
"Tidak! Tolong jangan ambil mobil ini! Pa, hiks...hiks...hiks." mama Eliza tak mampu melanjutkan ucapannya. Nafasnya terasa sesak kala harus berada di posisi ini. Hanya air mata yang mewakili perasaannya saat ini.
Kehidupan Kenzi beserta keluarganya semakin terpuruk, jangankan untuk membayar cicilan bank dan leasing mobil untuk makan pun mereka merasa kesulitan. Aditya sang menantu tak akan mau membantu, seakan menutup mata dan telinganya. Yang dia pikirkan hanya keamanan dirinya. Dia tak peduli dengan nasib yang di alami adik ipar dan mertuanya. Bahkan Felisa sudah di buat menderita, dalam kondisi hamil besar dia harus mencuci dan menyetrika sendiri. Pembantu yang di pekerjakan di rumah sudah Aditya pecat dengan alasan dia pun sedang kesulitan keuangan hingga harus mengirit.
"Ikhlaskan saja ma! Mungkin Allah sedang murka kepada kita, hingga dia mengambil apa yang sempat kita miliki satu persatu. Marah pun tak akan bisa, itu sudah menjadi ketentuan leasing. Karna sudah dua bulan lebih papa tak bisa membayar cicilan mobil. Kita harus terima! Mungkin sebentar lagi rumah ini pun akan di sita bank karena papa tak bisa membayar cicilannya." ungkap Papa Hadi lesu.
Jika Allah sudah berhendak maka terjadilah. Dalam sekejap Allah telah menarik kembali apa yang dia titipkan kepada keluarga Pak Hadi. Dan menjadikan pelajaran berharga, bahwa kesombongan tak ada artinya karena yang patut sombong hanyalah Allah pemilik alam Semesta beserta isinya.
"Terus kita nanti tinggal di mana pa, uang untuk membeli rumah lagi pun tak ada?" ucap mama Eliza lirih.
Papa Hadi hanya bisa menganggukan kepalanya lemah, dia pun bingung memikirkan kelanjutan hidup mereka.
"Mas, tolongin papa!" ucap Felisa, dia merasa Kasihan dengan kondisi orang tuanya.
"Kamu pikir aku ini bank? Aku ga punya uang sebanyak itu, lagi pula kalau ada pun lebih baik aku pakai untuk kepentingan aku! Toh aku yang merasa cape selama ini mencari uang, jadi biar aku menikmatinya." sahut Aditya ketus.
Felisa hanya bisa diam terpaku. Suaminya yang sekarang benar-benar telah berubah. Selalu berkata kasar dan bahkan sering membentaknya. Hingga Feli merasakan tekanan batin. Wajah cantiknya kini sudah tak terurus, karena sibuk bekerja bersama Farrah. Bahkan Aditya sering kali protes saat kalau tubuhnya sering bau keringat dan rambutnya di ikat tak rapih, benar-benar seperti seorang pembantu.
__ADS_1
Aditya memilih untuk pergi meninggalkan rumah dari pada dia harus melihat kejadian yang membuat dia tak nyaman. Dia lebih memilih untuk berjalan-jalan menikmati libur kerja dengan kekasih gelapnya. Dengan santainya dia menuruni anak tangga melewati Kenzi dan kedua orang tua istrinya begitu saja.
Farrah hanya bisa melirik ke arah kekasih gelapnya, tetapi dia tak mungkin langsung meninggalkan pekerjaannya dan berlari mengejar Aditya meminta ikut dengannya.
"Sepertinya kita harus temui kak Arman pah, siapa tau dia bisa membantu kesulitan kita." ucap Mama Eliza. Arman adalah kakak dari Hadi, seorang pengusaha hebat yang memiliki banyak cabang.
"Ya sudah kita coba saja, semoga dia bisa membantu kita! Besok kita ke sana ya ma! Mama sabar ya, semoga kita bisa melewati ujian ini!" sahut papa Hadi mencoba menenangkan sang istri, dana mama Eliza menganggukkan kepalanya tanda setuju.
