
"Kalau Mami merasa lelah, beristirahatlah dulu di kamar! Aku buatkan teh hangat dulu untuk Mami." ucap Anara dan akhirnya Emeli memilih untuk mandi dan membersihkan tubuhnya.
"Maafkan Mami, An. Kalau selama ini Mami bukan Ibu yang baik untuk kamu dan Sella." gumam Emeli dalam hati. Hatinya merasa sedih
Emeli baru saja selesai mandi dan saat itu Anara sudah berada di kamar, membawa satu cangkir teh hangat untuk sang ibu. Saat ini Anara sedang duduk di tepi ranjang memperhatikan gerak gerik sang Ibu. Dia merasa ada sesuatu yang dia rasa aneh, tetapi dia tak tahu yang sebenarnya.
"Di minum dulu Mi tehnya biar segar," ucap Anara dan Emeli langsung menganggukan kepalanya.
Anara merasa kalau sang mami lebih terlihat kalem tak seperti biasanya yang sangat cerewet jika bertemu. Emeli termasuk seorang ibu yang posesif, meskipun dirinya jauh dari kedua anaknya. Dia selalu tak bosan mengingatkan kedua anaknya untuk menjadi wanita yang terhormat.
Pantas jika kedua anaknya terhindar dari se* bebas, bahkan keduanya memilih untuk tidak berpacaran karena ingin fokus kuliah. Hubungan Emeli dan keduanya juga sangat baik termasuk kepada suaminya. Dia tak ingin kedua anaknya mengikuti jejak dirinya melakukan se* bebas.
"Maafkan Mami, An. Maafkan Mami yang tak bisa menjadi ibu yang baik untuk kalian. Mami seorang ibu yang beja* tak bisa memberi contoh yang baik bagi kalian." ucap Emeli yang sudah terisak tangis. Emeli memeluk erat sang Putri meluapkan kesedihannya.
Anara merenggangkan pelukannya dan menatap lekat wajah sang ibu yang masih terlihat cantik meskipun usianya tak muda lagi. Baru hari ini Anara melihat wajah sang Mami yang tak cerah. Ada wajah kesedihan yang Anara lihat.
"Sebenarnya apa yang terjadi dengan Mami? Katakan sama Anara biar Mami bisa merasa lebih tenang karena sudah bercerita. Bukanlah selama ini Mami sudah menjadi pendengar setia untuk kedua anak Mami. Mami adalah ibu yang luar biasa untuk aku dan Sella. Meskipun kita hidup terpisah, pesan Mami selalu kami ingat. Kami sangat menyayangi Mami. Sudah ya Mami jangan bersedih lagi," ucap Anara menenangkan sang Mami. Emeli merasa terharu dengan ucapan sang anak. Dia sangat menyesali perbuatannya dulu.
__ADS_1
"Ma-Mami terkena HIV,"
Jeder!
Seperti suara petir yang menggelar di angkasa, Emeli membuat Anara tersentak kaget tak percaya. Dia masih melongo, terdiam. Lidahnya terasa kelu tak bisa berkata. Membuat Emeli bertambah menyesal. Tubuh Anara terlihat kaku seketika, dirinya merasa shock.
"Pasti kamu kecewa kan mendengar Mami seperti itu? Maafkan Mami. Papi juga sudah menceraikan Mami dan asal kamu tahu Papi kamu mempunyai istri siri yang seusianya seperti kamu," ucap Emeli.
Dia tak menyangka kalau kedua orang tuanya seperti itu. Selama ini kedua orang tuanya tak pernah bertengkar dan selalu bersikap romantis. Anara dan Sella selalu mendapatkan kasih sayang kedua orang tuanya meskipun mereka terpisah dan hanya berkomunikasi lewat telepon.
"Maafkan Mami, An. Mami sudah tak bisa kembali dengan Papi. Bagaimana pun Mami hanya seorang wanita biasa yang memiliki hati dan perasaan. Bisa merasakan sakit hati, sama halnya dengan Papi. Pasti Papi juga akan merasa berat untuk menerima Mami kembali." ucap Emeli.
"Jika cinta kalian sudah ternoda, ku mohon kembali 'lah demi anak-anak kalian. Aku dan Sella. Bukankah kalian memang sama-sama saling menyakiti, lantas mengapa kalian tak saling memaafkan?" ujar Anara kepada sang Mami.
"Nanti akan Mami pikirkan lagi ya. Bagi Mami, memiliki kalian saja rasanya sudah cukup. Mungkin memang Mami dan Papi tidak berjodoh atau mungkin jodohnya cuma sampai di sini." ucap Emeli.
Keesokan harinya, Anara menyuruh Sella sang adik untuk ke tempatnya dan mengatakan kalau ada hal penting yang perlu di bahas. Anara juga langsung menghubungi sang Papi untuk segera datang menemuinya.
__ADS_1
Kini mereka sudah berkumpul semua di apartemen Anara. Suasana terlihat canggung tak seperti biasanya. Emeli dan Yudha terlihat diam seperti orang yang tak kenal, padahal hubungan mereka dulu terlihat sangat mesra.
"Ada apa sih kak, sampai-sampai aku di suruh pulang? Papi sama Mami juga ada di sini. Sebenarnya ada apa sih?" tanya Sella yang merasa penasaran.
Sebelum membuka pembicaraan, Anara menarik napas panjang terlebih dahulu. Rasanya sungguh berat dirinya untuk mengatakan hal ini. Namun, Sella harus mengetahuinya. Sang Mami sangat membutuhkan dukungan untuk bersemangat hidup. Suasana terlihat tegang, mata Sella sudah mengarah ke arah Anara seakan dirinya bertanya tentang apa yang terjadi.
"Mami terkena HIV, satu lagi Mami dan Papi sudah bercerai." ucap Anara membuat mata Sella membulat sempurna. Dia merasa tak percaya.
"Jangan bercanda dong Kak, aku serius. Tidak mungkin! Hubungan Mami dan Papi selama ini kan baik-baik saja, lagi pula terakhir bertemu tak masalah apapun. Aku lihat mami juga baik-baik saja." ungkap Sella.
"Maafkan Mami Sel, mungkin kamu masih belum percaya karena memang benar apa yang di katakan kamu. Semua begitu cepat, Mami pun masih merasa tak percaya. Pernikahan Mami dan Papi tak bisa di lanjutkan lagi, tak ada kecocokan lagi di anatar kami. Ini sudah menjadi keputusan kami berdua. Yang terpenting bagi Mami, Mami masih bisa menikmati hidup bersama kalian. Memang semua itu tak mudah bagi kita semua menjalani kehidupan baru. Rasa cinta Mami kepada kalian dan Papi Yudha tak akan berubah, hanya kebersamaan saja yang berubah." sahut Emeli.
Yudha merasa menyesal. Rasa cintanya kepada Emeli begitu besar tetapi dia justru berselingkuh di belakang Emeli. Dia pun meminta maaf kepada Emeli atas apa yang dia perbuat. Yudha meminta Emeli kepadanya. Melewati semuanya bersama.
Sambil menunggu up mampir yuk di karya temanku.
__ADS_1