
"Yah, tadi Kenzi menemui aku di kantor. Dia menerima tawaran kerja sebagai office boy. Dia sempat bercerita kalau rumah nya mau di sita bank karena tak mampu membayar cicilan. Mobil papa nya juga sudah di tarik leasing, kehidupan mereka benar-benar menderita. Aku jadi merasa tidak tega melihatnya. Mantan istrinya juga selingkuh dengan kakak iparnya, padahal kakaknya Kenzi sedang hamil tua dan sebentar lagi akan melahirkan." ujar Aisyah.
"Ya, ayah juga merasa prihatin mendengarnya. Semoga dengan kehidupan yang sekarang mereka bisa menyadari, kalau kesombongan bukanlah yang terbaik. Kita juga tidak akan kok terus menerus mempekerjakan Kenzi sebagai office boy, paling tidak satu bulan saja. Biar dia bisa merasakan posisi kamu dulu! Nanti kita kembalikan lagi ke posisi awal, semoga dia benar-benar telah berubah!" sahut ayah Fahri dan Annisa hanya menganggukkan kepalanya setuju.
"Tetapi kamu tidak memiliki niat untuk kembali lagi kan sama dia?" tanya sang ayah menyelidik. Menatap sang anak dengan serius. Karena sepertinya Fahri merasa keberatan jika sang anak kembali kepada Kenzi.
"Insyaallah tidak yah. Nisa masih belum berpikir untuk menikah. Nisa masih mengalami trauma." sahut Nisa lirih. Wajahnya terlihat sendu. Kenangan masa lalu atas apa yang di perbuat Kenzi sangat membekas di hatinya hingga membuat Nisa mengalami trauma untuk menikah.
"Kamu tak bersikap seperti itu. Masa lalu hanya untuk di jadikan pelajaran bukan untuk menghambat kehidupan kamu! Tidak semua laki-laki jahat seperti Kenzi dulu, lagi pula kamu bukanlah Aisyah yang dulu yang bisa di injak-injak. Kamu adalah permata hati ayah dan bunda. Ayah akan mencarikan sosok pendamping yang baik untuk kamu!" ujar ayah Fahri. Nisa langsung memeluk sang ayah, sungguh dirinya merasa sangat terharu.
Nisa menanyakan lagi kepada sang ayah, apa ayahnya mau membantu membeli rumah Kenzi. Jika rumah itu di sita bank mungkin saja tak akan mendapatkan lebihan.
"Apa kamu menginginkan rumah itu? Berniat membantunya? Kalau kamu mau, dengan senang hati ayah akan menuruti kemauan kamu." sahut ayah Fahri.
"Iya ayah, Nisa menginginkannya. Sebenarnya Nisa tak menginginkan rumah itu, tetapi Nisa juga tak ingin ayah rugi. Harus membayar cicilan yang nominalnya pasti tidak sedikit. Karena itu masih sangat lama." ucap Nisa.
__ADS_1
"Ya janganlah! Belum tentu dia nanti akan membayarnya. Nominal itu bukan nominal kecil. Lagi pula yang berhutang itu mereka mengapa ayah yang menanggungnya." sahut ayah Fahri.
❤️❤️❤️
Nisa pergi bersama sang ayah dan bundanya ke rumah Kenzi, untuk membahas tentang jual beli rumah tersebut. Dan kini mereka sudah sampai di depan rumah yang memiliki kenangan buruk. Memori tentang penyiksaan, penghinaan, dan penderitaan Nisa menghampirinya. Nisa menggeleng-gelengkan kepala berharap memori yang hadir segera hilang. Wajahnya berubah pucat.
Almira yang melihat wajah sang anak yang berubah, langsung memberikan pelukan berharap si anak merasa tenang dan merasa bahwa dia tak sendiri lagi.
"Lupakan kenangan buruk kamu dulu! Ayah akan membeli rumah ini untuk kamu!" ujar Fahri dan Nisa menganggukkan kepalanya dengan lemah.
