Istri Yang Tak Di Hargai ( Berubah Cantik )

Istri Yang Tak Di Hargai ( Berubah Cantik )
Serasa Milik Berdua


__ADS_3

"Sayang, kamu langsung pulang ke rumah Ayah apa ke rumah Fatih atau kamu mau nempatin rumah kamu sendiri?" tanya Fahri.


"Nisa terserah Bang Fatih saja, Nisa ikut saja!" sahut Nisa lembut. Fatih bersyukur memiliki istri yang lemah lembut dan menghormati dirinya sebagai kepala keluarga.


"Maaf Pak, bagaimana kalau Nisa langsung saya ajak ke rumah saya! Meskipun rumah saya hanya sederhana, insyaallah akan memberikan kenyamanan untuk Nisa," ujar Fatih.


"Kamu itu sudah menjadi menantu masih saja memanggil Pak, panggil saya Ayah saja! Ayah serahkan semuanya sama kamu, yang terpenting tolong jaga dan sayangi anak Ayah. Dia adalah permata hati kami satu-satunya." Tanpa di minta pun, Fatih akan melakukan hal itu. Dia sangat mencintai istrinya bukan karena melihat harta kekayaan orang tuanya.


Fahri dan Almira pamit pulang lebih dulu, sedangkan Fatih dan Nisa akan mengantarkan orang tua Fatih terlebih dahulu ke bandara karena akan langsung pulang ke Yogya. Setelah bersiap-siap mereka pulang dari hotel. Kini mereka sedang dalam perjalanan menuju Bandara. Nisa duduk bersebelahan dengan ibunya Fatih di sheet tengah.


"Ibu dan Bapak pamit pulang dulu ya! Semoga kalian selalu di berikan kebahagiaan dan segera mendapatkan momongan," ucap Ibunya Fatih dan mereka menganggukkan kepalanya.


Setelah orang tua Fatih pergi meninggalkan mereka, Fatih dan Nisa ikut pulang. Kini mereka sudah berada di parkiran mobil.


"Kamu ke rumah Ayah Bunda dulu ya Bang, aku mau ambil barang-barang aku dulu!" ucap Nisa membuka obrolan.


"Besok saja 'lah, malam ini kamu tidak perlu memakai baju, yang kamu panggil aku sayang dong biasakan biar tambah romantis!" goda Fatih.


"Dasar mesum!" ujar Nisa sambil memberikan capitan di pinggang suaminya.


"Mesum tapi kamu suka kan?" goda Fatih lagi membuat wajah Nisa memerah.

__ADS_1


Fatih sesekali melirik ke arah sang istri yang sudah tertidur pulas. Senyumnya terbit di sudut bibirnya, kala melihat wajah istrinya yang menggemaskan. Tangan kirinya sesekali mengelus rambut istrinya dengan lembut, menunjukkan rasa sayangnya kepada istrinya.


"Yang, bangun! Kita sudah sampai di rumah Ayah," ucap Fatih membangunkan istrinya. Perlahan Nisa membuka matanya dan mengusap wajahnya.


"Maaf ya Bang, Yang aku tertidur. Mataku ngantuk banget," ucap Nisa dengan perasaan bersalah.


"Santai saja sayang! Aku mengerti kok, semua ini kan karena ulah aku membuat kamu semalam kurang tidur. Ayo kita turun!" sahut Fatih. Mereka turun dan langsung di sambut kedua orang tua Nisa.


Nisa langsung pamit ke kamarnya untuk membawa barang-barang yang dia butuhkan, sedangkan Fatih menunggu di bawah bersama Ayah Fahri.


"Apa kalian tak menginap dulu satu malam di sini?" tanya Ayah Fahri. Jujur Fatih merasa canggung harus tinggal di rumah mertuanya. Sama halnya dengan Fahri yang masih sangat berat melepas anak semata wayangnya, Almira pun sedang merayu anaknya agar mau menginap di rumahnya malam ini.


Nisa langsung memeluk tubuh Bundanya. Suasana penuh haru melepas kepergian anak semata wayangnya. Bagaimana pun mereka harus mengikhlaskan anak semata wayangnya untuk menjalankan rumah tangga bersama suaminya. Isak tangis mengiringi perpisahan mereka.


