
"Aku bingung padamu, mengapa kamu belum hamil juga padahal setiap hari aku menumpahkan benih ku di rahim mu. Menyesal aku telah menelantarkan Elang." sindir Aditya.
"Semua itu butuh protes Kak, mungkin saja Tuhan masih menyuruh kita untuk pacaran dulu. Menikmati kebersamaan." ucap Farrah menenangkan sang suami yang terlihat sedang marah.
"Pacaran terus, memangnya tidak bosan. Sebelum kita menikah, kita bahkan sudah menikmati waktu pacaran. Apa kau ini sebenarnya mandul?"
Glek!
Farrah menelan saliva nya saat mendengar suaminya mengatakan dirinya mandul. Padahal dia baru saja melepas alat kontrasepsinya. Farrah menjelaskan hal itu.
"Alasan saja! Kalau sampai kau tidak hamil juga, aku akan mencari wanita lain yang bisa memberikan keturunan kepadaku. Agar aku tak di hina mama dan Felisa tak bisa memiliki anak dari kamu. Puas 'lah mereka akan menertawakan aku karena telah memilih kamu! Sudah aku cape berdebat padamu, lebih baik aku pergi!" ujar Aditya yang langsung berganti pakaian dan langsung menyambar kunci mobil dan ponsel. Dia tidak peduli dengan Farrah yang berteriak-teriak.
"Aku harus secepatnya hamil, kalau tidak Kak Aditya pasti meninggalkan aku. Aaahhh...kenapa hidup ku penuh derita begini. Padahal dulu aku selalu menjadi wanita yang beruntung. Semua ini berawal karena hadirnya Aisyah yang merubah cintanya Kenzi kepadaku." ucap Farrah yang saat ini sedang merasa kesal.
Aditya memilih pergi mengunjungi club malam. Inilah tempat yang biasa dia datangi untuk melepas rasa suntuknya dan bertemu wanita-wanita cantik yang dengan rela menemani dirinya tidur. Aditya memiliki wajah yang tampan dan gagah, dia cuma pinter mengambil hati seorang wanita dengan bersikap ramah dan romantis. Dia juga terlihat cool dengan usianya yang tidak muda banget.
Aditya memesan minuman kemudian menenggaknya. Saat dia menikah dengan Felisa, Adit sudah tidak terlalu sering tak seperti sebelum bersama Felisa. Hari ini adalah pertama kalinya dia seperti ini lagi, dia mulai merasa jenuh dengan pernikahannya dengan Farrah.
"Aku benci hidupku!" racau Aditya yang mulai terlihat mabuk. Beban pikiran atas apa yang terjadi pada pernikahannya dengan Felisa.
Di sudut tempat terlihat seorang wanita bersama dua teman wanitanya dan tiga orang laki-laki sedang tertawa terbahak-bahak sambil menikmati minuman yang mereka pesan. Salah satunya Tia. Ternyata hampir setiap malam Tia mengunjungi tempat ini, sehingga dirinya sering pulang larut malam dan bahkan menjelang pagi hanya untuk menghisap rokok dan menenggak minuman.
__ADS_1
"Kasihan ya laki-laki itu sejak tadi berteriak-teriak seperti orang yang tak waras, pasti dia sedang mengalami masalah berat." ucap Seli. Hal itu membuat keempat temannya termasuk Tia matanya mengikuti arah yang di ucapkan temannya itu.
"Laki-laki itu?" ucap Tia pelan, tetapi masih terdengar Monika yang berada di sebelahnya. Matanya membulat sempurna saat melihat laki-laki tampan dan gagah yang sempat dia temui.
"Lo kenal dia?" tanya Monik. Tia menganggukkan kepalanya dan menceritakan tentang kejadian waktu itu.
"Ya sudah sana samperin. Lumayan buat hiburan! Lagi pula ok juga tuh laki-laki," ucap Monik.
Tia langsung menghampiri sang buaya, segera masuk ke dalam perangkapnya. Tia menghampiri Aditya dan menyapanya.
"Hai, boleh aku duduk di sebelah kamu?" ujar Tia ramah.
