
Nisa dan Fatih menuruni anak tangga untuk sarapan pagi. Inilah salah satu alasan Fatih ingin segera pulang, dia merasa malu jika orang tua Nisa mengetahui kalau mereka habis melakukan ritual ranjang. Terlebih Nisa yang masih belum terbiasa kalau dirinya dan Fatih sudah menikah, wajar jika mereka bermesraan.
"Makan dulu sana! Ayah sama Bunda sudah makan duluan," ujar Fahri yang saat ini sedang duduk santai bersama sang istri sambil menonton tayangan televisi.
Nisa dan Fatih menikmati sarapan pagi berdua, dengan telaten Nisa melayani suaminya. Menyendokkan nasi, sayur, dan lauk untuk sang suami tak lupa menyediakan air putih untuk suaminya minum. Nisa berusaha untuk melayani suaminya dengan baik. Tentu hal ini membuat Fatih merasa tersanjung. Walaupun Nisa anak orang kaya, dia mengerti tugasnya sebagai seorang istri. Setelah selesai makan, mereka berdua menghampiri kedua orang tua Nisa. Nisa duduk di sebelah bundanya dan Fatih duduk di tempat yang berbeda.
"Ini tiket bulan madu kalian, berhubung cuti Fatih tak bisa lama jadi Ayah cuma memberikan tiket bulan madu ke Bali. Nanti kalau Fatih ada waktu luang lagi baru kalian bulan madu ke luar negeri ya!" ujar Fahri sambil memberikan amplop berisi tiket pesawat untuk bulan madu. Untuk urusan hotel dan akomodasi selama di sana semua sudah di urus Fahri.
"Mengapa Ayah repot-repot melakukan ini? Aku bisa kok Yah membahagiakan Nisa, hal ini membuat aku tak enak hati," ungkap Fatih.
"Kamu tidak perlu berpikir seperti itu, Ayah ikhlas melakukannya. Yach... hitung-hitung sebagai hadiah pernikahan untuk kalian," sahut Ayah Fahri.
Sebenarnya Fatih masih merasa tak enak hati, saat dirinya menikah dengan Tia dulu pun Fahri melakukan hal itu. Tia justru meminta lebih dari itu. Saat bersama Tia, Tia meminta perjalanan keliling Eropa sebagai hadiah pernikahan mereka. Sedangkan Nisa anak kandungnya tak menuntut macam-macam.
"Kita mau jalan-jalan dulu ke mall apa langsung pulang ni?" tanya Fatih.
__ADS_1
Lagi-lagi Nisa sangat berbeda dengan Tia yang hidup glamor, Nisa memilih untuk langsung pulang. Nisa tak terlalu suka main ke mall, dia ke sana jika memang benar-benar perlu. Kini mereka baru saja sampai di rumah Fatih, rumah yang akan mereka tempati berdua. Rumah pertama kali mereka pernah bersama, meskipun hanya satu malam.
"Selamat datang istriku tercinta, semoga kamu betah di sini. Kelak rumah ini akan ramai dengan anak-anak kita, semoga akan segera hadir di rahim kamu," ucap Fatih sambil melingkarkan tangannya di perut Nisa.
"Perkenalkan Bi Inah ini istri saya namanya Nisa, tolong kamu layani dia dengan baik ya!" ucap Fatih memperkenalkan istrinya ke ART yang bekerja di rumahnya. Nisa menyapanya dengan ramah.
Fatih menggandeng mesra tangan Nisa ke kamarnya. Rumah minimalis berlantai dua yang terlihat asri karena memiliki taman yang indah di tanami bunga-bunga berwarna warni. Meskipun jauh dari kata mewah, rumah tersebut terlihat bersih dan rapih.
"Silahkan masuk Tuan Putri, ini kamar kita!" ucap Fatih saat membuka pintu kamarnya dan untuk mengajak istrinya untuk masuk. Kamar yang cukup luas berdinding biru laut, kamar bernuansa biru. Terdapat sofa yang bisa di gunakan juga untuk tidur bersantai, memiliki kamar mandi di dalam. Terdapat bathtub dan juga shower. Di dalam kamar juga terdapat televisi untuk menonton dan memiliki balkon yang mengarah ke taman. Kamar tersebut di setting seperti sebuah hotel, memberi kenyamanan untuk dirinya dulu bersama istrinya kelak. Rumah ini adalah hasil kerja keras Fatih selama bekerja. Dia selalu menabung dan berhemat mengumpulkan pundi-pundi uang.