"Bunda jangan bicara seperti itu, jangan buat Nisa semakin berat meninggalkan Ayah dan Bunda! Nisa kan besok-besok masih bisa main ke sini, bunda tak perlu khawatir!" ujar Nisa sambil menghapus air mata membasahi wajah bundanya.


Akhirnya Nisa menuruti keinginan Bundanya, dia pun masih merasa berat untuk meninggalkan rumah orang tuanya. Bahkan Nisa memilih malam ini untuk tidur bersama orang tuanya, sebagai bentuk perpisahan mereka. Keduanya menuruni anak tangga bersama. Nisa berniat membicarakan hal ini kepada suaminya


Fatih mengerutkan keningnya saat melihat sang istri turun tidak menenteng tas. Dia yakin kalau istrinya pasti akan mengajak dirinya menginap, mau tak mau Fatih harus menerimanya, mewujudkan keinginan istrinya.


"Bang, aku sudah janji sama Bunda kalau malam ini kita akan menginap di sini dan malam ini aku ingin tidur bersama kedua orang tua aku sebagai bentuk perpisahan aku," ujar Nisa membuat Fatih menelan salivanya dan tersentak kaget. Malam ini dirinya harus berpuasa dulu. Fatih terpaksa menuruti keinginan istrinya, dia tak ingin istrinya marah kepadanya.

__ADS_1


Malam telah larut, setelah makan malam mereka memasuki kamar masing-masing. Nisa masuk terlebih dahulu ke kamar dirinya bersama Fatih untuk pamit kepada suaminya. Baru setelah itu dia ke kamar orang tuanya.


"Bang, Yang, Nisa tidur dulu ya ke kamar Ayah dan Bunda. Malam ini Abang, Yang, tidur sendiri dulu ya!" ujar Nisa yang masih saja lupa untuk memanggil suaminya dengan kata sayang." Fatih terpaksa mengiyakan, lagi pula tak ada salahnya dia mengalah untuk malam ini.


Nisa sudah bersama orang tuanya. Meninggalkan


Fatih seorang diri di kamar Nisa. Fatih masih belum bisa memejamkan matanya. Dia terlihat gelisah, sejak tadi hanya membolak balikkan badannya ke kiri dan kanan. Merasa kehilangan teman tidurnya. Padahal dia sudah terbiasa hidup sendiri setelah bercerai, tetapi saat ini dia merasa kehilangan istrinya. Baru pukul 2 pagi, Fatih baru memejamkan matanya. Sampai-sampai jam sudah menunjukkan pukul 5 pagi, Fatih masih memejamkan matanya.


Nisa tertidur pulas di dalam pelukan kedua orang tuanya. Dia bersyukur akhirnya bisa merasakan kasih sayang kedua orang tua. Nisa menghampiri suaminya ke kamarnya. Dirinya duduk di tepi ranjang sambil memandang wajah suaminya yang masih memejamkan matanya.


"Aku bersyukur karena Allah telah memberikan suami yang luar biasa seperti kamu." gumam Nisa sambil mengelus rambut suaminya membuat Fatih perlahan membuka matanya.


Fatih langsung menarik tubuh Nisa membuat saat ini tubuh Nisa berada di atas tubuhnya. Fatih langsung melahap bibir istrinya. Hal itu membuat Nisa memukul-mukul tubuh Fatih agar sang suami segera melepaskan ciumannya karena dia tak ingin sholah shubuh nya telat.


"Abang ini mau menerkam terus, nanti yang ada kita kesiangan sholatnya," cerocos Nisa dengan wajah cemberut. Nisa langsung menyuruh suaminya untuk mandi dan berwudhu.


Setelah sholat Fatih langsung menerkam istrinya kembali untuk menuntaskan hasratnya. Nap*su nya bertambah saat bersama Nisa. Pagi ini mereka mengalami pelepasan kembali.


"Bilangnya mau sholat tapi ga kembali sampai sekarang," gerutu Ayah Fahri.


"Biarin saja si Yah, kaya kamu ga pernah muda saja. Wajarlah pagi-pagi melakukan ritual, namanya juga pengantin baru. Serasa milik berdua, pengennya berduaan terus. Biar saja, biar kita cepat punya cucu. Istrinya cantik kaya gitu, pasti dia ga akan tahan melihatnya," cerocos Almira memberi pengertian kepada suaminya.

__ADS_1


__ADS_2