
"Minggu ini tak ada pertemuan dulu, karna suamiku akan kembali ke Indonesia. Aku tak ingin dia curiga." ucap Emeli sambil memainkan ponselnya. Dari segi harta kekayaan, Emeli memiliki segalanya sehingga dirinya sering kali tak menghargai Aditya. Aditya hanya sekedar partner sek*s nya.
"Kalau aku rindu denganmu gimana?" ujar Aditya sambil merayu Emeli. Memberikan sengatan di leher Emeli.
"Aku ini serius, tidak bercanda. Aku tak ingin suamiku tau kalau kita memiliki hubungan. Aku tak mau jatuh miskin." sahut Emeli dan Aditya hanya bisa menghela napas panjang, dirinya tak mampu berkata-kata lagi.
Tak adegan ranjang kali ini, pertemuan mereka kali ini hanya membicarakan tentang penundaan pertemuan sementara sampai suami Emeli kembali lagi ke luar negeri. Setelah selesai berbincang, Emeli pergi meninggalkan Aditya begitu saja.
"Baru kali ini seorang Aditya di perlakukan seperti ini," ucap Aditya geram.
Aditya membaringkan tubuhnya yang terasa lelah. Akhir-akhir ini memang dirinya sering kali merasa lemas dan lesu tak bersemangat. Hatinya sering kali merasa gelisah tak tenang. Tiba-tiba saja dia teringat saat pertama kali dirinya menggendong tubuh Elang untuk mengadzani.
"Papa kangen sama kamu, kamu sekarang ada di mana? Aku coba hubungi Felisa saja." gumam Aditya. Aditya mencoba menghubungi Felisa berkali-kali, tetapi Felisa tak mengangkat telepon dari Aditya karena dia memang masak di dapur. Sedangkan ponselnya berada di kamar.
Felisa sudah kembali dari berbulan madu yang sempat tertunda. Mereka berharap agar segera di beri momongan untuk menambah kebahagiaan di pernikahan mereka. Meskipun Elang masih kecil, Felisa tak akan menunda kehamilan.
"Kemana sih? Di telepon ga di angkat-angkat," gerutu Aditya dan akhirnya dia mengirimkan pesan chat untuk menanyakan keberadaan Felisa saat ini karena Aditya ingin bertemu sang anak.
Felisa baru saja selesai memasak, dan ingin membawa masakan tersebut ke kantor suaminya. Dia berencana makan siang bersama di kantor suaminya. Felisa tak membawa serta Elang, dia akan pergi sendiri ke kantor. Felisa langsung mencari keberadaan ponselnya dan melihat-lihat pesan masuk.
"Aditya? Ada apa ya? Tumben menghubungi aku," gumam Felisa. Dia memilih tak meresponnya, karena dia harus segera ke kantor suaminya. Hari sudah siang.
__ADS_1
Melihat chatnya sudah di baca tapi tidak di balas, Aditya langsung menghubungi Felisa. Akhirnya Felisa menerima panggilan telepon dari Aditya karena merasa terganggu Aditya menghubungi dirinya terus.
"Kenapa?" tanya Felisa singkat.
"Elang di mana? Aku ingin ketemu" ucap Aditya to the point.
"Besok ya, hari ini aku ga bisa. Aku harus buru-buru ke kantor suamiku," ucap Felisa apa adanya. Entah mengapa jantung Aditya berdegup kencang saat mendengar penuturan Felisa tentang suami.
"Su-suami? Suami siapa?" tanya Aditya penuh tanya, menari di pemikirannya.
"Suami aku 'lah, masa suami orang," ujar Felisa ketus. Dia langsung memutuskan panggilan telepon dengan Aditya karena harus segera berangkat ke kantor suaminya. Aditya masih tak percaya mendengarnya.
Felisa baru saja sampai di perusahaan Adrian, dia sengaja memberikan kejutan untuk suaminya. Sebelum pergi menengok butiknya, dia menyempatkan untuk makan siang bersama suaminya. Felisa mengetuk pintu ruangan Adrian dan mengucapkan salam, dan sedikit membukanya.
"Owh jadi kamu ga suka aku ke sini? Aku kan sengaja ingin memberi kamu kejutan. Ya udah kalau kamu ga suka, aku pulang aja lagi," sahut Felisa.
