Istri Yang Tak Di Hargai ( Berubah Cantik )

Istri Yang Tak Di Hargai ( Berubah Cantik )
Ungkapan perasaan


__ADS_3

Tia terlihat tampak ceria dan bersemangat memasuki rumah sakit jiwa tempat di mana Dokter Al bekerja, tempat pertama kali mereka bertemu. Dia harus izin terlebih dahulu untuk bisa memasuki area dalam rumah sakit di mana terdapat pasien-pasien yang mungkin saja bisa melukai dirinya.


"Baiklah, anda tunggu dulu di sini ya! Saya akan memanggil Dokter Al dulu," ucap sang resepsionis. Dokter Al di panggil melalui pengeras suara, mengatakan kalau dirinya di cari seseorang di ruang tunggu. Tia berniat memberi surprise dia tak menyebutkan namanya. Sedang Al di dalam sana sedang bertanya-tanya siapakah orang yang mencari keberadaannya. Karena seingat dia, dia tak berjanji dengan siapa pun hari ini.


Alangkah terkejutnya Dokter Al saat melihat wajah cantik yang dia rindukan hadir di hadapannya. Tia tampak cantik dengan balutan pakaian muslimah, dia terlihat anggun tentu saja melihat dirinya terpanah.


"Ada apa kamu ke sini Ti? Ada yang mengusik perasaan kamu? Ayo kita mengobrol di kantin saja sambil minum!" ucap Dokter Al yang mengajak Tia keluar dari ruang tunggu. Tia mengekor di belakang dokter Al, mengikuti kemana dia pergi.


"Oh ya kamu mau minum apa? Sudah makan belum?" tanya Dokter Al.


Dokter Al memesan dua gelas es jeruk untuk mereka berdua. Kini mereka sedang duduk berdua sambil menunggu minuman datang.


"Kamu kenapa? Kamu baik-baik saja kan?" tanya Dokter Al khawatir, dia takut jika Tia kambuh kembali. Namun, bukannya menjawab Tia justru menghampiri Dokter Al dan duduk di sebelahnya. Tia menatap lekat wajah Dokter Al membuat jantung keduanya berpacu sangat cepat, netra mereka saling bertemu.


"Aku kangen sama Dokter," ucap Tia to the point membuat wajah Dokter Al memerah tetapi dia tak terburu-buru senang, dia mencoba menahan perasaannya.


"Owh. Sekarang rasa kangen sudah terwujud kan?" ucap Dokter Al datar membuat Tia merasa kesal mendapatkan respon seperti itu.

__ADS_1


"Kok cuma jawab Owh? Jadi Dokter tidak ada perasaan apa kek gitu sama aku?" protes Tia. Tia mengancam akan pergi kalau kehadiran dirinya tak ada artinya. Hal itu membuat Dokter Al salah tingkah dan ketakutan.


"Gimana ya, Ti? Kalau perasaan senang pasti ada donk di datangi kamu. Saya senang kamu terlihat segar dan sehat," ucap Dokter Al berpura-pura tak paham dengan maksud ucapan Tia.


"Ya udah aku pamit. Percuma aku mengungkapkan perasaan aku, kalau ternyata bertepuk sebelah tangan." ucap Tia sambil melangkahkan kakinya.


Dokter Al langsung menarik tangan Tia dan membawa Tia ke tempat yang agak sepi biar dirinya bebas berbicara mesra. Dokter Al mendorong tubuh Tia hingga membentur tembok. Netra mereka saling bertemu.


"Maaf kalau kamu kecewa, tapi mungkin itu lebih baik dari pada kamu lebih kecewa nantinya. Aku bukan laki-laki sempurna untuk kamu, aku tak bisa memberikan keturunan," ucap Dokter terdengar lirih, dia menjadi frustasi kembali kala mengingat kejadian dua tahun silam saat Amora tunangannya meninggalkan dirinya. Wajah Dokter Al terlihat sendu, Tia dapat merasakan hal itu. Padahal nasibnya sama dengan laki-laki di hadapannya. Dia tak bisa memiliki anak dan suaminya justru meninggalkan dirinya dalam keadaan terpuruk.


