
"Abang mandi dulu sana biar seger!" ucap Nisa sambil naik ke atas ranjang untuk merebahkan tubuhnya yang terasa lelah. Bukannya mandi Fatih justru menatap lekat Nisa, membuat mata mereka saling bertemu.
"I Love you sayangku, aku cinta banget sama kamu. Aku tak pernah menyangka kalau akhirnya kita berjodoh," ucap Fatih sambil mengelus rambut Nisa. Membuat degup jantung Nisa bertambah cepat, Nisa terlihat gugup. Dia merasa canggung berada satu ranjang dengan seorang laki-laki.
"Tidak perlu takut dan gugup, aku akan melakukannya nanti malam dengan lembut." bisik Fatih membuat aliran darah di tubuh Nisa berdesir hebat.
Nisa hanya bisa menganggukan kepalanya, mau tak mau dia harus memberikan hak suaminya. Membahagiakan suaminya. Meskipun masih ada perasaan takut dan malu yang dia rasa. Ternyata tingkat kemesuman Fatih cukup tinggi, saat berbeda dengan pembawaan sebelumnya.
Seperti saat ini, Fatih melahap bibir Nisa kembali. Nisa sudah mulai menyeimbangi permainan bibir suaminya. Fatih menarik tengkuk istrinya untuk memperdalam ciu*man itu, bahkan kini posisi tubuh Fatih yang sudah berada di atas tubuh Nisa sambil menggesek-gesekkan miliknya.
"Lebih baik aku mandi saja, takut khilaf." ujar Fatih yang langsung bangkit dari atas tubuh Nisa sambil terkekeh. Dia memilih untuk mandi mengguyurkan tubuhnya dengan air dingin.
❤️❤️❤️
"Kamu serius Ken mau datang ke acara resepsi Nisa? Beneran kamu kuat?" tanya Felisa kepada sang adik. Dia khawatir sang adik akan bersedih saat melihat wanita yang selama ini dia kejar, bersanding di pelaminan dengan laki-laki lain.
"Tenang saja kak, aku sudah menerima kenyataan. Mereka sudah hidup bahagia, aku tidak akan pernah mengganggunya," sahut Kenzi.
Sama halnya dengan keluarga Hadi Wijaya, Tia juga sedang membicarakan kedatangan dirinya bersama Aditya. Dia mengajak serta Aditya untuk hadir, dia tak ingin orang tua angkatnya mengetahui kesedihannya.
__ADS_1
"Ya sudah nanti kita datang! Bagaimana kalau kita mengajak Farrah juga ke sana?" tanya Aditya.
Tia menggelengkan kepalanya, dia menolak keinginan suaminya yang gi*la itu. Apa kata orang kalau mengetahui suaminya memiliki istri lain. Bisa-bisa dia akan menjadi bahan ejekan, meskipun pada kenyataannya memang itu adanya.
❤️❤️❤️
Nisa dan Fatih baru saja selesai di rias. Mereka terlihat tampan dan cantik. Seperti pasangan raja dan ratu, meskipun hanya satu hari. Rona bahagia terpancar dari keduanya. Mereka ingin menunjukkan kebahagiaan yang dia rasa saat ini. Fatih menggandeng mesra tangan Nisa. Pemandangan itu membuat Ayah Fahri dan Bunda Almira merasa bahagia karena menikahkan anaknya dengan pilihan yang tepat.
Kenzi beserta keluarganya sudah sampai di hotel. Mereka sengaja datang cepat, karena mereka ingin melihat prosesi resepsi dari awal. Sama halnya dengan Kenzi, Tia pun sudah tak sabar melihatnya. Tia datang bersama Aditya, dia terlihat cantik dengan balutan dress tanpa lengan berwarna hitam.
Aditya menatap dari atas hingga bawah mantan istrinya dan juga anaknya dari jauh. Felisa menggendong anaknya, dia tidak peduli meskipun merusak penampilannya. Dia mengajak Tia untuk mendekati keluarga Hadi, Aditya menggandeng mesra Tia.
"Fel aku mau gendong Elang donk, pinjem sebentar," ucap Aditya. Feli langsung memberikannya, bagaimana pun Elang anak dari Adit.
