
Hari ini Tia sudah di perbolehkan untuk pulang, dirinya langsung di boyong ke rumah orang tuanya. Mereka berharap Tia akan sembuh dan hidup normal seperti dulu. Setiap malam Tia sering kali berhalusinasi seperti melihat anak kecil dtg menghampiri dirinya.
"Tidak, jangan pergi sayang! Tetap di sini temani Mama! Mama tak bisa hidup tanpamu!" ucapan yang sering kali Tia ucapkan. Bahkan bukan hanya sekedar ucapan, Tia juga sering kali berusaha mengejar bayangan anak kecil tersebut. Beberapa kali dia mencabut selang infus begitu saja. Setelah itu dia pasti menangis meratapi nasibnya.
"Selamat datang kembali!" ucap Almira yang mengantarkan Tia ke kamarnya dan Tia hanya mengangguk lemah. Tia lebih banyak diam jika jika di ajak bicara. Namun, saat berhalusinasi dia langsung berubah seperti orang yang terkena gangguan mental.
Setelah mengantarkan Tia ke kamarnya, Almira masuk ke kamarnya dan bertemu dengan suaminya yang lebih dulu masuk.
"Mas, aku ga tega melihat Tia seperti itu. Kita harus gimana ya? Masa Tia harus di masukkan ke rumah sakit jiwa?" tanya Almira yang merasa tak tega melihat kondisi anak angkatnya.
"Memang hal seperti itu tak bisa di biarkan, yang ada penyakitnya tambah parah. Kamu jangan lupa kunci kamarnya, jangan pernah dia biarkan keluar kamar. Kondisi psikisnya sedang tidak stabil, bisa membahayakan dirinya dan juga orang sekitar. Makan pun sebaiknya di bawa ke kamarnya saja!" ucap Fahri.
Besok Tia akan di bawa ke seorang psikiater untuk berkonsultasi. Untuk sementara Tia di kurung di kamarnya. Tak di biarkan bebas berkeliaran karena sering kali berhalusinasi.
❤️❤️❤️
"Yang, kasihan ya kak Tia seperti itu. Aku ga tega melihatnya, pasti dia sangat terpukul kehilangan bayinya dan tidak bisa memiliki anak kembali." ucap Nisa.
"Kalau aku sih biasa aja, pantas dia merasakan seperti itu karena semua itu balasan atas yang dia perbuat selama ini. Semoga aku selalu di lindungi di jauhkan dari godaan setan agar aku bisa menjadi suami yang setia dan papa yang baik untuk anak-anak aku. Dosa banget itu suami Tia yangs sekarang, melupakan anak kandungnya sendiri apalagi kamu bilang anaknya cowok, pasti merasa rugi banget nanti kalau anaknya tak mengakui dia," sahut Fatih.
"Kak Tia masih cinta banget sama kamu, kamu masih cinta ga sama Kak Tia?" tanya Nisa menyelidik.
Fatih meminta Nisa untuk tidak membahas masalah perasaan dengan Tia, karena rasa cintanya sudah terkubur. Tia hanya masa lalu baginya yang tak perlu di ingat. Sikap dia sekarang hanya sekedar menghargai pak Fahri. Hatinya sudah terpatri dengan nama Nisa.
__ADS_1
❤️❤️❤️
"Ya Allah ku mohon ampuni aku atas semua kesalahan yang aku perbuat dulu. Aku dulu begitu jahat kepada Kak Felisa. Di saat dirinya sedang hamil, dengan teganya aku merebut suaminya. Sekarang aku merasakan, di saat aku sakit suamiku membuang aku demi wanita lain. Selama ini aku selalu berbuat jahat tak ingin suamiku memberikan uangnya untuk anak kandungnya Elang, dan aku merasakan uang suamiku dulu lebih banyak untuk wanita lain. Malu hatiku ingin bertemu Kak Felisa untuk meminta maaf, tapi aku ingin sebelum maut memanggil ku aku sudah meminta maaf kepadanya." doa Farrah.