"Maaf jika aku mampunya hanya seperti ini, tapi aku memiliki cinta yang luar biasa untuk kamu. Semoga kelak rezeki aku bertambah dan bisa membuatkan rumah yang lebih mewah lagi untuk kamu dan anak-anak kita," ucap Fatih sambil menggenggam tangan istrinya.
"Tak ada alasan bagiku untuk berpaling darimu, hanya orang bodoh saja yang meninggalkan kamu. Kamu wanita sempurna yang baru aku miliki. I Love You..." ucap Fatih membuat Nisa bahagia mendapatkan pujian dari suaminya.
❤️❤️❤️
__ADS_1
"Yang, aku mau masak dulu! Kamu istirahat saja sana!" ucap Nisa saat suaminya terus memeluknya tak membiarkan dirinya pergi.
"Tidak perlu sayang, biar Bi Inah saja yang memasak. Kamu adalah ratu di rumah ini tugas kamu hanya membahagiakan sang raja saja," goda Fatih sambil menaik turunkan alisnya menggoda sang istri. Bukannya melerai pelukannya, Fatih justru semakin mempererat pelukannya.
Fatih justru kini sudah berada di atas tubuh Nisa sambil melahap bibir istrinya. Mengukung Nisa agar tak pergi. Tangannya sudah mulai mengeksplore tubuh istrinya, membuka kancing baju istrinya dan meraba menyelusup masuk ke bukit kembar istrinya, bermain-main di sana.
"Aaahhh," desauan keluaran dari bibir Nisa. Dirinya seperti tersengat aliran listrik. Dirinya mulai terbiasa permainan suami dudanya.
Kini Fatih berhasil membuka seluruh pakaian istrinya menyisakan kain segitiga. Membuat hasratnya semakin menggebu-gebu melihat pemandangan istrinya yang sangat indah dan menggoda. Entah Tia yang kurang bersyukur atau Fatih yang memang berubah saat bersama Nisa.
Fatih menji*lati lubang kenikmatan milik istrinya sambil tangannya mere*mas bukit kembar istrinya. Membuat tubuh Nisa bergelinjang hebat tak kuasa menahannya. Tangan Nisa membenamkan kepala Fatih semakin memperdalam. Rudal Fatih tak mampu di kondisikan lagi, dia sudah tak sabar bermain-main di milik istrinya yang masih terasa sempit.
"Sayang, aku masukkan ya? Aku sudah tak tahan lagi," ujar Fatih tak mampu lagi menahannya. Nisa pun merasakan hal yang sama, dia pasrah dengan apa yang di lakukan suaminya.
Fatih mulai merenggangkan kedua pangkal paha istrinya dan membenamkan miliknya. Dia mulai memainkan, memasukkan semakin dalam membuat keduanya semakin tak tahan. Fatih semakin mempercepat permainannya membuat Nisa mengalami pelepasan pertama. Hal itu membuat Fatih semakin menggila, dan akhirnya dia berhasil menumpahkan cairan hangat menyirami rahim istrinya. Kali ini Fatih tak langsung melepas rudalnya. Fatih menyambar bibir istrinya lagi dan turun ke bukit kembar istrinya. Menghisap seperti bayi yang kelaparan.
__ADS_1
"Aaahh, sayang!" desauan lolos kembali dari bibir Nisa. Membuat otong kembali mengeras kembali, memaju mundurkan miliknya. Melanjutkan permainannya kembali.
"Sayang, milikmu begitu nikmat," racau Fatih. Napasnya sudah terengah-engah, jantungnya berpacu sangat cepat. Hingga akhirnya mereka mengerang bersama. Akhirnya Fatih ambruk di atas tubuh istrinya. Mereka mendapatkan pelepasan dua kali. Keduanya kini sedang mengatur napasnya.