
"Aku bahagia banget. Terima kasih ya Allah atas semua yang engkau berikan padaku. Setelah perjuangan yang begitu menyakitkan yang aku rasakan. Tak lepas aku mengucap kata syukur kepadamu." ucap Felisa di dalam doanya.
Bagaimana mana tidak? Bukan hanya dirinya sudah resmi menjadi janda dari Aditya dan memenangkan hak asuh Elang, Felisa juga di belikan rumah untuk dirinya tempati bersama keluarganya. Dia juga akan di buatkan sebuah salon berikut butik khusus muslimah. Sebagai bentuk rasa syukurnya, Felisa sudah berniat untuk hijrah menggunakan hijab.
Baginya menjadi seorang janda yang terhormat sangatlah tak mudah, pasti akan banyak mendapatkan cobaan. Tujuannya untuk melindungi dirinya dari syahwat para lelaki usil dan bisa menjadi ibu yang baik untuk Elang. Felisa belum berniat untuk menikah kembali dalam waktu dekat ini.
"Sayang, sebentar lagi kamu tak akan hidup menderita lagi! Mama akan berjuang untuk membesarkan kamu, karena kamu yang buat Mama selalu kuat dalam menatap dunia."
Jika pernikahan Farrah dan Aditya sedang di terpa badai, Felisa justru sedang menikmati perannya sebagai seorang ibu. Tingkah Elang semakin menggemaskan, membuat Felisa tak pernah terlepas menampilkan senyuman. Bukan hanya Felisa, Kenzi pun sangat menyayangi keponakannya itu. Dia ingin sekali memiliki anak, tetapi untuk saat ini keinginannya masih belum bisa terwujud. Karena sampai saat ini dirinya belum mendapatkan pendamping lagi.
"Ayo sayang kita berangkat, kamu juga ayo ikut Za. Biar bantu Felisa memilihkan rumah buat kalian!" ajak Mama Indah.
" Terima kasih banyak, Ndah! Kamu memang mertua luar biasa, meskipun anakmu sudah tak bersama anakku . Kamu masih sangat baik kepada kami."
" Sudah! Tidak perlu berkata seperti ini! Kami membelikan rumah karena demi kenyamanan cucu aku, aku tak ingin cucu ku terlantar dan hidup kekurangan. Lagi pula wajar 'lah, Felisa kan sudah memberikan kebahagian untuk kami dengan kehadiran Elang ke dunia.
Kini mereka sedang dalam perjalanan mencari-cari perumahan yang tidak terlalu besar tapi nyaman untuk di tempati. Rumah yang Felisa inginkan senilai 700 juta, sebuah rumah minimalis yang memiliki dua lantai dan memiliki halaman yang bisa di gunakan untuk usaha.
"Maaf ma, nominalnya cukup besar pilihan aku. Aku janji akan aku cicil, kalau aku sudah memiliki penghasilan." ujar Felisa.
__ADS_1
Namun, Mama Indah menolaknya. Nominal segitu baginya tidaklah besar. Orang tua Aditya termasuk orang kaya, sebenarnya dulu Aditya di suruh mengurus perusahaan milik papa nya tetapi Aditya memaksa ingin mandiri untuk bekerja di perusahaan lain.
"Makasih ya ma atas kasih sayang yang mama berikan kepada Feli, Feli bahagia banget bisa memiliki mertua yang luar biasa seperti Mama." ucap Felisa sambil memeluk tubuh mertuanya. Bahkan Feli sampai meneteskan air mata penuh haru.
Berbeda halnya dengan Felisa yang sibuk mencari rumah dan tempat untuk usaha yang nantinya akan di sulap menjadi sebuah salon dan bukti khusus muslimah, Kenzi justru sedang mengobrol dengan Nisa di ruangannya.
"Mama yakin pasti nanti Aditya akan menyesal karena telah membuang kamu. Wanita yang begitu berharga dan bahkan sudah jelas-jelas memberikan keturunan untuk dia. Tak seperti si sundel bolong itu." ujar Mama Indah. Felisa hanya membalas dengan senyuman.
