
Saat ini Farrah bisa tersenyum puas karena merasa menang. Aditya lebih memilih dirinya di bandingkan orang tua dan anaknya.
"Selamat datang kehancuran untuk kamu Felisa. Suami mu dulu lebih memilih aku. Cintanya padaku begitu besar." ucap Farrah menyeringai licik.
"Sayang, aku ingin jalan-jalan dulu di Bandung. Bagaimana kalau malam ini kita menginap di Bandung?" rayu Farrah yang saat ini menyenderkan kepalanya di pundak sang suami saat dalam perjalanan pulang.
"Baiklah kalau itu yang kamu inginkan. Kita menginap dulu saja malam ini di hotel, besok baru kita jalan-jalan." sahut Aditya, dan langsung mendapatkan kecupan mesra dari Farrah di pipi kirinya.
Sebelum ke hotel, Farrah mengajak Aditya untuk menikmati kuliner di Bandung. Sudah cukup lama dia tak mengunjungi Bandung, terakhir ke sana saat baru menikah dengan Kenzi. Pilihan mereka jatuh pada mie kocok khas Bandung, setelah itu mereka membeli batagor yang sangat terkenal di sana.
Setelah merasa perutnya sudah merasa kenyang, mereka langsung menuju ke hotel tempat dia menginap malam ini yang sudah Aditya pesen melalui aplikasi online.
❤️❤️❤️
"Mama tidak habis pikir kenapa Aditya bodoh banget ya? Rela membela wanita murahan itu dari pada orang tuanya. Mama benar-benar tidak menyangka. Padahal dulu dia mengejar-ngejar Felisa, kok bisa ya cinta hilang begitu saja," ujar Mama Indah kepada suaminya.
"Sabar! Papa yakin suatu saat nanti Adit akan menyesal dan akan kembali sama kita lagi. Kita tunggu saja tanggal mainnya!" ucap sang suami menenangkan sang istri, dia takut jika penyakit istrinya kambuh karena stres.
Jika hal itu terjadi, Mama Indah berniat akan memberi pelajaran dulu kepada sang anak. Dia tidak akan menerima sang anak begitu saja. Mama Indah berniat menghubungi Felisa dan juga datang ke Jakarta untuk menemui cucunya.
"Mama ingin ketemu Felisa sama cucu kita pa. Gimana kalau kita besok berangkat ke Jakarta ketemu mereka? Mama bingung deh sama Felisa dan keluarga, mengapa tak satu orang pun yang menghubungi kita untuk memberi tahu kelakuan si Adit. Kalau Mama tau dari kemarin-kemarin, Adit sudah Mama marahin dan tidak akan sampai kejadian begini." ungkap Mama Indah dan di iyakan oleh sang suami.
Farrah dan Aditya sedang menikmati dinginnya kota Bandung. Saling berpelukan di dalam selimut. Menikmati kebersamaan mereka. Memang mereka adalah pasangan yang serasi. Laki-laki Pengkhianat untuk seorang pengkhianat. Bahagia di atas penderitaan banyak orang.
"Aku sayang banget sama kamu, semoga kita bisa seperti ini terus sampai salah satu di antara kita pergi meninggalkan dunia." ucap Farrah yang sejak tadi tak ingin melepas pelukannya kepada sang suami.
"Aku juga sayang sama kamu," ungkap Aditya sambil mengecup kening sang istri. Membawa Farrah terbang ke langit tertinggi.
Rintikan air hujan menambah suasana kamar hotel di Bandung bertambah dingin, membuat Aditya tak henti-hentinya menikmati tubuh istrinya. Hingga membuat Farrah merasa nyeri di perutnya. Mereka baru selesai melakukan ritual saat jam sudah menunjukkan pukul 03.00 dini hari. Kini Aditya sudah tertidur pulas. Sedangkan Farrah terpaksa terjaga karena merasakan sakit yang luar biasa.
"Kenapa perut aku sakit banget? Sakit ini melebihi saat aku sedang haid. Semoga rasa sakit ini hanya sekedar rasa sakit biasa karena Kak Adit bermain sangat brutal malam ini." gumam Farrah.
"Tidak ... tidak ...tidak! Aku yakin ini bukan sesuatu yang serius." Farrah mencoba membuang perasaannya tentang rasa ketakutan yang sempat terlintas di pikirannya.
Farrah mencoba menahan rasa sakitnya, dia tak ingin membangunkan suaminya. Dia mencoba memejamkan matanya untuk menyusul sang suami ke alam mimpi. Lambat laun matanya meredup dan akhirnya tertidur pulas.
Matahari bersinar terang, Aditya sudah terbangun lebih dulu. Sedangkan Farrah masih memejamkan matanya.
"Sayang, bangun! Katanya kamu ingin jalan-jalan? Ini sudah siang banget, kita harus bersiap-siap!" ucap Aditya membangunkan istrinya.
__ADS_1
Perlahan Farrah membuka matanya, matanya terlihat masih berat karena pukul 03.30 dia baru tidur. Ternyata rasa sakit masih Farrah rasakan dan bahkan dirinya tak mampu untuk bangkit dari ranjang.
"Kamu kenapa? Sakit?" tanya Aditya saat melihat Farrah yang berusaha bangkit dan meringis kesakitan.
"Ga apa-apa. Mungkin masuk angin atau mau haid saja," sahut Farrah dan Aditya hanya ber O ria.
"Tapi kamu kuat ga? Apa mau periksa?" tanya Aditya menunjukkan rasa pedulinya. Farrah menolaknya, dia tak ingin ke rumah sakit.
