
Hari yang di nanti oleh Felisa dan Adrian telah tiba. Felisa sudah terlihat cantik dan anggun dengan balutan gaun pengantin Muslimah. Acara akad nikah dan resepsi akan di adakan di hotel bintang lima. Adrian dan Felisa menggelar pesta pernikahan sangat mewah. Hal ini sesuai permintaan kedua orang tua Adrian yang ingin menyelenggarakan pesta pernikahan anak satu-satunya secara mewah bahkan lebih mewah dari Messy sepupunya.
"Gimana Ma, Adri sudah terlihat tampan? Doakan Adri ya Mah, semoga Adri bisa menjadi suami yang baik untuk Felisa dan menjadi papa yang baik untuk anak-anak Adri kelak." ucap Adrian kepada sang Mama saat mereka akan menuju ke tempat acara. Adrian menyewa 4 kamar. Satu kamar pengantin mereka, satu kamar untuk orang tuanya, satu kamar untuk Felisa tempati tadi malam, dan satu kamar untuk orang tua Felisa. Kamar yang di tempati Felisa semalam nantinya akan di tempati kedua orang tua Aditya. Mertua yang luar biasa, meskipun anaknya sudah tak lagi menjadi suami Felisa.
"Tentu saja sayang. Anak Mama ini sangat tampan. Mama bersyukur sekali akhirnya kamu menemukan pelabuhan cinta. Mama dan Papa akan selalu mendoakan kamu yang terbaik," sahut Mama Dina.
Adrian sudah berada di kursi yang berhadapan dengan penghulu dan Papa Hadi. Jantung Adrian berdegup lebih kencang. Rasanya sungguh menegangkan melebihi dirinya berhadapan dengan kliennya. Adrian terlihat grogi, tetapi dia berusaha untuk semaksimal mungkin mengucap ijab kabul dengan lancar. Felisa berada di kamar pengantin, tidak di pertemukan lebih dulu dengan Adrian.
Sah!
Adrian dan Felisa sudah sah menjadi pasangan suami istri. Dengan di bantu oleh Nisa sang Mama, Felisa kini sudah duduk di sebelah Adrian. Keduanya terlihat kikuk. Perkenalan mereka terbilang sangat singkat. Terlebih bagi Adrian yang merupakan pengalaman pertama.
Setelah penandatanganan selesai. Felisa mencium tangan Adrian sebagai bentuk rasa hormat kepada imamnya dan Adrian langsung mencium kening Felisa dengan lembut. Adrian terpanah melihat kecantikan istrinya. Bahkan dirinya sudah tidak sabar bermain dengan bibir istrinya yang begitu sangat menggoda. Tak ada yang berbeda yang di rasa Adrian meskipun dirinya tak mendapatkan yang pertama, istrinya tetap menggoda.
"Kamu cantik banget, I Love You," ucap Adrian saat memasangkan cincin pernikahan mereka di jari manis pasangannya. Sama halnya dengan Adrian, Felisa juga melakukan kepada Adrian untuk memasangkan cincin pernikahan mereka.
Saatnya acara sungkeman, Felisa tak henti-hentinya meneteskan air matanya. Memohon doa restu kepada orang tuanya, dan berharap pernikahannya kali ini menjadi pernikahan terakhir dalam hidupnya. Dia tak pernah menyangka kalau jodohnya secepat ini. Sosok laki-laki yang sangat sempurna, semoga ke depannya tak pernah berubah rasa cintanya kepada dirinya.
__ADS_1
Kini Felisa dan Adrian sudah berada di kamar pengantin. Setelah serangkaian acara selesai dan makan siang bersama, mereka kini di beri waktu untuk beristirahat sampai jam 15.00 untuk persiapan acara resepsi.
Deg!
Jantung Felisa berdegup kencang, tubuhnya merasa tegang saat tangan Adrian melingkar di pinggang Felisa dan dagunya bersandar di pundak istrinya. Mulai hari ini dirinya harus mulai terbiasa dengan suami barunya. Setelah mengunci pintu kamar, Adrian langsung menghampiri Felisa yang hendak membuka gaun pengantinnya.
