Istri Yang Tak Di Hargai ( Berubah Cantik )

Istri Yang Tak Di Hargai ( Berubah Cantik )
Karma masih berlanjut


__ADS_3

"Ya sudah, aku saja yang menemuinya lagi. Lumayan bisa ngobrol," goda Nisa. Sengaja memanasi suaminya.


Mendengar ucapan istrinya seperti itu, Fatih langsung seperti kebakaran jenggot. Dirinya langsung bangkit dan mengatakan kalau dirinya yanga akan menemui Kenzi. Kini Fatih sudah berhadapan dengan Kenzi.


"Maaf Pak, kalau kedatangan saya mengganggu liburan bapak. Soalnya ini urgent pak," ujar Kenzi yang memohon maaf.


"Ya sudah tak apa. Tapi lain kali tolong hubungi saya terlebih dahulu kalau mau ke rumah. Untungnya saya masih di rumah kalau saya pergi kan kasihan kamu sudah jauh-jauh tapi tidak bertemu saya." sahut Fatih dan Kenzi menganggukkan kepalanya. Fatih berusaha bersikap profesional berwibawa, dia tidak menunjukkan kalau dirinya sempat merasa cemburu dengan kehadiran Kenzi yang mengganggu kesenangan dirinya.


Nisa dan Fatih sudah bersiap-siap untuk menengok Tia di rumah sakit. Tak lupa mereka mampir di sebuah restoran siap saji untuk membelikan makanan untuk Aditya, Tia, dan juga kedua orangtuanya. Nisa juga membeli satu buah parcel buah. Fatih dan Nisa terlihat mesra, Fatih sangat mencintai Nisa terlebih saat ini Nisa tengah mengandung anaknya.


Bagaimana dengan Tia? Tia lebih banyak diam dan tatapannya terlihat kosong dan sesekali dirinya mengamuk memaki Aditya. Meluapkan kekecewaannya. Pihak dokter sebenarnya menyarankan agar pihak keluarga membawa Tia ke psikiater. Besok Tia sudah di perbolehkan pulang, dan akan langsung di bawa ke rumah orang tuanya. Fahri dan Almira merasa tak tega kalau Tia tinggal bersama Aditya. Lagi pula Aditya juga menyarankan agar Tia tinggal bersama keluarganya, agar lebih terurus. Mereka tak memiliki pembantu di apartemen.


"Assalamualaikum. Bunda, Ayah," ucap Nisa dan langsung menghampiri kedua orang tuanya. Mencium tangan dan memeluk sang Bunda dan Ayahnya secara bergantian.

__ADS_1


Mendengar suara Nisa dan Fatih yang mengucap salam, membuat Tia kini menatap keduanya. Tanda di duga Tia langsung menarik tangan Nisa dengan kasar, melepaskan dari tangan Fatih.


"Puas kamu? Puas kamu menghancurkan hidupku? Semua ini gara-gara kamu! Jika saja kau tak hadir kembali, aku tak akan menderita seperti ini. Kau telah merebut Fatih dari ku. Merebut suamiku. Dasar wanita murahan. Fatih akan selalu menjadi milikku. Hiks ... hiks ... hiks," ujar Tia di akhir isak tangis. Nisa sempat merasa ketakutan, karena Tia seperti orang yang kesetanan, sangat membenci Nisa.


Aditya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat sikap wanita yang masih menjadi istrinya. Bisa-bisanya mengatakan Fatih suaminya, jelas-jelas dirinya 'lah suaminya. Aditya memilih keluar dari ruangan, otaknya terasa mumet memikirkan istrinya yang saat ini mengalami gangguan mental. Besok dirinya baru bisa terbebas dari hal ini, karena setelah pulang dari rumah sakit Tia akan langsung di boyong ke rumah orang tuanya


"Sabar Ti! Ikhlaskan semua yang membebani hidup kamu. Biar kamu bisa hidup dengan tenang. Fatih sekarang sudah menjadi suami Nisa dan bahkan saat ini Nisa sedang mengandung anak Fatih. Mereka sudah hidup bahagia. Lagi pula kamu kan sudah menikah dengan Aditya, bukankah kamu sudah bahagia dengannya? Nisa tidak pernah merebut Fatih, karena kamu bercerai sebelum Nisa hadir. Jangan salahkan Nisa, semua itu sudah menjadi kuasa Allah. Fatih sudah menjadi jodoh Nisa," ucap Bunda Almira mencoba memberi pengertian kepada Tia.