Nisa turun untuk menekan bel yang berada di tembok di dekat pagar rumah. Mendengar bel berbunyi, pak Hadi langsung bergegas untuk membukanya dan melihat siapa kah yang datang. Pak Hadi di buat melongo saat melihat tamu yang datang. Wajah yang pertama dia lihat adalah Aisyah. Dia langsung cepat-cepat membuka pagar agar mobil mewah yang datang bersama Aisyah bisa masuk. Sungguh dia tak menyangka saat melihat bos pemilik Perusahaan tempat dia bekerja dulu lah yang datang.
"Assalamualaikum, selamat datang di rumah kami pak Fahri beserta nyonya Almira dan Aisyah." ucap Pak Hadi. Pak Hadi juga mempersilahkan mereka duduk di ruang tamu. Dan dia segera memanggil Kenzi dan sang istri.
"Hebat juga si Hadi bisa memiliki rumah mewah seperti ini. Padahal hanya kerja di perusahaan aku menjadi manager. Fatih aja yang direktur rumahnya tak semewah ini. Mobilnya pun hanya sekelas mobilio, dia honda city terbaru. Masa iya dia selama ini korupsi?" gumam ayah Fahri dalam hati. Tiba-tiba saja muncul kecurigaan seperti itu.
__ADS_1
Kenzi menuruni anak tangga dan menuju ke ruang tamu tempat Fahri dan keluarga berada. Kenzi langsung mencium tangan ayah Fahri dan bunda Almira secara bergantian. Menunjukkan sopan santunnya. Mama Eliza pun datang membawa lima cangkir teh manis untuk mereka.
"Silahkan di minum pak, bu, dan Aisyah tehnya!" ucap Mama Eliza ramah. Dulu, betapa jahatnya dia kepada Aisyah, sekarang memujanya.
Ayah Fahri langsung mengungkapkan kedatangan dirinya kali ini, bahwa dia berniat untuk membeli rumah mereka, seharga 1,5 milyar.
"Jangan segitu donk pak, masa rumah mewah seperti ini cuma di tawar 1,5 milyar?" celetuk mama Eliza. Sudah di posisi tersulit saja, mulutnya masih saja tidak berfilter. Membuat sang suami dan Kenzi geleng-geleng kepala melihat sikap mama Eliza.
"Saya hanya berniat membeli segitu bu maaf! Kalau ibu tidak mau, tidak masalah. Kami bisa mencari rumah lain. Kebetulan saya emang lagi mencari rumah untuk Annisa putri semata wayang saya, dan dia menginginkan membeli rumah ini. Ya hitung-hitung mengenang masa lalunya yang kelam saat dirinya menjadi seorang pembantu di rumah kalian." sahut ayah Fahri lembut namun menusuk hingga ke jantung mama Eliza. Mama Eliza tak mampu lagi berkata-kata, membungkam mulutnya seketika.
"Baiklah, kalau anda tidak mau dengan harga segitu kami permisi! Kami harus mencari tempat lain!" geretak ayah Fahri. Dia merasa kesal dengan sikap mama Eliza, sudah butuh masih saja sombong.
Fahri bangkit lebih dulu di ikuti Almira dan Aisyah. Namun dirinya belum keluar dari pintu rumah Eliza memanggilnya. Dia setuju menjual rumahnya kepada Fahri. Tentu saja hal itu membuat ayah Fahri tersenyum penuh kemenangan.
"Yakin anak ingin menjualnya kepada kami? Tetapi kami hanya mau membayar 1,5 milyar. Itupun kalau anda mau, lagi pula saya sebenarnya ingin membelikan rumah untuk Nisa yang lebih bagus, namun Nisa menginginkan rumah ini. Saya hanya mengikuti saja kemauan anak semata wayang saya. Ingat loch Aisyah yang sekarang bukanlah Aisyah yang dulu yang bisa kalian hina dan sakiti sesuka hatimu!" sindir ayah Fahri membuat Mama Eliza menelan salivanya. Dia tidak bisa berkutik. Hanya diam terpaku.
__ADS_1
"Baiklah kalau anda sudah setuju, besok saya akan mengutus pengacara saya untuk mengurus pembelian rumah ini dan mengatasnamakan Annisa putri semata wayang saya." ujar ayah Fahri.