
"Aku akan membuat kamu menderita hingga membuat kamu tak mampu lagi bertahan di sini! Kau tau? Bahkan Adit lebih berat kepadaku. Selamat menikmati penderitaan," ucap Tia mengejek.
"Dasar wanita tidak tau diri! Aku juga tidak akan pernah membiarkan kamu hidup bahagia, aku akan membalas semua perbuatan kamu ke aku!" sahut Farrah tak mau kalah. Tia hampir saja melayangkan tamparan di wajah Farrah, tetapi Farrah menepisnya.
Akhirnya Tia memilih untuk bersiap-siap untuk ke rumah orang tuanya untuk mengambil barang-barangnya di sana yang akan di bawa ke apartemen.
"Jangan lupa kamu rapihkan ranjang aku sisa semalam! Kau pasti tau seberapa perkasanya Adit di ranjang. Ups aku lupa kalau akhir-akhir ini pasti kamu jarang sekali bercinta karena Adit sudah melakukannya dengan aku." ucap Tia dengan bangganya. Ingin rasanya Farrah mendorong tubuh Tia dan meremas wajah Tia.
Farrah teringat ucapan dirinya dulu kepada Aisyah dan kini dia yang merasakannya. Menyuruh Nisa membersihkan ranjang sisa percintaannya dengan Kenzi.
"Aku ini bukan pembantu kamu! Aku juga yakin suatu saat nanti Kak Adit pasti menendang kamu seperti aku!" ucap Farrah sinis dan langsung meninggalkan Tia begitu saja. Tia pun akhirnya mengambil tas, ponsel, dan kunci mobilnya untuk pergi ke rumah orang tuanya.
❤❤❤
__ADS_1
Kini Nisa sedang berada di ruangan Fatih. Rutinitas yang sering kali Nisa lakukan saat dirinya jenuh di ruangan. Posisi Nisa saat ini lebih tinggi dari Fatih. Dia adalah pemilik di perusahaan tersebut.
"Nis, Pak Fahri bilang Tia nikah ya sama suaminya Farrah dan mantan suaminya kakak ipar kamu dulu? Aku benar-benar tidak habis pikir mengapa Tia semakin liar begitu ya, berbuat zina seperti wanita murahan dan lebih parahnya lagi dia menjalin hubungannya sama laki-laki beristri dan sampai hamil pula. Alhamdulillahnya aku tidak ada keinginan untuk kembali dengan dia, aku takut menanggung dosanya Nis punya istri seperti dia."
"Eemmm, iya juga sih. Terus Abang belum ada keinginan menikah lagi? Biar ga kesepian di rumah bang, kan jadinya abang ada yang nemenin," ucap Nisa.
"Sudah. Justru ingin sekali. Tetapi sepertinya wanita itu masih belum mau menikah, mau ga mau Abang harus bersabar. Semoga saja Abang berjodoh sama dia, dia mau menerima Abang apa adanya. Abang yakin wanita itu sangat cocok untuk istri Abang dan bisa menjadi ibu yang baik untuk anak-anak Abang," ungkap Fatih sambil menatap Nisa.
"Nisa doain ya Bang semoga wanita itu juga memiliki perasaan sama Abang dan Abang bisa hidup bahagia dengannya," doa Nisa, tetapi rasanya dia tak rela jika hal itu terjadi. Di satu sisi dia ingin melihat Fatih bahagia, tetapi di satu sisi dia merasa tidak rela seperti rasa cemburu.
Sebenarnya Fatih ingin sekali mengungkapkan perasaannya kepada Nisa, kalau diam-diam sudah jatuh cinta kepada Nisa wanita yang dia tolong dulu. Namun, dia takut jika Nisa mengira kalau dirinya memanfaatkan kebaikan dirinya dulu kepada Nisa dan memaksa Nisa untuk menerimanya. Sejak tadi dirinya berusaha untuk berpikir keras tentang apa yang harus dia lakukan. Fatih masih ingin tahu perasaan Nisa sebenarnya.
