
Uwek ... uwek ... uwek ...
"Kenapa perut mual sekali? Apa karena kemarin aku tidak nap*su makan, jadinya aku masuk angin?" gumam Tia yang sejak kemarin sudah merasa tak nap*su makan dan sejak tadi pagi perutnya serasa di aduk-aduk, ingin memuntahkan isi perutnya. Kepalanya juga terasa pusing. Tubuhnya terasa gemetar dan keringat dingin membasahi wajah dan sekujur tubuhnya.
Dengan tertatih, Tia membaringkan tubuhnya ke ranjang. Tubuhnya terasa lemas karena sudah dua kali memuntahkan isi perutnya. Tia memanggil ART yang bekerja di rumahnya untuk memijatnya. Bi Yati, yang bekerja di rumahnya, pintar memijat.
"Badan non Tia dingin banget, wajah non Tia juga pucat. Non masuk angin kali, akhir-akhir ini non kan sering kali pulang larut malam dan menginap.
"Benar juga yang di katakan Bi Yati. Semenjak aku menjalin hubungan sama Adit, kami sering kali menginap dan jika sedang bersamanya aku tak pernah di perbolehkan memakai pakaian. Bahkan baru menjelang shubuh kami menghentikan aktivitas ranjang. Tapi ....?" ucapan Tia terhenti kala dirinya mengingat kalau bulan ini dirinya belum datang bulan.
Jantungnya tiba-tiba saja berdegup kencang kala mengingat pergulatan panas di ranjang yang sering kali mereka lakukan saat bertemu, Aditya melakukan tanpa menggunakan pengaman.
"Apa aku hamil?"
Tia terlihat panik, kata-kata yang sempat dia ucapkan dan tanyakan kepada Aditya sebelumnya akhirnya terjadi juga. Dia berniat untuk memeriksakan ke dokter, untuk memastikan semuanya. Entah dirinya harus merasa bahagia atau tidak, kalau memang dirinya saat ini sedang hamil.
"Bukannya bagus kalau aku hamil? Adit akan menikahi aku dan aku tidak akan menjadi janda lagi. Aku akan meminta Adit menikahi aku dan menceraikan istri sirinya." ucap Tia menyeringai licik.
Tia berdandan cantik sebelum dirinya pergi ke Dokter, rencananya setelah ini dirinya akan mengajak Adit untuk bertemu dengannya. Wajah Tia terlihat sumringah dan matanya berbinar-binar. Awalnya Tia sempat terlihat pucat, karena seharian tak nap*su makan dan saat pagi dirinya mengalami morning sickness. Namun, setelah dirinya yakin kalau saat ini dirinya sedang hamil anak Adit, Tia menjadi bersemangat.
"Tidak biasanya kamu ceria seperti itu? Sudah dapat pacar baru ya?" goda Bunda Almira kepada anak angkatnya saat Tia pamit untuk pergi.
"Bukan hanya pacar Bun, Tia sudah dapat pengganti," sahut Tia dengan bangganya.
__ADS_1
"Kenalin donk calon kamu sama Bunda dan Ayah!" sindir Bunda Almira dan Tia mengatakan kalau dirinya akan mengenalkannya.
Uwek ... uwek ... uwek
Tia langsung berlari ke kamar mandi untuk memuntahkan. Wajahnya terlihat pucat kembali. Tia mengalami mabok yang parah, hingga dirinya tak bisa makan.
"Kamu kenapa, Ti? Pasti masuk angin deh kamu. Makanya coba kamu kurangi aktivitas keluar hingga larut malam, sama jangan sering menginap di rumah teman. Pasti semalaman begadang." cerocos Almira yang langsung menghampiri sang anak.
"Sudah Bunda tenang saja! Aku yakin ini pasti berita baik kok," ujar Tia dengan santainya.
Tentu saja hal itu membuat Bunda Almira melongo, bingung dengan ucapan anak angkatnya itu.
"Maksud kamu apa?" tanya Bunda Almira penasaran.
