
Inilah hari yang di nanti untuk Tia dan Al. Hari ini mereka akan Melangsungkan pernikahan. Meskipun pernikahan mereka tak semewah pernikahan Nisa dan Fatih, tetapi ini adalah pernikahan yang paling berkesan bagi Tia. Pernikahan dengan Aditya adalah pernikahan karena sebuah kesalahan yang menuntunnya kepada kehancuran.
Tia terlihat cantik dengan menggunakan balutan gaun muslimah. Ini adalah pernikahan ketiga bagi Tia. Berharap ini menjadi pernikahan terakhir dalam hidupnya. Dia akan berusaha menjadi istri yang baik tak seperti di pernikahan sebelum-sebelumnya.
"Selamat ya Kak, semoga pernikahan Kakak kali ini bisa langgeng sampai maut memisahkan. Kakak cantik banget, Kak Al pasti tambah cinta." ucap Nisa sambil memeluk tubuh sang Kakak. Nisa dan Tia kini sudah dekat, layaknya seorang kakak dan adik.
"Sayangnya, aku tak bisa seperti kamu Nis. Menjadi wanita yang sempurna, yang bisa merasakan hamil dan melahirkan seorang anak." ucap Tia lirih di iringi tangisan. Tia tak mampu membendung perasaannya lagi. Dirinya merasa sedih. Tia mengelus perut Nisa yang mulai terlihat buncit.
"Kakak jangan nangis dong! Nanti makeup Kakak luntur loh. Sabar ya Kak! Semoga Allah mengganti dengan kebahagiaan lain. Aku lihat Kak Al tipe suami yang baik dan sabar. Meskipun Kakak tak bisa memiliki anak, Kakak masih bisa mendapatkan cinta dari nya. Kakak bisa mengangkat anak untuk menjadi anak Kakak." ucap Nisa memberi pengertian kepada sang kakak. Tia menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
"Kalau aku minta anak kamu satu boleh ga? Untuk aku adopsi menjadi anak? Kamu kan bisa produksi terus, bisa memiliki anak banyak," ujar Tia, dan langsung mendapatkan penolakan dari Nisa dengan tegas.
"Maaf Kak, aku ga bisa. Bang Fatih juga pasti ga setuju. Kakak bisa dekat dengan kembar nanti, tapi aku ga bisa memberikan anak aku kepada Kakak. Kakak angkat anak lain saja ya. Maaf sekali lagi," sahut Nisa.
Obrolan mereka harus terhenti karena, acara ijab kabul akan segera di laksanakan. Bunda Almira mengetuk pintu kamar Tia, memberitahu kalau Al beserta rombongan sudah datang. Acara akad nikah di adakan di kediaman Fahri, dan untuk acara resepsi akan di adakan di sebuah hotel bintang lima. Acara resepsi akan di adakan pada malam hari.
Sah!
__ADS_1
Tia dan Al telah resmi menjadi pasangan suami istri. Rona bahagia terpancar dari keduanya. Berharap kelak mereka bisa mendapatkan kebahagiaan dengan kekurangan yang di miliki. Melangkah hidup baru. Merasakan indahnya berumah tangga yang sesungguhnya.
Tia dan Al bergantian memasangkan cincin pernikahan di jari manis pasangannya. Setelah itu, Tia langsung mencium tangan suaminya sebagai rasa hormat kepada suaminya, sedangkan Al memberikan kecupan di kening istrinya sebagai ungkapan rasa cintanya. Ucapan selamat di berikan kepada Tia dan Al dari para hadirin yang hadir di acara akad nikah mereka.
"Selamat ya sayang, sekarang kamu sudah menjadi Nyonya Al. Semoga pernikahan kamu kali ini langgeng dan memberikan kebahagian untuk kalian." doa terbaik dari sang Bunda. Sama halnya doa yang di ucapkan dari Fahri.
Saatnya Fatih dan Nisa yang memberikan ucapan selamat. Fatih berusaha untuk bersikap profesional saat memberi ucapan selamat kepada Tia, dia memilih menjaga jarak tak berjabat tangan dengan Tia. Dia tetap ingin menjaga jarak.