Farrah tak mengetahui Felisa saat ini, karena Felisa sudah pindah dari rumah lamanya. Dia berjalan melangkahkan kakinya tanpa arah, tetapi tujuannya hanya satu berharap suatu saat nanti bisa bertemu dengan Felisa. Rasa salah dan berdosa membuat hidupnya terus menerus dalam penyesalan.
❤️❤️❤️
"Buka! Cepat buka! Breng*sek mengapa aku di kurung seperti ini! Aku ingin keluar! Aaahhh ..." Teriak Tia meminta agar pintu kamarnya di buka, hingga akhirnya dia melemparkan barang-barang yang berada di kamar.
Almira tak berani membuka pintu kamar Tia, dia takut kalau Tia akan lari dari rumah dengan mental yang tidak stabil.
"Aku tidak gila! Lepaskan aku!" teriak Tia kembali.
Tingkah Tia benar-benar seperti orang yang tak waras berteriak seperti orang gila. Tia mengalami gangguan mental, karena merasa frustasi dan tak rela kehilangan anaknya.
❤️❤️❤️
Pagi ini Fahri dan Almira sudah bersiap-siap untuk membawa Tia ke psikiater. Almira sudah mendadani Tia sangat cantik, Tia tampak diam tak bergeming. Tia terlihat lebih tenang tak memberontak. Almira mendadani Tia seakan Tia seperti anak kecil.
Kini mereka baru saja sampai di psikiater yang di tunjuk Fahri untuk mengobati anaknya. Tia langsung mendapatkan penanganan untuk berkonsultasi atas apa yang dia rasakan. Belum menceritakan, Tia sudah menangis tersedu-sedu.
"Tak ada satu orang pun yang aku perbolehkan untuk merebut kamu dari hidupku! Kamu milikku!" Teriak Tia. Tia masih merasa tak terima dengan kenyataan yang dia alami."
__ADS_1
Sang psikiater mengajak Fahri untuk berbincang, dirinya mengatakan kalau Tia harus di rawat di rumah sakit jiwa karena harus mendapatkan perawatan intensif untuk kesembuhan Tia.
"Hiks ... Hiks ... kasihan Tia mas kalau sampai di rawat di rumah sakit jiwa. Dia pasti merasa sangat menderita banget. Bisa-bisa suaminya menceraikan dia karna merasa malu," ucap Almira.
"Semua ini demi kebaikan Tia sayang, biar Tia segera sembuh. Biar saja suaminya
menceraikan dia, justru bagus. Laki-laki itu tak baik untuknya, biar Tia menjalankan kehidupan baru. Semoga dia bisa mendapatkan suami yang bisa menerima dia apa adanya." sahut Fahri dan Almira hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Meskipun dirinya merasa berat, mau tak mau dirinya menyetujui keinginan suaminya demi kebaikan anak angkatnya.
❤️❤️❤️
"Lepasin! Aku tak gila! Aku ingin pulang! Hiks ... hiks ...," teriak Tia di akhiri isak tangis.
"Mengapa hidupku menderita seperti ini. Aku ga gila. Kasihan anak ku harus hidup di tempat seperti ini. Semua ini karna wanita sia*lan itu. Kalau saja dia tak hadir di tengah-tengah kehidupan aku, aku tak akan menderita seperti ini. Aku benci kamu, Nisa!" umpat Tia.
Tia di liputi rasa dendam kepada Nisa, dia merasa semua ini karena Nisa. Air matanya menetes satu persatu, napasnya terasa sesak, dan hatinya terasa sakit. Dirinya harus merasakan hidup di rumah sakit jiwa.
"Mengapa takdir tak bersikap adil kepadaku? Aku lelah hidup menderita seperti ini. Hiks ... hiks ...," Tia meratapi nasibnya yang penuh derita.
Tia termenung, tatapannya terlihat kosong, pikirannya melayang entah kemana. Satu persatu potongan puzzel kehidupannya hadir menari di pikirannya.
Sambil menunggu up, mampir yuk di karya yang seru.
__ADS_1