Istri Yang Tak Di Hargai ( Berubah Cantik )

Istri Yang Tak Di Hargai ( Berubah Cantik )
Penyesalan yang tak berujung


__ADS_3

Dua bulan kemudian, usia kandungan Tia sudah memasuki 13 minggu.


"Sayang, hari ini kamu bisa tidak mengantarkan aku untuk periksa kandungan ke dokter? Aku ingin sekali ka...," ucapan Tia terhenti kala Adit justru langsung membentaknya.


"Kamu tau kan kalau aku ini sibuk, kamu kan bisa pergi sendiri ke dokter! Jadi istri aku harus mandiri, jangan manja!" cerocos Adit.


Air mata Tia jatuh satu persatu. Hatinya merasa sedih. Padahal dia ingin sekali jika Adit menemani dirinya. Ikut melihat perkembangan anak mereka. Tapi Adit justru adit menolaknya dan bahkan mengatakan dirinya anak manja.


"Sudah jangan menangis! Aku tak suka melihat wanita cengeng! Ya sudah aku jalan dulu berangkat kerja!" ucap Adit sambil memberikan kecupan di kening istrinya dan Tia hanya menganggukkan kepalanya lemah.


Tentu saja hal ini membuat Farrah tersenyum bahagia karena kelak nasib menyedihkan akan Tia rasakan juga.


"Hapus air mata kamu, kamu menangis sampai berdarah pun dia tidak akan peduli! Anak yang sudah lahir ke dunia saja dia abaikan apalagi anak kamu yang masih segumpal darah," sindir Farrah.


Tia tak membalas ucapan Farrah. Dia lebih memilih untuk masuk ke dalam kamar meluapkan perasaan hatinya.


"Hiks...hiks...kenapa kamu berkata seperti itu padaku? Padahal aku ingin sekali-kali kamu ikut memeriksakan keadaan anak kita. Aku ingin kamu memberikan perhatian lebih kepadaku. Menanyakan apa yang aku inginkan." ucap Tia sambil terisak tangis.


Penyesalan selalu datang belakangan, mau tak mau harus Tia jalani. Dia tidak boleh menyerah demi anaknya. Jiwa keibuan Tia semakin muncul, dia sangat menyayangi bayi dalam kandungannya.

__ADS_1


"Doakan Mama agar selalu kuat menghadapi Papa!" ucap Tia sambil mengusap perutnya yang masih terlihat rata.


Kini dia sudah bersemangat kembali. Tia menghapus air mata yang sempat turun membasahi wajahnya dan memilih untuk bersiap-siap pergi ke dokter. Kini dia baru saja sampai di rumah sakit yang letaknya tidak terlalu jauh dari apartemen tempat dia tinggal.


Rona bahagia terpancar dari wajah Tia. Wajahnya semakin terlihat cantik. Tia menikmati sekali perannya sebagai ibu hamil meskipun harus mengalami morning sickness, bahkan beberapa hari ini dia tak nap*su makan hanya makan buah-buahan dan jus saja. Yang paling menyedihkan sekali, dia hamil tanpa perhatian suaminya. Aditya hanya menjadikan Tia tempat pelampiasan nap*sunya. Kadang hal itu membuat dirinya merasa lelah. Tetapi Adit selalu mengancam dirinya, dia akan bermain dengan ja*lang. Adit sudah tak berhubungan intim lagi dengan Farrah, karena Farrah sering kali merasakan sakit bahkan sampai mengeluarkan darah saat berhubungan intim dengan Aditya. Hal itu membuat Aditya tak mau lagi menyentuh Farrah. Farrah hanya di jadikan pembantu di apartemennya.


Kini saatnya Tia melakukan pemeriksaan.


"Gimana apa ada keluhan yang di rasa? Kita lakukan pemeriksaan dulu yuk!" ujar Dokter Natasya ramah.


"Aku mual terus Dok, akhir-akhir ini saya tidak nap*su makan. Saya hanya makan buah dan minum jus saja. Apalagi pagi, saya sering kali mengalami morning sickness." sahut Tia.


