
"Sebentar Abah panggil Nabila dulu ya," ucap Abah Hamid dan Kenzi menganggukkan kepalanya.
Abah Hamid langsung berjalan masuk ke dalam untuk mencari keberadaan sang anak. Dia akan menanyakan terlebih dahulu kepada sang anak. Jika Nabila setuju, proses ta'aruf akan dilanjutkan.
Tok! Tok! Tok!
"Nak, ini Abah. Apa Abah boleh masuk? Ada hal penting yang ingin Abah bicarakan dengan kamu," ujar Abah Hamid.
Nabila membuka pintu kamarnya dan mempersilahkan sang Abah untuk masuk. Kini Abah Hamid sudah duduk bersebelahan dengan sang anak di tepi ranjang.
"Jadi begini, di luar sana sedang ada santri Abah yang suka mengaji setiap Minggu. Dia sempat bertemu kamu tadi, saat kamu mengantarkan minuman. Kenzi namanya. Dia berniat untuk melakukan ta'aruf dengan kamu. Apa kamu bersedia? Abah serahkan semuanya kepada kamu, Abah tidak memaksa," ungkap Abah Hamid.
__ADS_1
Abang Hamid tak ingin memaksakan kehendaknya. Meskipun dirinya sangat dekat dengan Kenzi, tak menjadikan alasan dia untuk memaksa Nabila dengan Kenzi. Terlebih Nabila memiliki masa lalu yang kelam dan berusaha untuk bangkit melanjutkan hidup.
"Boleh, Bah. Nabila akan coba," ucap Nabila lembut.
"Alhamdulillah. Abah senang mendengarnya. Semoga kamu kelak bisa mendapatkan kebahagiaan. Abah yakin, Allah sangat menyayangi kamu. Coba jika kamu tahu setelah menikah, pasti rasanya akan lebih sakit," ucap Abah Hamid sambil mengelus rambut sang anak.
"Abah tak perlu khawatir. Nabila baik-baik saja. Nabila sudah menutup rapat, masa lalu yang kelam," ucap Nabila sambil tersenyum.
"Jadi begini Nak Kenzi, Abah sudah membicarakan sama Nabila dan dia bersedia untuk melakukan ta'aruf dengan Nak Kenzi. Namun, sebelumnya Abah ingin meminta tolong sama Nak Kenzi, jika Nak Kenzi sudah merasa cocok, maka segerakan 'lah menikah. Tak baik menunda sesuatu yang baik," ungkap Abah Hamid dan Kenzi menyetujuinya. Sedangkan Nabila memilih diam dan hanya menyimak.
Sesampainya di rumah, Kenzi langsung memberitahukan keinginannya untuk menikah dengan Nabila kepada kedua orang tuanya. Saat ini Kenzi hanya tinggal bertiga dengan kedua orang tuanya, karena Felisa sudah tinggal bersama Adrian dan Elang.
__ADS_1
"Syukurlah, Papa ikut bahagia mendengarnya. Akhirnya kamu berniat membuka lembaran kembali. Pesan Papa, jadikan pelajaran berharga masa lalu. Hormati istrimu apapun kekurangannya! Semoga kelak kamu menjadi keluarga sakinah mawadah dan warohmah," ucap Papa Hadi dan di aminkan oleh Kenzi.
Bagaimana dengan Mama Eliza?
"Kamu kenal dimana emang sama dia? Tinggal di mana dia? Asal usulnya jelas tidak? Apa dia berasal dari keluarga terpandang," ujar Mama Eliza menyelidik. Membuat Papa Hadi geleng-geleng kepala melihat sikap istrinya yang tak berubah.
"Astaghfirullah al'azim, Mama. Kok nanyanya macam-macam gitu sih? Memangnya kalau wanita itu hanya dari keluarga sederhana, Mama tidak menyetujuinya," gerutu Papa Hadi.
"Bukan begitu, Mami kan perlu melihat bebet bibit bobotnya juga. Kalau dari keluarga yang tak jelas gimana," sungut Mama Eliza. Dia merasa kesal dengan sikap suaminya yang seperti tak suka dengannya.
Papa Hadi mengingatnya sang istri. Tak baik melihat orang dari statusnya. Karena tidak menjamin, wanita itu baik untuk anaknya. Jangan pernah memandang status sosial, karena yang terpenting yaitu sifat dan sikap wanita itu. Semua status sosial manusia di dunia ini sama, yang membedakan yaitu iman dan ketakwaan manusia kepada Allah.
__ADS_1