Aditya yang sudah dalam keadaan mabuk, berusaha keras untuk memperhatikan Tia dari atas ke bawah. Dia sempat tak ingat wanita yang berada di hadapannya.
"Kamu lupa ya? Bukankah kamu mengatakan akan mencari aku keliling dunia kalau aku berusaha kabur dari kamu dan tidak bertanggung jawab dengan mobil kamu yang aku tabrak."
Saat mendengar penuturan Tia, Aditya tertawa terbahak-bahak. Dirinya baru ingat siapa sosok wanita di hadapannya.
"Sepertinya kamu sudah sangat mabuk, sampai kamu sudah tak ingat denganku dan berteriak-teriak tak jelas. Kamu sedang ada masalah besar kah? Mungkin aku bisa kamu jadikan teman bicara." tanya Tia.
"Kalau aku membutuhkan teman tidur gimana? Tubuhku terasa lelah, tetapi aku malas untuk pulang. Apa wanita cantik mau menemani aku tidur malam ini di hotel? Aku akan memuaskan mu!" bisik Aditya dengan suara seraknya.
__ADS_1
Nyes!
Wajah Tia memerah. Sejak tadi menelan saliva nya. Kewarasannya tiba-tiba saja terhipnotis. Tia mengiyakan tawaran Aditya. Tia berpikir toh di pun membutuhkan tempat untuk menyalurkan hasratnya. Setelah bercerai dari Fatih, dia tak lagi merasakan surga dunia.
"Sebentar aku pamit dulu sama teman-teman aku dan menitipkan mobilku sama mereka dulu biar kita pergi naik mobilmu saja! Bagaimana?" ucap Tia dan Adit menganggukkan kepalanya.
Tia meninggalkan Aditya dan menghampiri teman-temannya dan berpamitan untuk pergi bersama Aditya. Mereka benar-benar teman laknat yang mengizinkan begitu saja temannya melakukan one night dengan laki-laki yang tak di kenal sebelumnya. Mereka memang saat itu sudah dalam keadaan mabuk. Bukannya melarang, mereka mendukung tindakan Tia.
Tia memapah Aditya ke dalam mobil. Tia minum, tetapi tidak separah Aditya. Jadi, Tia 'lah yang menyetir mobil. Sedangkan Aditya duduk di kursi penumpang.
"Kita ke hotel mana?"
"Terserah kamu saja! Ini dompetku! Ambillah uangku untuk membayarnya!" ujar Aditya sambil memberikan dompetnya.
Mata Tia membulat saat melihat foto mesra Aditya bersama Farrah. Tia sempat diam, berniat membatalkannya. Entah mengapa hatinya terasa sakit melihat foto tersebut. Melihat sikap aneh Tia, Aditya mengerutkan keningnya dan menanyakan ada masalah apa dengan dompetnya.
"Ternyata kamu telah memiliki wanita lain? Lebih baik kita batalkan saja, aku tak ingin bercinta dengan milik orang lain.
Aditya menyerang bibir Tia dengan tiba-tiba dan melahapnya dengan penuh gairah. Membuat aliran darah Tia berdesir hebat. Baru ciuman saja, Aditya mampu membawa Tia melayang.
"Kita nikmati bersama-sama, aku menginginkanmu baby! Malam ini hanya ada kita berdua, lupakan dia dan aku pun tidak peduli kalau kau sudah di miliki laki-laki lain." bisik Aditya yang saat ini masih mendekap sambil menatap wajah Tia lekat. Jarak mereka sangat dekat, hembusan napas mereka sangat terasa. Dengan bodohnya Tia menyetujuinya.
__ADS_1
Akhirnya Tia melajukan mobil Aditya menuju sebuah hotel yang letaknya tidak jauh dari club malam tersebut. Tia memapah Aditya masuk ke dalam hotel tempat dia check-in. Meskipun dirinya harus setengah mati memapah tubuh Aditya yang tinggi gede. Kini mereka sudah berada di kamar hotel. Saat mereka masuk, Aditya langsung menyerang Tia dengan beringas.
"Tunggu dulu aku tutup pintu kamarnya dulu!" ujar Tia, dan akhirnya Aditya melepaskan dulu.