"Kalau kamu sendiri gimana, Nis? Mengapa kamu tidak menikah lagi? Apa kamu mencintai Kenzi?" tanya Fatih, dia ingin tahu jawaban apa yang akan Nisa katakan.
__ADS_1
"Jika ada laki-laki yang berniat melamar Nisa dan Nisa pun yakin kalau dia laki-laki yang baik untuk pasangan Nisa kelak, Nisa akan menerima lamaran itu. Saat ini Nisa sedang menanti hal itu akan terjadi. Kalau untuk Kenzi, terus terang ya Bang dari dulu Nisa tidak ada perasaan karena sejak awal menikah, Nisa sudah memilih menutup hati untuk Kenzi. Nisa sadar kalau Kenzi tak pernah mencintai Nisa. Tidak mencintai saja rasanya sudah sangat menyakitkan hidup di poligami apalagi Nisa sampai mencintai dirinya pasti rasanya akan lebih menyakitkan. Kedekatan Nisa kemarin dengan Kenzi hanya sebagai bentuk pembalasan saja dan saat ini Nisa baik dengan dia dan keluarganya hanya sebatas hubungan persaudaraan sesama manusia. Nisa sempat berada di posisi mereka, terlebih mereka pun seperti itu karena Nisa." ujar Nisa dan Fatih mencoba menyimaknya.
"Emmmm. Nis, kalau wanita yang Abang maksud itu kamu gimana? Jujur Abang sudah jatuh hati sama kamu, tetapi Abang selalu menahan untuk mengungkapkannya. Abang takut Nisa salah paham kalau Abang seperti ini atas dasar balas budi Nisa karena Abang sudah membantu Nisa dan karena mengharap posisi yang lebih baik dari Pak Fahri selaku pemilik perusahaan. Abang tulus mencintai Nisa dan sangat berharap Nisa bisa menerima Abang. Secara perbedaan kita sangat banyak, Nis. Usia kita seperti Abang dan adik bahkan sangat jauh bisa di katakan seperti keponakan dengan om." ungkap Fatih di akhiri kekehan. Usia Fatih saat ini 35 tahun sedangkan Nisa 21 tahun.
Nisa terpaku menatap wajah Fatih. Netra mereka kini saling bertemu. Ada getaran hati di keduanya. Jantung Fatih merasa deg-degan menunggu jawaban dari Nisa. Mata indah Nisa seakan menghipnotis dirinya. Suasana ketegangan sempat menghampiri ruangan kerja Fatih. Wajah Fatih menunjukkan wajah penuh harap. Ketegangan berakhir dengan senyuman di sudut bibir Nisa.
"Loh kamu kok malah tersenyum. Lucu ya? Cinta memang lucu, abang juga ga mengerti. Perasaan itu timbul sendiri, padahal selama ini Abang sudah menganggap Nisa sebagai Adik Abang. Abang sadar diri. Dari segi usia kita terpaut jauh, status apalagi ya meskipun Nisa juga sudah pernah menikah. Status sosial apalagi, Abang hanya pekerja biasa tetapi insyaallah Abang akan berusaha memenuhi kebutuhan Nisa." jelas Fatih. Ekspresi Fatih membuat Nisa tertawa geli. Dia tak menyangka seorang Fatih yang bersikap cuek, berwibawa dan dewasa bisa seperti itu. Wajah Fatih menggambarkan seorang anak kecil yang menginginkan sesuatu dan merengek kepada ibunya.
Nisa masih diam tak memberi jawaban membuat Fatih merasa tak enak hati karena merasa lancang mengungkapkan perasaan hati nya.
"Ya sudah Nis jangan di paksakan kalau kamu tak bisa. Abang tidak maksa kok, Abang hanya ingin mengungkapkan apa yang Abang rasa saat ini biar Abang bisa hidup tenang tanpa beban karena menutupi perasaan cinta Abang ke Nisa." sahut Fatih lesu. Dia pikir Nisa pasti menolaknya.
Fatih bangkit dari tempat duduk yang berada di hadapan Nisa dan kembali ke kursi kebesarannya.
__ADS_1