya untuk mengantarkan mereka. Semua bergegas pergi ke rumah sakit. Kenzi pergi dengan menggunakan motor matic nya, sedangkan Farrah memilih untuk menunggu di rumah.


Akhirnya mama Eliza beserta Felisa, Kenzi, Papa Hadi, dan Aditya telah sampai di rumah sakit. Mama Eliza langsung mendapatkan pertolongan. Ternyata mama Eliza terkena serangan jantung hingga membuat jatuh pingsan. Felisa, Papa Hadi, dan Kenzi terlihat menangis. Mereka takut jika istri dan mamanya tak bisa terselamatkan.


Bagaimana dengan Aditya? Dia justru pamit kepada sang istri untuk pulang karena harus bertemu klien. Felisa yang sedang dalam kondisi sedih, otaknya tak bisa berpikir hanya mengiyakan saja ucapan suaminya itu, padahal hari ini hari Sabtu harusnya libur.


Aditya baru saja sampai di rumah, diam-diam dia mengendap ke kamar Farrah. Saat itu Farrah sedang mandi, karena baru selesai membersihkan rumah. Bodohnya Farrah dia tak mengunci pintu rumah, hingga siapa pun bebas untuk masuk. Dia takut saat dirinya mandi, sang suami pulang ke rumah dan dia tak mendengar karena sedang mandi.


"Sepertinya Farrah sedang mandi, ada suara gemercik air di dalam kamar mandi." gumam Aditya. Dia langsung mengetuk pintu kamar mandi. Farrah mengira kalau yang mengetuk pintu kamar mandi adalah suaminya, hingga dia langsung membuka saja tanpa memakai handuk dulu.


Aditya langsung mendorong tubuh Farrah hingga membentur tembok dan langsung mencumbunya mesra. Farrah tentu saja tak menolak, dia membalasnya.


Kenzi, Felisa, dan Pak Hadi sedang mengucap kata syukur karena mama Eliza sudah sadarkan diri kembali. Sudah lewat dari masa kritis. Dan untuk sementara waktu mama Eliza harus di rawat. Berhubung asuransi yang di biasanya di gunakan sudah tidak aktif, akhirnya mama Eliza di rawat dengan menggunakan BPJS. Tidak bisa di rawat di ruang VVIP. Selama ini, mama Eliza tak pernah menggunakan BPJS jika di rawat di rumah sakit. Sekarang dia sudah tak berdaya.


"Ken, kamu pulang dulu sana ambil pakaian mama sama papa! Kasihan mama biar bisa cepat ganti baju!" titah pak Hadi. Karena dia ingin istrinya menggunakan pakaian yang bersih dan nyaman. Saat ini hanya menggunakan daster sehabis memasak.


"Ayo Ken kakak temani kamu pulang, takutnya kamu ga ngerti pilih baju mama! Kakak juga sekalian ambil baju ganti." sahut kak Felisa.


"Yakin kakak bisa naik motor sama aku? Aku kasihan sama anak kakak dalam perut." ucap Kenzi.

__ADS_1


"Latihan Ken, biar anak kakak nanti ga menjadi anak yang manja seperti kakak! Biar bisa tahan banting." sahut Felisa sambil tersenyum. Felisa berusaha menyembunyikan perasaan sakitnya dari keluarganya. Dia tak ingin keluarganya mengetahui kalau suaminya suka membentak dan berkata kasar kepadanya.


Kini mereka sedang dalam perjalanan pulang. Berhubung jalan lancar dan menggunakan sepeda motor, mereka bisa cepat sampai di rumah.


"Kok ada mobil mas Aditya? Memangnya dia belum berangkat ketemu klien? Lagi pula aku baru inget kalau ini hari Sabtu. Masa hari libur tetap ketemu klien." gumam Felisa dalam hati, namun dia memilih diam hanya bicara dalam hati.


"Loch kak Aditya di rumah juga? Aku kira dia pergi?" tanya Kenzi, dan sang kakak hanya menaikan bahunya.


Keadaan rumah terlihat sepi, tak di kunci saat Felisa dan Kenzi masuk ke dalam. Tak ada satu orang pun saat mereka masuk, baik Farrah maupun Aditya. Tak ada tanda-tanda kehidupan.


"Ken, kok feeling kak jelek ya? Tapi ga mungkin kak suami kakak ada hubungan sama istri kamu? Coba kita masuk diam-diam mencari keberadaan mereka." ujar Felisa. Tiba-tiba saja jantungnya berpacu sangat cepat, seperti pertanda ada sesuatu yang terjadi. Kenzi setuju dengan ide sang kakak untuk naik ke atas pelan-pelan, dia pun menjadi merasa curiga dengan sang istri karena mendengar ucapan sang kakak.


Kenzi menggenggam tangan sang kakak, membantu sang kakak menaiki anak tangga menuju kamar Felisa terlebih dahulu. Karena kamar mereka sama-sama di atas, bersebelahan.


"Ga ada? Kemana dia? Ken, apa yang kakak takutkan benar? Kalau mereka sedang berdua di kamar kamu?" ucap Felisa lirih. Hatinya terasa sakit dan nafasnya terasa sesak, dan jantungnya berpacu semakin cepat.


"Apapun yang terjadi kakak harus kuat, aku pun juga!" bisik Kenzi di telinga sang kakak.


Felisa tak mampu lagi menahan air matanya. Satu persatu menetes turun membasahi wajahnya, saat mendengar suara legu*han bersautan.

__ADS_1


Brak....


__ADS_2