❤️❤️❤️
Pagi ini Mama Indah dan sang suami sudah bersiap-siap untuk ke Jakarta. Mama Indah sengaja tak memberi kabar terlebih dahulu kepada Felisa, karena dia ingin memberi surprise. Padahal nantinya dia 'lah yang akan mendapat surprise, bahwa keluarga Hadi Wijaya mengalami kebangkrutan dan sudah tidak tinggal di rumah yang lama.
Setelah menempuh perjalanan selama 2,5 jam, akhirnya Mama Indah dan sang suami sudah sampai di depan rumah Felisa yang dulu. Mendengar suara klakson mobil, scurity yang berjaga langsung keluar dari rumah. Setelah membeli rumah Pak Hadi, Fahri langsung mempekerjakan satu orang ART dan satu orang Security untuk berjaga karena dia tak setuju jika Nisa tinggal di sana sendiri.
"Maaf, Tuan dan Nyonya mau bertemu dengan siapa? Ada perlu apa?" tanya Susilo Security yang bertugas di sana.
"Kami ingin bertemu dengan Felisa, katakan mertuanya datang!" ucap Papa Rizal.
"Maaf Tuan, di sini tidak ada yang bernama Felisa. Lagi pula rumah ini hanya di tempati kami berdua. Tuan Fahri, Nyonya Almira, dan Nona Nisa tidak tinggal di sini."
Papa Rizal dan Mama Indah di buat melongo dengan penuturan Security yang bertugas menjaga rumah itu, yang mengatakan kalau pemilik rumah itu adalah Tuan Fahri.
"Kemana mereka ya Pa membawa cucu kita? Adit benar-benar membuat kita susah, malah membela cewek murahan itu." ujar Mama Indah lesu.
"Mama?" gumam Felisa saat melihat layar ponselnya yang tertulis nama Ibu mertuanya.
"Siapa Fel? Mengapa tidak kamu angkat teleponnya? Takutnya penting, berdering terus menerus sejak tadi." ujar Mama Eliza yang saat ini sedang duduk di sebelah Feli.
"Mama Indah, Mamanya Mas Adit Ma. Aku takut dia akan mengambil Elang dari aku. Soalnya dia ingin sekali punya cucu. Saat mendengar aku hamil, Mama Indah senang banget." ucap Feli.
Mampir yuk di karya bestie aku, ceritanya bagus 😄😍
...
...
Abimana pun kemudian keluar dari apartemen milik Ghea lalu pergi ke rumah sakit tempat Amanda dirawat. Setengah jam kemudian, dia pun sudah sampai di rumah sakit tersebut lalu bergegas menuju ke kamar perawatan Amanda. Saat Abimana membuka pintu perawatan itu, tampak Vera, mamanya sedang berdiri di samping Amanda sambil menatap wajah pucat wanita itu.
__ADS_1
"Bagaimana keadaannya Ma?"
"Tadi dia membuka matanya dan mengerakkan jari-jarinya menurut dokter itu adalah perkembangan yang bagus, semoga saja dia bisa sadarkan diri secepatnya."
"Iya ma."
"Mama pulang dulu ya, mama harus mengurus anak kalian, Sharen. Kau tolong jaga Amanda di sini."
"Iya ma."
Vera kemudian keluar dari ruang perawatan Amanda, sedangkan Abimana tampak mengamati wajah pucat istrinya yang kini terbaring di atas ranjang rumah sakit.
'Kenapa kau tidak langsung mati saja! Aku sudah lelah berpura-pura bersikap manis padamu selama bertahun-tahun, jika saja perusahaan itu sudah menjadi milikku tentu aku tidak perlu seperti ini. Tapi entah kenapa saat aku akan berhasil merebut perusahaan milikmu selalu saja ada yang melindungimu, dasar wanita sialan! Bagiku kau hanyalah wanita kurus penyakitan yang begitu menjijikan. Bahkan saat menyentuhmu saja aku harus menutup mataku dan membayangkan jika dirimu adalah Ghea,' gumam Abimana sambil menatap Amanda dengan tatapan sinis.
"Ghea, ya Ghea, kenapa aku tidak memanggilnya saja agar dia ke rumah sakit ini? Sangat membosankan jika aku harus menunggu wanita penyakitan ini sendirian di sini."
Dia kemudian mengambil ponselnya lalu menelpon Ghea.
[Halo Ghea, bisakah kau datang ke rumah sakit sekarang?]
[Aku sudah mengantuk, Abi.]
[Baik jika kau tidak mau menuruti kata-kataku, aku tidak akan memberikan uang belanja untukmu besok.]
[Baiklah, aku akan ke rumah sakit sekarang.] jawab Ghea sambil menggerutu.
Abimana pun tersenyum "Ghea, kartumu saja ada di tanganku, kau tidak akan bisa menolak semua permintaanku," kata Abimana, kemudian berjalan menutup CCTV yang ada di ruang perawatan Amanda.
Beberapa saat kemudian, pintu kamar perawatan Amanda pun terbuka. Ghea pun masuk ke dalam kamar perawatan itu sambil menguap di depan Abimana.
"Kau benar-benar mengganggu waktu tidurku," gerutu Ghea sambil mendekat ke arah Abimana yang langsung menarik tubuhnya ke dalam pangkuannya.
"Aku rindu padamu sayang, kita lanjutkan di sini saja," kata Abi sambil menunjuk tempat tidur jaga untuk penunggu pasien.
"Di sini? Di samping istrimu?"
Abimana pun mengangguk.
"Ya, disini," jawab Abi sambil mencium bibir merah Ghea.
__ADS_1
Tanpa mereka sadari, sosok yang tertidur di ranjang kamar perawatan itu sedikit menggerakkan bagian tubuhnya. Air mata pun mulai menetes di wajah pucatnya.
'Astaga, apa ini?' kata wanita itu dalam hati saat mulai mendengar de*ahan dan era*gan yang mulai bersahutan.