Adrian langsung merangkul tubuh istrinya dan membawanya ke dalam pelukannya, kemudian mengecup kening istrinya dengan lembut. Senyum manis terbit di sudut bibirnya.
"Kamu kalau lagi ngambek gitu bikin aku tambah gemes. Kata siapa aku ga senang? Justru aku senang banget, tapi aku takut kalau pas kamu ke sini aku tak ada di kantor. Oh ya Elang mana kok ga di bawa?" cerocos Adrian. Felisa menggelengkan kepalanya dan mengatakan kalau dia tak membawa Elang. Adrian sudah sangat mengerti posisinya yang menikahi seorang janda yang memiliki anak, berbeda halnya dengan Felisa yang sering kali merasa tak enak hati. Dia ingin ada kalanya mereka hanya berdua.
Felisa mulai membuka satu persatu makanan yang dia bawa, menyediakan untuk mereka makan berdua. Dulu saat menikah dengan Adit, Felisa tak bisa memasak semua di urus sama ART. Saat sekarang dia selalu ingin menyenangkan lidah suaminya, Felisa berusaha untuk belajar memasak. Dia berhasil, karena Adrian menyukai masakannya.
__ADS_1
"Kalau setiap hari kamu seperti ini, bisa-bisa perut aku buncit badan aku melar. Masakan kamu membuat aku makan lahap banget. I Love You." ucap Adrian membuat Felisa terbang melayang. Suaminya sering kali mengucap kata cinta kepadanya.
Makan siang bersama telah selesai, kini mereka duduk di sofa untuk berbincang. Membicarakan banyak hal. Felisa juga mengatakan kalau Aditya mantan suaminya sempat menghubungi dirinya dan ingin bertemu dengan Elang, dan mungkin Sabtu ini mereka akan bertemu.
"Kamu itu baik banget ya, setelah dia melupakan kamu dan Elang dengan baiknya kamu mempertemukan Elang dengannya. Aku ga akan pernah membiarkan istriku bertemu sendiri dengan laki-laki breng*sek itu. Aku akan ikut bersama kalian, aku tak akan pernah membiarkan dia merebut kalian dari aku." ujar Adrian.
"Siapa bilang aku mau kembali sama dia, aku hanya tak ingin memisahkan Elang sama bapak kandungnya. Bagaimana pun Elang berhak atas itu. Ya sudah kamu ikut saja sama aku," ucap Felisa dan Adrian menganggukkan kepalanya.
"Aku takut banget kalau sampai kehilangan kalian." ucap Adrian sambil memeluk sang istri.
"Iya aku tahu akan hal itu. Aku tahu kalau cinta kamu kepada kami sangat besar. Makanya aku ga mau mengecewakan kamu. Lagi pula laki-laki seperti itu tak pantas untuk di cintai. Aku tak pernah berpikir untuk kembali kepadanya." ungkap Felisa.
Perlahan Adrian menyambar bibir istrinya dan melu*matnya. Adrian sedikit menggigit bibir bawa Felisa agar membuka mulutnya, menelusuri hingga ke dalam rongga dan lidah mereka saling membelit.
"Sayang aku menginginkannya," ucap Adrian yang nap*sunya sudah di ubun-ubun.
"Nanti saja di rumah, ini kantor! Tidak enak kalau ada yang masuk." ujar Felisa. Tetapi Adrian tak peduli. Adrian langsung menghubungi sekertaris agar tak ada yang mengganggunya. Dia juga mengunci pintu ruangannya.
Adrian mulai membuka ikat pinggang yang dia pakai dan menurunkan celananya, menampilkan pemandangan miliknya yang sudah menegang. Felisa terpaksa menaikkan baju yang dia pakai. Adrian mendorong tubuh istrinya hingga menyentuh meja meminta sang istri dengan posisi membelakangi dirinya dan bertumpu di meja kerjanya. Tetapi sebelumnya Adrian melakukan pemanasan, membuat sang istri terbawa dalam permainan. Akhirnya mereka melakukannya.
Sambil menunggu up mampir yuk di karya temanku, ceritanya seru
__ADS_1