Istri Yang Tak Di Hargai ( Berubah Cantik )

Istri Yang Tak Di Hargai ( Berubah Cantik )
Kesalahan seorang Papa


__ADS_3

Mama Indah memasuki ruangan tempat sang anak terbaring lemah. Air matanya tak mampu tertahan lagi. Seorang ibu tak akan pernah bisa membenci seorang anak, walaupun sang anak telah melukai hatinya.


"Sayang, Mama datang. Bangunlah! Buka matamu! Kamu tak perlu takut untuk menghadapi dunia, karena Mama akan selalu ada untukmu. Rasa sayang Mama tak akan pernah berubah kepadamu." ucap Mama Indah sambil menggenggam erat tangan sang anak.


Mama Indah menatap wajah sang anak yang terlihat pucat. Dia tak pernah menyangka kalau nasib anaknya begitu tragis. Balasan untuknya begitu berat. Entahlah sang anak bisa kuat menghadapinya atau tidak.


"Bangunlah, Nak! Apapun yang terjadi dengan dirimu, Mama tak akan berpaling." ucap Mama Indah lagi.


Mama Indah terus menceritakan kenangan masa lalunya dulu. Sejak Aditya kecil hingga memutuskan menikah dengan Felisa. Masih teringat jelas di benak sang mama, saat Aditya mengejar cinta Felisa dulu. Sayangnya, hal itu tak membuat sang anak membuka matanya.


Kini giliran Papa Rizal yang datang menghampiri sang anak. Sama halnya dengan sang istri, Papa Rizal pun merasa miris dengan apa yang menimpa sang anak. Namun, dirinya terlihat lebih pasrah jika Allah berniat mengambil anak semata wayangnya dari pada hidup tersiksa seperti itu.


Hari terus berlalu, tetapi sang anak masih enggan membuka matanya. Lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an sering kali Mama Indah bacakan di telinga sang anak. Mama Indah selalu berbicara yang membuat sang anak bersemangat untuk hidup.


Rasanya tak adil jika dirinya meminta Felisa untuk kembali dengan Aditya. Agar sang anak bisa merasakan kebahagiaan menjadi suatu keluarga yang utuh. Dia yakin kehadiran Elang akan memacu sang anak untuk bangun. Mama Indah berniat untuk menghadirkan Elang ke rumah sakit.


"Dok, saya mohon tolong izinkan anaknya bisa bertemu dengannya! Saya yakin hal ini bisa memacu dirinya untuk bangun dari komanya." pinta Mama Indah memohon.

__ADS_1


"Tapi bu ini sangat berbahaya, karena usia sang anak masih batita." sahut sang Dokter.


Mama Indah tak putus semangat agar pihak rumah sakit mengizinkan dirinya untuk menghadirkan sang cucu. Hingga akhirnya pihak rumah sakit mengizinkan, dengan syarat Elang harus memakai pakaian steril dan perlengkapan yang lengkap. Kini dia hanya menunggu izin dari Felisa.


"Duh gimana ya mah, jujur aku merasa takut. Penyakit di sana gawat-gawat, aku takut Elang tertular." ucap Felisa.


"Mama mohon Fel, ini demi kesembuhan anak Mama. Pastinya kamu tak akan tega, jika kamu berada di posisi Mama. Meskipun orang lain akan membencinya, seorang ibu tak akan mampu melakukannya. Mama tak peduli jika Adit nantinya akan mengalami cacat, merasakan penderitaan. Melihat dirinya tetap hidup, Mama sudah bersyukur." ujar Mama Indah membuat Feli merasa tak enak hati.


"Kamu habis bicara dengan siapa?" tanya Adrian. Felisa mengatakan kalau dirinya baru saja di hubungi mantan ibu mertuanya. Dia meminta agar Felisa mengizinkan Elang untuk menjenguk Aditya, berharap Aditya akan sadar kembali.


