
Farrah sudah bisa menggerakkan tubuhnya yang sempat terasa kaku, meskipun masih terasa lemas. Seakan tak mampu menginjakkan kakinya. Dengan meminta bantuan sang perawat, kini dirinya berada di taman belakang di rumah sakit tersebut. Farrah duduk di kursi roda, hidupnya merasa semakin menderita. Tak ada perhatian dari suaminya.
"Kenapa sih kamu masih saja mempertahankan wanita penyakitan itu? Lebih baik kau ceraikan saja, selesai sudah tanggungjawab kamu! Tak ada gunanya juga mempertahankan dia, yang ada kamu justru harus mengeluarkan uang demi suatu hal yang tak penting," cerocos Tia.
Aditya mencoba menyimak ucapan Tia, dan berpikir. Memang ada benarnya apa yang di katakan Tia kepadanya. Jika dirinya sudah bercerai dari Farrah, maka dia tak perlu membiayai perawatan Farrah.
"Bagaimana? Bukankah saran aku sangat baik? Lagi pula penyakit kanker seperti itu, tak akan bertahan hidup. Perlahan dia akan mati," ujar Tia lagi.
Ada perasaan tak tega di hati Aditya untuk menceraikan Farrah dan menghentikan biasa pengobatan untuk Farrah. Jika bukan dirinya, siapa yang kelak nantinya akan menjadi tempat pijakan untuk Farrah. Farrah harus tinggal di mana dan nantinya makan apa di saat kondisinya yang tidak memungkinkan.
"Benar juga apa yang kamu katakan. Untuk apa aku pertahankan istri penyakitan seperti itu," ucap Aditya membuat Tia menyunggingkan senyuman dan dalam hati bersorak gembira. Dia tak menyadari kalau saat ini dia pun mengalami penyakit bawaan kehamilan dan bahkan bisa membahayakan nyawanya.
Aditya langsung bergegas ke rumah sakit, untuk menemui Farrah. Kebetulan hari ini adalah hari Sabtu, Aditya libur bekerja. Terlebih kondisi ekonominya saat ini sedang repot, karena harus mengurus biaya Farrah di rumah sakit karena tidak semua di bayarkan secara gratis.
"Permisi, maaf pasien atas nama Farrah ke mana ya? Mengapa di ruangan rawat inapnya tak ada?" tanya Aditya kepada perawat yang berada di ruang perawat. Perawat yang tadi sempat mengantarkan Farrah memberi tahu kalau saat ini Farrah berada di taman belakang.
Aditya berjalan menghampiri Farrah yang sedang duduk termenung dengan tatapan kosong. Aditya sudah memantapkan hatinya untuk membicarakan hal itu kepada Farrah.
Farrah terhenti dari lamunannya, saat menatap wajah laki-laki yang masih sangat dia cintai. Rasa cinta Farrah teramat besar kepada Aditya dan sayangnya dia menempatkan hatinya kepada orang yang salah.
__ADS_1
"Akhirnya kamu datang juga Kak? Aku kira kau sudah tak peduli dengan istri siri mu ini?" ucap Farrah sinis. Hati nya terasa sakit kalah mengingat
apa yang di lakukan Aditya kepadanya. Rasa cinta dan benci melebur menjadi satu.
"Ya memang benar apa yang di katakan kamu. Makanya hari ini aku datang menemui mu untuk menjelaskan status kita," sahut Aditya tak kalah sombongnya.
Tubuh Farrah terasa bergetar, jantungnya berdegup sangat kencang. Napasnya terasa terhenti seketika mendengar suaminya mengatakan akan memperjelas status mereka. Aditya langsung menjatuhkan talak kepada Farrah. Membuat nyawa Farrah seakan terlepas dari tubuhnya. Semuanya seakan runtuh. Hatinya terasa sakit seperti tertusuk pisau belati.
"Tega banget kamu. Kamu memang seperti iblis yang tak memiliki hati dan perasaan. Dulu kau memujaku dan sekarang membuang aku begitu saja." ucap Farrah dengan nada bergetar.
