
"Katakan Tia apa yang di katakan Al benar atau tidak kalau saat ini kamu sedang hamil! Kamu melakukan dengan siapa? Jawab pertanyaan Ayah!" ujar Fahri dengan penuh emosi.
Fahri termasuk ayah yang lembut dan jarang sekali marah. Namun, dia sosok ayah yang tegas. Hal itu membuat Tia merasa takut. Tubuhnya bergetar, dia menundukkan kepalanya tak berani menatap wajah ayahnya. Tia masih diam membisu, membuat Fahri semakin geram. Setelah memeriksa keadaan Tia, Al pamit pulang karena dia harus kembali bertugas.
Fahri meminta Tia untuk bangun dan menatap dirinya. Mata Fahri terlihat memerah, hatinya terasa panas. Ingin sekali dia menampar wajah Tia karena telah mencoreng nama baik dia. Tia langsung bangkit dan meminta maaf kepada Fahri, berlutut di kaki Fahri. Tia pikir dirinya akan sulit hamil, karena saat menikah dengan Fatih dia sulit mendapatkan keturunan. Selain itu, dia berpikir kalau dia akan hidup bahagia kalau dirinya hamil seperti ucapan Aditya waktu itu. Dirinya akan menceraikan istrinya kalau Tia hamil, tetapi kenyataannya berkata lain.
"Maafkan Tia, Yah!" ucap Tia yang sudah terisak tangis.
"Kamu pikir dengan meminta maaf akan mengembalikan semuanya? Kau tau apa yang kamu perbuat itu akan mencoreng nama baik keluarga ini?" sahut Fahri ketus. Rasa sayangnya luntur sudah karena perbuatan Tia. Selama ini dirinya bersikap sabar menghadapi sikap Tia yang semakin besar semakin berulah. Dia selalu menganggap Tia sebagai anaknya sendiri. Memberikan fasilitas mewah dan juga kasih sayang.
"Iya Ayah! Tia menyesal. Tia minta tolong sama Ayah, agar Bapak dari anak ini mau bertanggungjawab menikahi Tia." ucap Tia lirih. Baru kali ini dirinya berada di posisi saat ini. Tia merasa terpuruk.
Mendengar penuturan Tia, Fahri semakin murka. Bisa-bisanya Tia bersikap seperti wanita murahan yang mengobral tubuhnya dengan laki-laki yang tak bertanggungjawab.
"Ya Allah Tia! Apa salah Ayah? Selama ini Ayah selalu berusaha mendidik kamu menjadi wanita yang menjaga kehormatannya, bukan seperti wanita murahan seperti ini. Ayah juga selalu memberikan kasih sayang kepada kamu. Kalau kamu tidak bisa menahan syahwat kamu, lebih baik kamu menikah! Kau tau kalau zina adalah dosa besar. Perbuatan kamu akan membawa kesialan buat kami semua." ucap Fahri tegas.
__ADS_1
Sampai-sampai Fahri meneteskan air matanya karena merasa gagal mendidik Tia menjadi seorang wanita yang memiliki harga diri. Tentu saja hal itu membuat Tia semakin menyesali perbuatannya.
"Katakan siapa yang menghamili kamu! Cepat dia suruh menikahi kamu! Sebelum perut kamu membesar!" ucap Fahri, membuat Tia semakin menangis kejar.
"Aditya. Laki-laki yang baru aku kenal. Aku sempat menabrak mobil dia saat aku pulang dari kantor Ayah dan mendapatkan penolakan dari Fatih waktu itu. Pertemuan kedua kami saat di club malam, saat itu aku sedang datang bersama teman-teman aku dan aku mendekati dia yang saat itu sedang mabuk. Kami sepakat untuk check-in di sebuah hotel. Mobil aku, aku titipkan teman aku dan aku ke hotel menaiki mobil Aditya. Setelah kejadian itu, kami menjadi sering bersama dan melewati malam panas hingga akhirnya aku di nyatakan hamil. Kami sempat bertemu kemarin, tetapi dia menolak untuk segera menikahi aku. Karena dia masih memiliki seorang istri yang dia nikahi secara siri." ungkap Tia.