"Aku rasa hukuman untuk kamu sudah cukup, aku akan mengembalikan kamu ke posisi seperti dulu menjadi manager marketing. Aku harap kamu bisa bekerja lebih baik lagi untuk perusahaan ini. Kamu bisa bersikap amanah menjalankan tugas dari perusahaan ini. Maaf jika diriku pernah memberi pelajaran berharga untuk kamu."
"Aku tak masalah kok, aku menjalankan pekerjaan ini dengan ikhlas. Justru aku bersyukur karena kamu masih memberikan kesempatan kepadaku untuk menafkahi keluargaku. Aku ingin mengucapkan terima kasih atas pelajaran yang sangat berharga untuk kami, kami bisa lebih menghargai arti sebuah kehidupan. Menyadarkan kami bahwa di atas langit masih ada langit lain yang lebih tinggi.
"Tetapi aku tidak tega melihat kamu membersihkan toilet, mengepel, menyapu, membuatkan minuman, dan juga membersihkan debu-debu setiap ruangan di lantai ini." ungkap Nisa.
"Maaf aku tak pernah bisa menyayangi kamu, meskipun aku sudah ingin berkawan dengan kamu dan Kak Felisa. Ucapan kamu dulu menggoreskan hatiku, hingga aku berjanji pada diri aku sendiri untuk tidak mencintai kamu sampai kapan pun. Please jangan pernah salah artikan kedekatan kita!"
Jleb!
Kata-kata Nisa begitu menusuk ke relung hati Kenzi paling dalam, lagi-lagi Nisa menolaknya kembali karena perbuatannya dulu kepadanya.
__ADS_1
"Semua sudah ya! Kalau ada yang di perlukan lagi, kamu kabarin saja ke Mama! Mama dan Papa besok kembali lagi ke Bandung. Kalau Papa sempat, Mama nanti main ke sini lagi. Jaga Elang dengan baik ya! Karena hanya Elang yang bisa menggantikan posisi anak Mama satu-satunya. Mama sedih Adit lebih memilih sundel bolong itu di banding Mama." ujar Mama Indah yang kini sudah meneteskan air matanya, teringat akan sang anak.
"Sabar Ma, Felisa doakan semoga Mas Adit bisa sadar. Felisa yakin sebenarnya Mas Adit juga berat harus jauh sama Mama."
❤️❤️❤️
"Kenapa sih Kakak sekarang berubah sama Aku? Alasan apa yang akan Kakak jelaskan kepadaku? Kita menikah resmi kapan kak?" ucap Farrah mengiba.
"Kita menikah secara resmi, kalau kamu sudah memberikan aku keturunan!" sahut Aditya ketus.
Glek!
Farrah menelan salivanya kala mendengar ucapan Aditya. Dia tak menyangka Aditya berkata seperti itu. Pesimis dirinya untuk mengharap hal itu terjadi di hidupnya. Karena sampai saat ini dirinya tak kunjung hamil, dan hubungan mereka sudah tidak harmonis lagi.
"Tidak bisa gitu donk Kak? Di perjanjian awal Kakak tidak ada pembicaraan seperti itu," protes Farrah.
"Lantas untuk apa aku menikahi kamu secara resmi, kalau nyatanya kamu mandul, tak bisa memberikan keturunan untuk aku?" serang Aditya balik. Membuat Farrah tak mampu lagi berkata-kata.
"Aku juga menyesal menikahi kamu dan meninggalkan Felisa kalau nyatanya kamu mandul, tak bisa memberikan keturunan untuk aku," cerocos Aditya lagi.
__ADS_1
"Kakak jahat! Aku benci Kakak! Hiks ... hiks ...hiks ..." ucap Farrah dengan di iringi isak tangis. Farrah memukul-mukul dada bidang Aditya, meluapkan rasa kesal dan kecewanya.
Bukannya menenangkan, Aditya justru meninggalkan Farrah begitu saja, tidak peduli dengan apa yang di rasa Farrah saat itu.