
Tak ada rasa semangat yang Adit rasakan lagi, mungkin jika dirinya boleh memilih dia lebih memilih dirinya untuk pergi selamanya meninggalkan dunia dari pada harus menikmati apa yang dia tabur selama ini. Dia hanya bisa terbaring tak berdaya di ranjang kamarnya dan tak mampu lagi melihat indahnya dunia.
"Jangan seperti ini, Dit! Seharusnya kamu bersyukur karena Allah masih memberikan kesempatan kepada kamu untuk bertobat, meminta maaf atas kesalahan yang kamu perbuat. Kamu itu seperti orang yang tak memiliki agama saja," cerocos Mama Indah. Aditya merasa sangat frustasi, balasan untuk dirinya sudah datang hingga Aditya tak mampu menerima keadaan.
"Lebih baik Adit mati Ma, Adit tidak sanggup menahan semua ini. Adit memang anak yang tak berguna. Hanya bisa menyusahkan Mama dan Papa. Hiks ... hiks ...," ujar Adit. Penyesalan hanyalah tinggal penyesalan, semua tak akan pernah kembali. Sampai nangis darah pun semua tak akan pernah kembali lagi seperti dulu.
__ADS_1
Hukuman bagi sang Playboy telah datang, masa jayanya telah berakhir. Kini hanya penderitaan yang dia rasakan.Seharusnya dia bersyukur, karena orang tuanya masih mau menerima dirinya apa adanya. Meskipun dirinya dulu pernah menyakiti hati kedua orang tuanya yang lebih memilih Farrah untuk menjadi istrinya. Kini orang tua tempatnya dirinya berpijak.
Hanya kegelapan yang bisa di lihat, kesalahan-kesalahan di masa lalu muncul satu persatu. Bagaimana dirinya dulu saat masih berjaya. Kini menjadi sosok yang tak berguna. Tak bisa lagi menikmati surganya dunia, tebar pesona untuk mencari mangsa baru, dan merasa dirinya hebat.
"Maafkan aku Fel, Maafkan Papa El. Papa banyak dosa pada kalian." ucap Aditya lirih. Hidupnya hancur karena kesombongannya dulu. Selalu menyakiti wanita-wanita yang tulus kepadanya.
__ADS_1
Mama Indah sangat telaten mengurusi anak semata wayangnya. Mulai dari memandikan, membersihkan sang anak layaknya anak bayi, memakaikan pakaian, dan menyuapi makan. Awalnya kedua orang tua Aditya sempat merasa shock terlebih Mama Indah tentang penyakit HIV di derita anaknya.
"Ma, Felisa sama Elang sudah tidak mau ya ketemu Adit? Adit ingin ketemu mereka," ucap Adit kepada sang mama.
"Coba nanti Mama bicarakan dulu ya sama Felisa Mama yakin dia pasti mau menemui kamu, dia itu wanita yang baik kamu saja yang bodoh memilih wanita ja*lang itu. Coba kamu dulu tidak selingkuh, sekarang kamu pasti masih hidup bahagia sama Feli. Menikmati sebagai seorang Papa dari Elang," cerocos Mama Indah membuat Aditya bertambah menyesal. Mama Indah sebenarnya masih merasa kesal dengan sang anak, tetapi hal itu tertutup dengan rasa iba seorang ibu kepada sang anak.
__ADS_1
Mama Indah mencoba menghubungi Felisa memberitahu kalau Aditya ingin bertemu Feli dan Elang. Feli tidak langsung mengiyakan karena dia harus meminta izin kepada suaminya terlebih dirinya kini sedang mengandung anak Adrian.
"Kamu dengar kan kalau Mama sudah menghubungi Feli. Namun, katanya dia ingin meminta izin dulu sama suaminya. Mama sedih banget Dit karena kamu dulu lebih memilih Farrah, padahal kamu pun tau kalau Felisa itu lebih unggul segalanya dari Farrah. Apa goyangan Felisa di ranjang kurang yahud sehingga kamu mencari kepuasan dengan wanita lain?" ucap Mama Indah ketus. Rasanya begitu sakit saat mengingat menantu kesayangan harus di miliki orang lain. Aditya merasa malu dengan penuturan mamanya tentang adegan ranjangnya. Wajahnya terlihat memerah menahan rasa malu, untungnya dia tak bertatapan langsung kepada sang mama. Semua nap*su mengantarkan dirinya ke sebuah kesengsaraan.