Adrian membalikkan tubuh Felisa, saling berhadapan dengannya. Netra mereka saling bertemu. Perlahan Adrian mendekatkan wajahnya ke wajah Felisa dan mendekatkan bibirnya dengan bibir istrinya. Adrian langsung menyambar bibir Felisa yang begitu menggemaskan baginya sejak tadi. Perlahan melu*matnya, tetapi Felisa tak menyambutnya.
"Mengapa kamu tak menyambutnya, apa kamu tak menyukainya?" tanya Adrian lembut.
"It's ok. Aku mengerti sampai menunggu kamu merasa siap." ucap Adrian. Adrian langsung meninggalkan Felisa untuk berganti pakaian dan membersihkan tubuhnya. Dia mencoba mengendalikan emosi karena merasa kecewa. Ada perasaan bersalah di hati Felisa, tapi dia tak bisa memaksakan.
Felisa berusaha untuk melepaskan resleting baju, tetapi dia merasa kesulitan. Tapi dia terlihat ragu-ragu untuk meminta bantuan Adrian, merasa tak enak hati terlihat Adrian sedang memainkan ponselnya duduk santai. Adrian melirik sekilas ke arah Felisa yang merasa kesulitan.
"Mau aku bantu? Mengapa kamu tak meminta bantuan aku? Takut aku melihat punggung kamu juga?" sindir Adrian. Wajah Felisa memerah, dirinya merasa malu atas ucapan Adrian kepadanya.
"E-Eh bukan gitu. Aku ini istri kamu, halal bagi kamu melihat tubuh aku. Hanya saja aku tak mau merepotkan kamu. Aku lihat kamu sedang sibuk memainkan ponsel." sahut Felisa merasa tak enak dengan Adrian padahal kenyataannya memang seperti itu.
__ADS_1
Akhirnya Adrian membantu Felisa membuka resleting gaun pengantin tersebut. Adrian berusaha menelan salivanya dengan susah payah. Bagaimanapun dia adalah laki-laki normal, bahkan belum pernah sekalipun dia melakukan hal itu. Meskipun banyak wanita yang mau memberikan servisnya secara gratis, dengan senang hati merangkak naik ke ranjangnya tapi Adrian bukanlah lagi-lagi yang suka bermain seperti itu. Dia hanya ingin memberikan kepada istrinya kelak, baginya wanita seperti itu justru seperti wanita murahan. Jika dia mau, Adrian bisa melakukannya. Bukan hanya tampan dan gagah, Adrian juga seorang kaya raya.
"Terima kasih, aku mandi dulu ya," ucap Felisa dan Adrian hanya menganggukkan kepalanya. Kini dirinya merasa frustasi karna harus melihat pemandangan indah tubuh istrinya. Meskipun hanya melihat punggung mulus istrinya, dan sang istri fashion show di hadapannya hanya memakai kain segitiga dan kain penutup bukit kembarnya. Awalnya Felisa merasa malu tak percaya diri, tetapi Adrian mengatakan Felisa nanti akan kesulitan jika membuka di kamar mandi, hingga Felisa menurutinya terlebih mereka sudah menjadi pasangan halal.
"Sabar dulu ya Bram, Nyonya masih belum mau. Masih harus bersabar lagi kita," ucap Adrian dengan miliknya. Dia mencoba menenangkan miliknya yang mulai menegang karena tak kuasa melihat istrinya berpenampilan seksi. Bram panggilan Adrian untuk miliknya.
Tak ada adegan dewasa apapun kebersamaan mereka selama beberapa jam. Bahkan Adrian memilih untuk tidur di sofa dari pada harus tersiksa menahannya.
Saat waktu persiapan acara resepsi pernikahan, Felisa dan Adrian mulai di rias kembali. Adrian sudah selesai lebih dulu dan memilih menunggu di luar, mengobrol dengan saudara dan juga orang tuanya.
"Lo ga langsung belah duren kan?" bisik Messy, dan Adrian hanya menggelengkan kepalanya. Dia terlihat lesu, tapi dia harus bersabar karena pernikahan bukan hanya sekedar urusan ranjang.
"Bagus 'lah dari pada si Felisa nanti jalannya ngangkang." sahut Messy to the point. Ternyata bukan hanya Messy yang ingin tahu, sang mama juga bertanya pada sang anak.
Sambil menunggu up, ya g belum mampir ayo mampir di karya aku yang berjudul kembalinya sang putri
__ADS_1