Serangkaian acara ijab kabul telah selesai, hanya tinggal menunggu waktu untuk resepsi pernikahan mereka. Tia dan Al sudah berada di kamar pengantin mereka. Setelah menikah, Tia akan ikut bersama Al. Rencananya Al akan membelikan Tia sebuah rumah, tetapi untuk sementara waktu mereka akan tinggal di apartemen yang Al sewa saat ini.
"Aku ga menyangka, akhirnya kita benar-benar berjodoh ya. Aku sangat mencintai kamu." ucap Al sambil merangkul ke dua pundak wanita yang sudah resmi menjadi istrinya. Kedua mata mereka saling bertemu. Ketulusan dapat terlihat dari mata pasangannya. Mereka saling mencintai. Cinta mereka memang hadir begitu cepat, tetapi tak mengurangi rasa cinta mereka.
"Iya aku siap. Aku akan selalu ada untuk kamu. Memberi support dan mendukung kamu agar kamu bisa segera hidup normal kembali. Namun, satu hal pintaku semoga kamu juga tak akan pernah berpaling di saat dirimu sembuh. Karena sampai kapan pun aku tak akan bisa memberikan keturunan untuk kamu. Tolong jangan buat aku kecewa dengan kamu mencari wanita lain yang bisa memberikan kamu keturunan." sahut Tia. Al menganggukkan kepalanya dan berkata kalau dirinya akan berusaha keras utuk tidak mengingkari janjinya kepada Tia.
Perlahan Al mendekatkan wajahnya dan menempelkan bibirnya di bibir Tia dan mencum*bunya mesra. Sayangnya hal ini tak akan berlanjut yang lebih dari itu. Hal harus melakukan terapi dan pengobatan agar bisa menyembuhkan penyakitnya.
"Sabar ya sayang! Aku yakin aku pasti sembuh, jika kamu selalu ada di samping aku." ucap Al saat menghentikan ciuman itu.
__ADS_1
Tak ada adegan ranjang layaknya pengantin baru lainnya. Meskipun hanya sekedar berciuman dan berpelukan, mereka sangat menikmati kebersamaan mereka. Mereka harus saling mengerti satu sama lain.
❤️❤️❤️
Acara resepsi pernikahan mereka di mulai, Tia dan Al memasuki ballroom di hotel tersebut. Mereka terlihat sangat serasi. Senyum bahagia terlihat di sudut bibirnya. Mereka terlihat seperti raja dan ratu sehari.
Perasaan bahagia bukan hanya di rasakan pasangan pengantin dan kedua orang tua Tia, hal itu juga di rasakan kedua orang tua Al. Mereka bahagia karena pada akhirnya sang anak melepas masa lajangnya. Mengubur masa lalunya yang kelam, dan melangkah bahagia.
Malam ini mereka akan menginap di hotel, melewati malam pengantin baru. Menikmati layaknya pengantin baru. Al berharap agar penyakitnya tiba-tiba sembuh, agar bisa menjadi momen spesial di malam pengantin mereka. Entahlah apa semua itu akan terjadi atau hanya sebuah mimpi.
"Sayang, apakah kamu bisa membantu aku untuk membuka gaun ini? Aku merasa kesulitan." ucap Tia.
Al mencoba membuka sedikit demi sedikit resleting gaun istrinya dan membantu membukanya hingga Tia kini dalam keadaan setengah polos hanya menggunakan kain segitiga penutup miliknya dan bukit kembarnya. Berkali-kali dirinya menelan salivanya. Dia sangat menginginkannya, tetapi dia takut kalau nantinya akan mengecewakan istrinya di ranjang.
"Mandilah sana, biar tubuhmu merasa segar. Aku pun akan mandi setelah kamu." titah Al dan Tia mengikutinya. Dirinya memang berniat untuk mandi.
"Jika aku tak impoten, pasti malam ini akan menjadi malam yang begitu indah bagi aku dan Tia. Aku bisa membahagiakan dirinya." ucap Al lirih.
__ADS_1
Sambil menunggu up mampir yuk di karya teman aku, ceritanya seru.