"Terserah kau menganggap aku apa dan memakiku seperti yang kau suka. Namun, hal ini tak akan membuat aku merubah keputusanku. Mungkin memang benar apa yang di katakan kau, kalau aku ini orang yang tega. Ini yang terbaik bagiku dari pada aku harus terus hidup mempertahankan seorang istri yang penyakitan tak berguna sepertimu! Mulai besok aku tak akan lagi menanggung biaya pengobatan kamu! Aku akan mengurus semuanya sampai hari ini saja." ungkap Aditya.
Ingin rasanya Farrah bangkit dari kursi rodanya dan melayangkan tamparan di wajah Aditya. Laki-laki breng*sek yang dia temui di dunia ini. Namun, tangannya hanya mampu mengepalkan saja.
Farrah terus mengumpat Aditya. Mengatakan kalau dirinya breng*sek dan ib*lis, tetapi Aditya tak mempedulikannya. Dia memilih untuk masuk ke rumah sakit kembali untuk mengurus administrasi Farrah. Mulai besok dia tidak akan bertanggungjawab dengan urusan pengobatan Farrah.
Air mata Farrah satu persatu jatuh tak tertahankan lagi, dan bahkan semakin deras. Dia tak menyangka hidupnya sangat menyedihkan seperti ini. Berharap Allah akan mencabut nyawanya saat itu juga, menghentikan penderitaan selama di dunia. Karma benar-benar sedang bermain-main dengannya.
Tatapannya terlihat kosong, wajahnya terlihat pucat seperti mayat hidup, dan tak ada lagi keinginan dirinya hidup. Hidupnya semakin menderita. Entah kemana lagi dia akan berpijak.
__ADS_1
Aditya baru saja sampai di apartemen dan memberitahu tentang perceraian dirinya dengan Farrah. Aditya meminta kepada Tia untuk merapikan barang-barang milik Farrah.
"Yes, akhirnya aku 'lah istri Adit satu-satunya." hati Tia bersorak gembira.
❤️❤️❤️
"Sayang, aku ikut donk ke rumah sakit. Yach... hitung-hitung aku mengucapkan kata perpisahan dengan mantan maduku." ucap Tia manja.
"Ya sudah, cepat ganti pakaianmu sekarang!" titah Aditya.
Kini mereka baru saja sampai di rumah sakit, Aditya dan Tia langsung menuju ruang rawat Farrah. Tia tertawa dalam hati melihat ruangan Farrah yang begitu sempit. Dia masuk dengan wajah angkuhnya. Bagaimana dengan Farrah? Dia tak mampu lagi menunjukkan taringnya, dia berada di posisi Felisa saat itu. Bagaimana dirinya dulu datang dengan bangganya menggandeng mesra Aditya dan merasa menjadi seorang pemenang. Kini dirinya harus merasakan berada di posisi itu.
"Ini semua milikmu dan ini uang untuk kamu bertahan hidup. Maaf setelah ini jangan pernah mengganggu aku lagi! Urusan kita sudah selesai!" ucap Aditya begitu teganya.
"Selamat menikmati mantan istri siri suamiku. Saat ini aku 'lah pemenangnya," ucap Tia dengan sombongnya.
"Jangan merasa bangga dulu, karena aku yakin kau pun akan merasakan seperti aku. Rasanya di campakkan seperti aku. Cepat atau lambat kau pun akan merasakan perlakuan dari seorang laki-laki breng*sek seperti suamimu sekarang!" sahut Farrah tak mau kalah.
"Sudah! Sudah! Aku tak ingin mendengar kalian berdebat! Untuk kau, tak perlu mengurusi kehidupan aku selanjutnya! Aku pamit! Lupakan aku, kisah cinta kita sudah berakhir!" ucap Aditya dan meninggalkan Farrah begitu saja.
__ADS_1
"Breng*sek! Ah...hiks...hiks..." Farrah meluapkan kekesalannya. Melemparkan barang-barang di sekitarnya.
"Lebih baik kau ambil saja nyawaku, dari pada aku harus menderita seperti ini. Aku lelah hidup menderita. Hiks ...hiks ..."