Dokter Natasya mulai mengoleskan gel untuk melakukan pemeriksaaan USG. Tangannya mulai menggerak-gerakkan dan matanya tertuju ke layar monitor. Tiba-tiba saja dirinya mengerutkan keningnya. Bahkan dirinya pun tak percaya. Dia masih terus melakukan pemeriksaan secara detail. Usia kandungan masih sangat muda, dan masih berupa gumpalan darah. Tetapi dia melihat ada keganjalan.


"Bagaimana Dok apa kondisi calon anak saya baik-baik saja?" tanya Tia khawatir. Melihat respon dokter Natasya, membuat Tia merasa khawatir.


Dokter Natasya menjelaskan tentang kecurigaan yang dia rasakan mengenai kondisi janin dalam kandungan Tia. Dokter Natasya menyarankan akan Tia mau melakukan aborsi, dia khawatir bayi yang akan dilahirkan memiliki kelainan. Tetapi Tia menolaknya, dia ingin tetap mempertahankan bayi itu. Karena bayi itu yang membuat dirinya bisa menikah dan bertahan dengan Aditya. Dia yakin kalau semua itu hanya kecurigaan saja, belum tentu akan terjadi kenyataan.


"Tetapi kondisi ini akan membahayakan salah satunya atau bahkan keduanya. Bisa menyebabkan bahaya pada sang ibu. Dapat menyebabkan kematian. Tia tidak peduli, dia akan terus berusaha untuk mempertahankan bayi tersebut. Meskipun kelak nyawa dia yang akan menjadi taruhannya.

__ADS_1


"Tetapi ini sangat membahayakan Bu. Bisa menyebabkan kematian, baik ibu atau pun anak ibu dan bahkan keduanya. Lebih baik di keluarkan dulu bu, nanti setelah itu bisa melakukan program hamil kembali!" ujar dokter Natasya.


"Tidak Dok! Apapun yang terjadi, aku akan tetap mempertahankannya. Ku mohon tolong jaga rahasia ini dari suamiku. Apa artinya hidup aku jika aku akan menderita tanpa hadirnya anak aku?" ucap Tia lirih di iringi isak tangis.


Dia tak bisa membayangkan nantinya jika sampai anak itu tak ada. Nasibnya tak akan berbeda jauh dari Farrah. Bisa-bisa Aditya akan meninggalkan dirinya dan menikahi wanita lain. Tia terlihat histeris, tidak bisa menerima kenyataan yang ada. Dia takut jika Aditya akan meninggalkan dirinya kalau dia tak bisa memberikan keturunan untuknya.


"Sabar bu! Saran saya sebaiknya ibu bicarakan dulu dengan suami ibu! Saya yakin kalau suami ibu pasti akan menerima, terlebih ini adalah masalah nyawa," ujar dokter Natasya memberi saran. Tia hanya menggelengkan kepalanya lemah. Dokter Natasya tak mengetahui sifat suaminya yang sering kali membuang istrinya jika dirinya sudah tak membutuhkannya. Hal itu membuat dokter Natasya merasa iba.


Tia berusaha untuk mempertahankan bayi dalam kandungannya, dia membeli obat meskipun dengan harga yang mahal. Hanya bayi kandungannya yang akan mengikat dirinya dengan suaminya.


Tia duduk sendiri termenung di sebuah cafe. Satu persatu air matanya menetes. Hatinya terasa hancur saat mendengar kandungannya bermasalah. Harapannya untuk hidup bahagia hancur. Dirinya merasa tertekan, memikirkan apa yang akan terjadi dalam hidup. Sungguh penyesalan yang tak berujung.


"Mungkin cara Mama dan Papa menghadirkan kamu salah. Berawal dari sebuah kesalahan, membuat Allah berniat akan mengambil kamu kembali dari Mama. Tetapi Mama akan tetap mempertahankan kamu, meskipun nyawa Mama yang akan sebagai gantinya. Percuma Mama hidup, jika kamu tak bisa terlahir ke dunia untuk membuat Papa tetap bertahan sama Mama. Mama menyesal! Jika saja kamu hadir di rahim Mama saat Mama bersama Papa Fatih, Mama pasti akan menjadi orang yang sangat bahagia karen Papa Fatih selalu bersikap lembut kepada Mama, Mama yang dulu berbuat salah. Sayangnya kamu anak Papa Adit, hingga Mama harus menanggungnya sendiri.


Sambil menunggu up mampir yuk di karya bestiku yang seru banget.😄😍



__ADS_1



__ADS_2