"Astaghfirullah, Tia. Mengapa kamu menjadi wanita gampangan banget. Sudah tau posisi dia telah memiliki istri, masih saja di lanjutkan bahkan sampai benih itu hadir di rahim kamu."
"Tia cinta sama dia, Yah! Tia ingin menikah dengannya. Selama ini dia berjanji akan menikahi aku, kalau aku hamil. Aku berusaha untuk hamil agar bisa memiliki dirinya seutuhnya." jelas Tia.
Mendengar ponsel suaminya berdering berkali-kali, Farrah terpaksa membuka matanya. Dia sempat tertidur di sebelah Aditya, karena belum tidur sejak malam. Farrah turun dari ranjang untuk mencari ponsel suaminya. Semenjak dirinya berselingkuh, Aditya selalu menyimpannya di dalam tas ataupun tempat tersembunyi. Seperti saat ini, ponsel itu masih di dalam tas kerjanya.
"Akhirnya ketemu juga, nomor siapa sih ini? Telepon terus seperti ada yang penting, tetapi aku tidak bisa melihatnya. Ponsel ini di kunci." gumam Farrah dia mencoba mengutak-atik ponsel Aditya. Berharap password yang di gunakan Aditya adalah tanggal pernikahannya atau Tanggal lahir nya ataupun tanggal lahir Aditya, tetapi sayangnya semua tidak berhasil. Fahri menghubungi ponsel Aditya kembali. Hingga akhirnya Farrah mengangkatnya.
Mereka sama-sama terkejut mendengarnya. Fahri terkejut karena ternyata seorang wanita yang mengangkat telepon Aditya dan Farrah terkejut karena Fahri langsung bicara keras.
__ADS_1
"Anda ini siapa? Seenaknya langsung marah-marah telepon ke nomor ponsel suami saya? Ga punya sopan santun banget." ujar Farrah ketus. Dia tidak menyadari kalau yang menghubungi dirinya adalah mantan pemilik perusahaan tempat dia bekerja. Karena Fahri yang saat ini sangat berbeda.
"Saya Fahri, Ayah dari Tia. Saya ingin bicara dengan Aditya, tolong sampaikan kepada dia kalau anak saya yang bernama Tia saat ini sedang mengandung anaknya! Saya minta pertanggungjawabannya, jika tidak saya akan bawa kasus ini ke hukum!" sahut Fahri tegas.
Jantung Farrah rasanya ingin copot, kakinya tiba-tiba terasa lemas. Dia di buat melongo dengan ucapan Fahri yang mengatakan kalau saat ini anaknya sedang hamil anak suaminya. Hatinya terasa sakit mendengar kalau suaminya telah menghamili wanita lain di belakangnya. Air matanya pun akhirnya menetes satu persatu.
Farrah tak mampu menjawab ucapan dari Fahri, lidahnya terasa kelu. Dia memilih menutup panggilan telepon dari Fahri, meskipun Fahri masih bicara kepadanya. Farrah langsung menghampiri Aditya, membangunkan Aditya dengan kasar. Saat itu dirinya sedang di hampiri rasa emosi. Farrah menarik tangan Aditya dengan kasar membuat Aditya terjatuh.
"Kamu itu apa-apaan sih? Sakit tau! Aku ini lagi tidur, bikin masalah saja sih," gerutu Aditya yang berusaha bangkit.
"Ini orang tua Tia, wanita yang kakak buat hamil terus menghubungi Kakak! Dia meminta Kakak untuk bertanggung jawab menikahi anaknya!" ucap Farrah di iringi isak tangis. Farrah berusaha menguatkan dirinya untuk berbicara kepada Aditya.
Aditya langsung mematikan panggilan dari Fahri. Kepalanya bertambah sakit, karena akhirnya berita ini telah sampai ke Ayahnya Tia.
"Di bilang suruh sabar dulu, malah ngasih tau bapaknya. Jadi tambah runyam deh jadinya." gerutu Aditya dalam hati saat mendengar pesan yang di sampaikan Farrah.
__ADS_1