"Ternyata kamu semakin cantik Fel, meskipun tak berpenampilan seksi lagi. Kamu juga seorang ibu yang baik untuk Elang," puji Adit, tetapi Feli tak menggubrisnya dia justru tak menanggapi. Bagaimana perasaan Tia? Tentu saja dia merasa cemburu saat suaminya memuji wanita lain di hadapannya.
"Oh ya aku juga sebentar lagi akan punya anak, istri aku sedang hamil," ujar Aditya dengan bangganya sambil mengelus perut Tia. Perasaan Tia bercampur aduk. Ada perasaan bahagia yang di rasa Tia saat mendapat perlakuan manis dari suaminya, tetapi ada perasaan takut karena dokter bilang kandungan dia bermasalah dan bahkan menyarankan untuk aborsi.
"Oh ya, selamat ya. Aku ikut senang mendengarnya, agar kamu tak mengganggu Elang nantinya. Apa kabarnya dengan Farrah? Cinta kamu ke dia ternyata kilat ya, apa jangan-jangan hanya di jadikan tempat nap*su kamu?" ucap Felisa. Adit tertawa mendengar pernyataan Felisa yang apa adanya.
__ADS_1
Pasangan pengantin beserta keluarga kedua belah pihak, memasuki ballroom hotel. Semua mata tertuju kepada mereka. Mereka ikut bahagia, tapi tidak dengan Kenzi. Dia terus berusaha untuk menguatkan hatinya.
Serangkaian acara pembukaan telah selesai, kini waktunya memberikan ucapan selamat kepada kedua mempelai.
"Kamu kuat ga Ken? Saran Kakak lebih baik kamu ga usah ke pelaminan. Biar Kakak saja yang titip salam untuk Nisa dari kamu," ujar Felisa.
"Tidak Kak! Kakak tenang saja, aku baik-baik saja kok," ucap Kenzi dengan memaksa. Meskipun hatinya terluka tapi dia berusaha untuk tersenyum di hadapan semua orang. Kenzi harus menyadari, jika hati seorang wanita terluka akan sulit terobati dan selalu membekas di hatinya, walaupun dia berkata sudah memaafkan.
Kenzi menaiki pelaminan beserta kedua orang tuanya dan juga kakaknya. Sama halnya dengan Tia dan Aditya yang ikut naik juga untuk mengucapkan selamat berbahagia kepada kedua mempelai. Satu persatu tamu undangan memberikan ucapan selamat dan doa untuk kedua mempelai.
"Selamat ya Pak Fatih dan Nisa. Aku ikut bahagia melihatnya kalian sudah resmi menjadi pasangan suami istri. Semoga segera mendapatkan momongan!" ucap Felisa saat bersalaman dengan keduanya secara bergantian.
"Selamat ya Nisa dan Pak Fatih. Semoga menjadi keluarga sakinah mawadah warohmah," ucap Pak Hadi. Dia juga mengucapkan selamat kepada Pak Fahri bos tempat dia dulu bekerja.
"Selamat ya Nisa, semoga pernikahan kamu kali ini mendapat kebahagiaan," ucap Mama Eliza.
"Selamat buat Pak Fatih dan Nisa. Titip Nisa ya Pak, tolong bahagiakan Nisa! Saya sudah mengikhlaskan Nisa bersama bapak." ujar Kenzi dan Fatih mengiyakan.
Berdamai dengan keadaan terasa lebih indah, lebih baik melanjutkan kehidupan dan mengikhlaskan masa lalu yang tak kesampaian.
__ADS_1
Ada perasaan terharu saat pertemuan Tia dengan sang bunda dan juga ayahnya. Tia mencoba menahan perasaannya, hatinya terasa sesak. Dia mencoba untuk tetap tegar menutupi kesedihannya. Ingin sekali dia bercerita kepada kedua orang tua angkatnya, tetapi dia merasa malu untuk mengatakannya kalau pernikahan dia tidak baik-baik saja.
"Tia, bunda kangen sama kamu! Besok-besok main ya ke rumah!" ucap Almira saat berpelukan dengan Tia. Ada perasaan hangat yang di rasa Tia. Dia menyesal menjadi anak yang tak tahu diri, padahal jika dia bersikap baik pasti nasibnya tak akan menderita seperti ini. Selama ini kedua orang tua angkatnya sudah memberikan kasih sayang untuknya. Dia juga menyesal karena telah berpisah dengan Fatih, laki-laki yang selama ini selalu berusaha memperlakukan dirinya dengan baik.