"Tapi Elang itu masih batita, penyakit di rumah sakit berbahaya nanti Elang bisa terpapar. Seharusnya kalau dia menyayangi cucu nya, dia mengerti donk jangan memaksa seperti itu. Pokoknya aku ga mau ya kalau sampai masuk ke ruangannya dan berlama-lama di rumah sakit. Aku tak ingin terjadi sesuatu dengan anak kita. Kamu harus pikirkan juga anak kita. Nyusahin saja sih hidupnya, kenapa ga mati saja sih." ucap Adrian geram. Dia merasa kesal dengan Aditya yang selalu mengusahakan hidup istrinya. Sampai-sampai dirinya menyumpahi Aditya.


Kini Felisa sudah berada di rumah sakit. Elang bersikap layaknya anak seusianya. Dia merasa takut dan memilih berlindung di balik badan sang mama. Suasana terasa asing baginya, meskipun dirinya sering kali bertemu dengan kakek dan neneknya.


"Sayang, ayo ikut Nenek! Kita tengok Papa ya," ucap Mama Indah. Mama Indah menuntun sang cucu yang sudah berpakaian lengkap.


Elang terlihat tegang, dia merasa ketakutan melihat mata Aditya yang tertutup perban dan kedua kakinya yang sudah di amputasi. Elang menghentikan langkahnya, tak berani untuk mendekat meskipun sang nenek tak melepaskan genggamannya.

__ADS_1


"El akut nek! Hiks ... hiks ..." Elang terlihat ketakutan dan justru menangis.


"Sayang, kamu tak perlu takut! Itu Papa kamu! Ayo kita ke sana! Ucapkan salam ya agar Papa bisa mendengar kamu," titah sang nenek. Mama Indah merasa sedih melihat cucu nya tak ingin dekat dengan sang anak. Jika seperti ini siapakah yang patut di salahkan? Semua salah Aditya yang tak pernah mempedulikan Elang dan berusaha untuk dekat dengan anaknya. Perasaan seorang anak sangat peka.


Elang berlindung di samping tubuh sang nenek. Dia hanya diam dengan wajah penuh ketakutan. Wajah laki-laki yang sedang terbaring lemah di ranjang rumah sakit sangat aneh baginya, meskipun sang mam sudah memberi tahu kepadanya kalau dia akan bertemu dengan sang papa.


"Dit, Elang datang menengok kamu. Bangunlah!" ucap Mama Indah, memberi tahu sang anak.


"Sini sayang, mendekat ke Papa. Bisikkan di telinga Papa, kamu ada di sini menengoknya." pinta sang nenek. Mama Indah mencoba mendekatkan sang cucu ke telinga sang anak.


Elang membisikan sang Papa, meskipun penuh dengan ketakutan. Hal itu membuat Aditya meneteskan air matanya satu persatu. Mama Indah terharu melihatnya, ikatan batin seorang anak dengan seorang bapak tak akan putus begitu saja meskipun terpisah lama.


Perlahan Aditya menggerakkan jemarinya dan perlahan membuka matanya. Hanya tangan yang masih bisa berfungsi yang di miliki Aditya. Tubuh dan Kaki nya tak mampu lagi di gerakan. Air mata Aditya tak terbendung lagi. Wajah anaknya 'lah yang pertama kali dia lihat saat membuka matanya.


"Sekarang Elang cium tangan Papa ya!" titah sang nenek. Elang hanya mengikuti keinginan sang nenek.


"Ma-mataku. Mengapa aku tak bisa melihat. Apa yang terjadi kepada ku. Hiks ... hiks ... hiks" ucap Aditya histeris.

__ADS_1


Mama Indah langsung memanggil Perawat yang bertugas dan juga dokter. Mama Indah merasa tak tega melihat kondisi anaknya. Hingga akhirnya Aditya terpaksa di suntikan obat penenang. Mama Indah dan Elang keluar kembali, menyerahkan Elang kepada Felisa. Setelah itu Mama Indah langsung memeluk tubuh suaminya, meluapkan kesedihannya. Air matanya tak mampu lagi terbendung.


"Sabar Ma, Sabar! Semoga Adit mampu melewatinya!" ucap Papa Rizal.


__ADS_2