"Kamu pikir aku wanita sempurna? Aku juga tak bisa memberikan keturunan meskipun berkali-kali kamu melakukannya denganku. Pernikahan bukan hanya unsur sek*s semata, tetapi sebuah kenyamanan dan itu aku rasakan di kamu." ujar Tia membuat mata Dokter Al membulat sempurna dengan ucapan Tia.


Tia mengatakan kalau dirinya dan Dokter Al adalah pasangan untuk saling memberi rasa nyaman, saling mengerti. Mereka di takdirkan untuk bersama. Mereka sama-sama memiliki kekurangan yang orang lain belum tentu mau menerimanya. Tia siap menerima konsekuensinya, dia akan berusaha untuk menyembuhkan suaminya. Entah melakukan terapi sendiri atau terapi di luar.


Dokter Al tertegun mendengar ucapan Tia, dia merasa bersyukur bisa bertemu dengan Tia yang mau menerima kondisinya saat ini. Akhirnya mereka berdua sepakat akan menikah, menjalani hubungan serius, membicarakan kepada kedua orang tua mereka tentang rencananya.


❤️❤️❤️

__ADS_1


Hubungan Dokter Al dan Tia terlihat sangat mesra, layaknya seorang abege yang sedang jatuh cinta. Tia tak peduli jika suaminya tak bisa membuatnya melayang, yang terpenting baginya dia memiliki orang yang seiring jalan dengannya. Yang terpenting baginya, dia bisa bahagia mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari Dokter Al.


Malam ini Al akan membicarakan tentang rencana pernikahan dengan kepada orang tuanya. Setelah Tia resmi bercerai di pengadilan, mereka akan menikah. Sengaja Al menyempatkan waktunya malam ini untuk bertemu kedua orang tuanya. Saat ini Al tinggal di kosan dekat rumah sakit tempat dia bekerja.


"Ma, Pa ada yang Al ingin bicarakan kepada kalian. Al berencana ingin menikah," ucap Al membuka pembicaraan.


"Dengan siapa? Kenapa dadakan sekali?" tanya Mama Meri menyelidik.


Al menceritakan tentang awal pertemuannya dengan Tia. Tia adalah pasiennya di rumah sakit jiwa. Mereka menyadari kalau hubungan mereka bukan hanya sekedar pasien dan Dokter dan mereka berencana menikah.


"Tidak! Mama ga setuju! Mama ga mau punya menantu mantan pasien rumah sakit jiwa. Semua ini karena kamu, Mama sudah melarang kamu untuk tidak bekerja menjadi dokter orang-orang gila, tetapi kamu ga pernah mendengarnya. Jadi begini deh punya istri yang tak waras." ucap Mama Meri membuat Al merasa kesal, wanita yang dia cinta di hina.


"Ma, Tia sudah sehat. Dia sudah tidak gila. Al berhasil membuat dia melupakan masa lalunya, dan kami akan melangkah bersama. Memangnya Mama lupa kekurangan Al yang tak bisa memiliki anak. Tak akan ada wanita yang mau menerima Al apa adanya. Tia sudah mengetahuinya, dan dia siap menerima Al apa adanya." bela Al.


"Iya semua itu karena dia memiliki kekurangan juga. Mama yakin kok kamu bisa sembuh, kamunya saja yang malas untuk berobat," sahut Mama Meri tak mau kalah.


Al menghela napasnya panjang, memang paling sulit kalau sudah berbicara dengan Mamanya. Keputusan Al untuk menikahi Tia sudah bulat. Apapun yang terjadi Al akan tetap menikahi Tia.

__ADS_1


"Terserah Mama mau merestui atau tidak, pokoknya Al tetap akan menikahi Tia. Al cinta sama dia, hanya Tia yang mau menerima Al apa adanya. Semoga penyakit Al bisa sembuh Ma," protes Al.


Mama Meri menghela napas panjangnya, sepertinya dia harus menuruti kemauan anaknya. Merestui pernikahan mereka.


__ADS_2