Kini Tia sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit, dia ingin memastikan lebih dulu apa yang terjadi sebenarnya sebelum dia menemui Aditya. Tia ingin memberikan kejutan kepada Aditya. Setelah menempuh perjalanan satu jam, Tia saat ini sudah sampai di rumah sakit tempat dirinya akan memeriksakan kandungannya.
Setelah mendaftarkan diri, dia duduk dengan sabar menunggu giliran untuk masuk. Rona bahagia selalu terpancar di wajahnya, tangannya terus mengelus perutnya.
"Semoga kamu benar ada di perut Mama. Agar Papa kamu mau menikahi Mama dan kita hidup bahagia bertiga. Mama sayang sama Papa, doakan Mama ya!" ucap Tia dalam hati dengan bayi dalam kandungannya.
Kini saatnya dia yang di panggil untuk di periksa. Dengan penuh harapan Tia melakukan pemeriksaan. Dia mengkonsultasikan kepada dokter tersebut atas apa yang dia alami saat ini.
"Baiklah kita coba lakukan USG dulu agar bisa lebih jelas." ucap Dokter Risma, untuk memastikannya.
__ADS_1
"Benar ibu, saat ini anda sedang hamil dan usia kandungan anda 6 minggu."
"Akhirnya, keinginan aku untuk menikah dengan Adit segera terwujud."
Tia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Adit untuk membicarakan kehamilannya saat ini. Tak ada alasan lagi untuk Adit mengelak untuk menikahi dirinya dan menceraikan istrinya. Setelah konsultasi selesai dan obat telah dia ambil, Tia langsung menghubungi Aditya untuk mengajaknya bertemu.
"Gimana kalau kita ketemu di hotel? Aku sudah kangen sama kamu. Malam ini aku tak akan pulang ke apartemen, kita habiskan berdua." ujar Aditya dan Tia mengiyakan. Terpaksa Tia harus menginap diam-diam. Karena dia yakin jika dirinya izin dulu, pasti kedua orang tuanya tak akan mengizinkannya. Sedangkan dia sudah lebih dari seminggu tak menginap dengan Aditya, hanya sekedar bertemu saja.
"Senangnya hatiku, sebentar lagi aku akan menjadi istri Adit. Fatih mah lewat. Adit lebih sempurna, untuk masalah sudah punya istri dia juga kan sudah janji akan menceraikannya kalau aku hamil. Jadi, sudah tidak ada masalah donk. Aku tak masalah kalau nantinya Ayah akan mengusir aku dari rumah itu, toh aku sudah punya Adit.
Sesuai perbincangan tadi, Tia langsung menuju hotel tempat mereka akan melepas rindu. Tia yang datang lebih dulu, karena Aditya saat ini masih ada pekerjaan yang masih belum bisa di tinggalkan. Aditya langsung mengirimkan pesan chat kepada Farrah mengatakan kalau dirinya harus keluar kota sore ini juga. Membaca pesan tersebut, Farrah langsung menghubungi Aditya.
"Kok dadakan sih Kak perginya? Berapa hari? Aku ikut donk Kak, bosan aku di apartemen terus. Aku ingin ikut Kakak keluar kota."
"Sudah deh jangan manja! Aku ini kerja, masa kerja bawa istri. Besok aku juga sudah pulang, makanya aku harus berangkat sekarang biar besok pagi langsung kunjungan ke kantor cabang biar bisa langsung pulang kalau urusan di sana sudah selesai." sahut Aditya. Mau tak mau Farrah harus menyetujuinya, dari pada suaminya mengamuk dan mengatakan dirinya seorang istri tak pengertian dan banyak menuntut.
Setelah pekerjaannya selesai, Aditya langsung bergegas mengendarai mobilnya menuju hotel tempat di mana dirinya akan menghabiskan malam ini bersama dengan Tia.
Tia langsung membuka pintu kamar hotel saat mendengar suara ketukan pintu dari luar kamar.
"Sayang, aku kangen banget sama kamu," ucap Tia manja yang langsung memeluk Aditya mesra.
"Aku bahkan kangen banget sama kamu," sahut Aditya yang langsung menggendong tubuh Tia dan membawanya ke ranjang.
__ADS_1