"Semua ini gara-gara wanita itu! Dia yang buat hidup kita menderita seperti ini! Semua ini gara-gara kamu Ken, orang tua kamu jadi ikut-ikutan susah. Kalau saja kamu tidak menabrak wanita pembuat sial itu, pasti kehidupan kita masih baik-baik saja tidak seperti sekarang. Kita jatuh miskin!" ujar mama Eliza yang sudah terisak tangis. Dia tidak menerima apa yang terjadi di hidupnya sekarang.
"Sudah...sudah! Tak perlu di sesali lagi! Nasi sudah menjadi bubur, semua tak akan bisa kembali lagi! Dari pada saling menyalahkan lebih baik kita mencari jalan keluarnya sebelum kehidupan lebih parah lagi!" ujar papa Hadi berusaha untuk bijaksana.
❤️❤️❤️
Keesokan harinya. Dengan menaiki motor matic milik Kenzi, mama Eliza dan papa Hadi mendatangi rumah sang kakak berharap agar mendapatkan bantuan finansial. Mereka menghilangkan sifat gengsi yang selama ini mereka miliki. Sebenarnya dia merasa malu untuk meminta bantuan kepada sang kakak.
Security sudah mempersilahkan mereka untuk masuk ke dalam rumah, kebetulan Arman pun sedang berada di rumah.
__ADS_1
"Ada angin apa kalian datang ke sini?" ujar Mia istri dari Arman.
Ucapan Mia mengangetkan Eliza dan Hadi membuat mereka mengangkat wajahnya untuk melihat ke sumber suara. Eliza dan Hadi menghampiri Mia, berniat untuk mencium tangan. Dan dengan sombongnya Mia membersihkan bekas ciu*man tangan keduanya.
"Tahan emosi mu Liz, kamu butuh bantuan dia!" ucap Mama Eliza menguatkan hatinya. Marah pun dia sudah tak bisa, karena sudah berada di posisi di bawah. Tak seperti dulu bisa berbuat sesukanya.
"Maaf kak, kak Arman ada?" tanya Hadi.
"Ada. Memangnya kalian ada perlu apa?" tanya balik Mila seakan menyelidik.
Akhirnya Hadi selaku sang adik kandung, langsung menceritakan tentang kesulitan mereka. Di mana dirinya dan anaknya Kenzi saat ini sudah tidak bekerja. Tabungan mereka sudah terkuras untuk membayar cicilan dan kebutuhan hidup selama belum mendapatkan pekerjaan. Hadi juga memberi tahu kalau mobilnya sudah di tarik leasing karena tidak bisa membayar lebih dari dua bulan. Dan bahkan rumah yang mereka tempati terancam di sita bank.
"Lantas apa hubungannya permasalahan kalian dengan kami?" sahut Mia ketus.
Masa lalu yang buruk yang di lakukan Eliza membuat Mia merasa dendam. Dulu sewaktu Arman masih hidup susah, dia pernah meminjam uang untuk anak-anaknya makan. Tetapi bukannya memberi Eliza justru menghina Arman dan mengatakan Arman seorang pemalas. Saat itu Eliza membanggakan anak-anaknya yang bisa sekolah hingga ke perguruan tinggi dan mendapatkan jabatan yang bagus di tempat bekerja.
Memang saat itu Hadi lah yang berjaya. Hadi di angkat menjadi seorang general manager di perusahaan tempat Hadi bekerja. Kenzi pun saat itu bekerja menjadi manager marketing, mendapatkan fasilitas kantor berupa mobil. Dan Felisa setelah lulus dirinya langsung di terima menjadi sekertaris direksi.
__ADS_1
"Kami minta tolong kak! Tolong berikan saya modal untuk membuka usaha agar saya bisa mendapatkan penghasilan untuk membayar cicilan rumah dan kebutuhan sehari-hari. Saya janji akan mencicilnya dari keuntungan usaha." ujar Hadi.