Almira tak putus-putusnya memberi pengertian kepada sang anak. Mengingat kalau ucapan Tia menyakiti hati sang suami, yaitu Aditya. Tia masih menutup rapi apa yang dia alami saat ini, dia merasa menderita karena sang suami kerap tak mempedulikan perasaannya.


"Bisa ikutan gila juga gw lama-lama kalau hidup sama orang gila. Bikin gw tambah stres. Heran punya bini ga ada yang bener, yang satu penyakitan yang satu lagi kaya orang gila ga bisa punya anak. Cuma Felisa yang semakin bersinar. Adit ... Adit, emang bodoh banget. Udah punya istri cantik, ngejar dia nya juga susah payah malah di buang begitu saja. Sekarang nyesel kan loh, hidup lo ga karuan begini. Mama dan Papa marah, Felisa sudah membenci gw, semoga Elang ga membenci gw. Gw harus segera menemui Elang. Tapi Elang masih kecil, mana mengerti. Ah pusing mikirin beginian," Aditya bermonolog sendiri.


❤️❤️❤️

__ADS_1


Bagaimana keadaan Farrah saat ini? Dia sudah keluar dari rumah sakit dan hidupnya kini luntang lantung di jalan untuk mendapatkan belas kasihan dari orang-orang yang memberi makan. Dia berjalan menyusuri mesjid ke mesjid untuk menumpang mandi dan sholat.


Pelajaran berharga ini membuat dirinya insyaf berharap Allah mengampuni dosa-dosanya sebelum dirinya pergi menghadap sang ilahi. Dirinya merasa malu kalau harus mengunjungi rumah-rumah saudaranya. Farrah memilih untuk bekerja sampingan membantu mencuci piring di rumah makan demi bertahan hidup.


❤️❤️❤️


Hari ini Tia sudah di perbolehkan pulang, Aditya berpisah dengan Tia di rumah sakit karena Aditya tak mengantarkan Tia sampai rumah orang tuanya.


"Sementara waktu kamu tinggal sama Ayah dan Bunda ya sampai kamu benar-benar sehat. Semoga kamu segera pulih dan menjalani kehidupan normal kembali!" ucap Aditya, tetapi Tia memilih memalingkan mukanya tak ingin menatap wajah Aditya.


"Aku yakin kamu di lubuk hati kamu yang paling dalam, pasti kamu sedang bersorak gembira dalam hati karena berhasil menghancurkan aku. Membuang aku sesuka kamu. Setelah ini kamu akan menjalin hubungan dengan wanita lain. Jijik aku sama kamu! Semoga kamu segera menerima karma atas perbuatan yang kamu lakukan kepada aku. Aku berharap kamu mendapatkan penyakit kelamin yang mematikan atau mungkin mengalami kecelakaan yang membuat kamu patah tulang dan lumpuh. Bukan itu saja, kamu juga tak bisa lagi melampiaskan hasrat kamu kepada wanita mana pun agar kau tersiksa menerimanya," ucap Tia penuh dengan kebencian.


Ucapan dan perasaan tak seiring jalan. Ucapan bisa berkata ketus, tetapi hati merasa rapuh seakan dunia berhenti berputar tak akan ada lagi hujan yang membasahi bumi, tak ada lagi bintang yang menerangi hatinya, dan tak ada matahari yang menyinari hatinya. Hidupnya terasa gelap tak lagi berwarna. Tia merasa sangat frustasi, harus menerima karma atas perbuatan yang dia lakukan dulu.

__ADS_1


__ADS_2