
Operasi Tia berhasil, hanya tinggal menunggu Tia sadar kembali. Almira dan Fahri tetap setia menunggu sampai Tia siuman. Dia ingin menenangkan hati Tia saat dirinya membuka matanya. Sungguh tak mudah bagi Tia untuk menerima apa yang terjadinya di hidupnya.
"Sebentar lagi Tia akan membuka matanya, pastinya dia akan histeris saat mengetahui anak yang dia inginkan harus pergi meninggalkan dunia untuk selamanya. Lantas apa yang akan kau lakukan setelah ini? Saya harap kau tetap setia pada Tia, dan bukan meninggalkannya!"
"Entahlah om, saya belum tau. Jujur saya sedang mengalami kekecewaan teramat besar dalam hidupku. Setiap rumah tangga pastinya sangat menginginkan memiliki keturunan, tetapi nyatanya saya tidak akan pernah bisa memilikinya dari Tia." sahut Aditya.
Tentu saja hal ini membuat Fahri merasa geram atas penuturan Aditya, rasanya dia ingin melayangkan bogeman ke wajah Aditya. Meskipun kenyataannya ada segelintir orang yang akan bersikap seperti Aditya. Memilih menikah kembali demi memiliki keturunan.
"Anakku? Anakku baik-baik saja kan?" ucap Tia sambil menatap ke arah suaminya. Tatapan menyelidik. Aditya hanya diam tak mampu bicara.
"Sabar Ti, kamu baru siuman!"
"Bagaimana Tia ga sabar, Bunda. Sebelum Tia jatuh pingsan, Tia melihat darah mengalir dari selang*kangan Tia. Tia takut terjadi sesuatu sama anak Tia. Hiks ... Hiks ...," ucap Tia di iringi isak tangis.
Tia terus menanyakan kondisi anak dalam kandungannya. Dia merasa takut jika apa yang dia takutkan selama ini terjadi. Dia harus kehilangan bayinya. Tia seperti orang yang tak waras. Jika tidak ada yang menjawab pertanyaannya, dia akan menanyakan langsung kepada dokter atau perawat. Dia berusaha untuk membuka selang infus yang terpasang dan akan bangkit.
"Aw, perutku sakit?" ringis Tia. Sakit seperti luka sayatan. Akhirnya dia mencari tau apa yang sebenarnya terjadi di perutnya. Tia mengangkat selimut yang menutupi tubuhnya dan membuka secara perlahan baju yang dia kenakan.
"Tidak! Tidak mungkin! Hiks ... hiks ... Mengapa perutku? Apa yang terjadi dengan anakku?" teriak Tia.
Almira dan Fahri berusaha menenangkan sang anak. Hatinya merasa sakit melihat anaknya seperti itu. Tapi mereka bisa apa? Semua ini sudah menjadi ketentuan Allah. Mungkin cara mereka memiliki anak salah, hingga akhirnya Allah mengambilnya kembali.
Sang perawat datang menghampiri Tia, tujuannya untuk memeriksa keadaan Tia pasca operasi karena Tia sempat mengalami tekanan darah yang tidak stabil. Pihak Dokter khawatir akan terjadi penyakit susulan.
"Sus, apa anak saya baik-baik saja di dalam kandungan? Mengapa perut saya seperti habis operasi? Apa yang sebenarnya terjadi?" cerocos Tia.
__ADS_1
Sejak di awal-awal kehamilan, dokter kandungan sudah mengetahui kalau kehamilan Tia bermasalah dan harus melakukan aborsi. Membutuhkan pemantauan yang luar biasa. Mental sang ibu juga harus normal, tidak boleh mengalami stres berlebihan. Karena bukan hanya bayi dalam kandungannya saja yang akan meninggal, nyawanya pun akan terancam.
"Maaf bu, saya tidak bisa menjelaskan. Dokter yang nanti akan menjelaskan. Permisi." ucap sang perawat. Menambah teka teki pertanyaan menari di pikiran Tia.
" Ada apa sebenarnya? Mengapa kalian tutupi dari ku? Jika kamu pergi dari hidup Mama, lebih baik Mama mati bersama kamu. Mama sayang sama kamu," ucap Tia lirih. Hal itu membuat Aditya merasa bersalah telah membuat mereka kehilangan bayinya.
"Semua ini karena kamu! Aku benci kamu! Kamu yang membuat kandungan aku bermasalah! Hiks ... hiks ...," teriak Tia sambil menatap Aditya penuh kebencian.
Almira dan Fahri saling memandang. Seakan saling bertanya, sebenarnya apa yang terjadi dengan pasangan itu. Selama ini Tia selalu menutupinya dari orang tuanya, dia merasa malu kalau pernikahan yang dia banggakan sebenarnya dalamnya bobrok.
"Kok kamu jadi menyalakan aku? Siapa suruh kandungan kamu lemah? Berarti kamu gagal menjadi seorang wanita. Menyesal aku mempertahankan kamu dan melupakan anak ku yang jelas-jelas sudah nyata ada di dunia." sahut Aditya ketus yang tak mau di salahkan. Bukannya menenangkan Tia, dia justru memperuncing masalah.
"Owh jadi kamu mau menyalakan aku? Kamu ga sadar atas apa yang kamu perbuat selama aku hamil? Sekarang kamu bisa berkata itu, bilang saja kalau kamu mau meninggalkan aku! Dasar laki-laki breng*sek! Menyesal aku masuk perangkap kamu! Aku benci sama kamu!" ucap Tia.
"Sabar, coba kamu bicarakan baik-baik! Ayah dan Bunda dulu sempat kehilangan Nisa, memang kami sangat menderita saat itu. Tetapi Allah memiliki rencana lain, sehingga kami bisa di pertemukan kembali dengan Nisa. Jika Allah sudah berkehendak, semua mungkin terjadi. Banyak juga kejadian di luaran sana yang bisa hamil dan memiliki anak.
Dokter datang menghampiri Tia untuk memeriksa kondisi Tia sekarang. Tia langsung memberondong pertanyaan kepada sang dokter tentang apa yang dia alami saat ini. Dokter langsung menjelaskan secara terperinci kepada Tia. Mendengar penuturan Dokter, Tia langsung berteriak histeris. Dia tak bisa menerima kenyataan yang ada.
"Sabar Ti, sabar! Tenangkan diri kamu! Istighfar, serahkan semuanya sama Allah. Semua karena kehendak Allah!" ucap Almira sambil mengelus punggung anaknya mencoba menenangkan.
"Bagaimana aku bisa tenang kalau aku harus kehilangan anakku dan tak ada harapan aku hamil kembali. Aku yakin laki-laki breng*sek itu akan meninggalkan aku. Puas kamu? Puas sudah hancurkan hidupku? Kau pasti akan bersenang-senang dengan wanita lain. Hiks ... hiks ..., mengapa kau kejam sekali kepadaku? Apa salahku? Hiks ... hiks ... aku benci hidupku." teriak Tia.
Tak lama kemudian Tia tertawa seperti orang gila. Mengelus perutnya dan seakan berbicara kepada anaknya. Menganggap anaknya masih hidup di dalam kandungannya. Di akhiri dengan tangisan. Miris melihat keadaan Tia, hingga akhirnya dokter menyuntikkan obat penenang ke tubuh Tia. Tia mengalami shock.
Tia tak henti-hentinya memaki Aditya, dirinya sangat membenci Aditya. Karena semua ini berawal dari Aditya. Dia masih berandai-andai, jika Aditya saat itu langsung menghampiri dirinya dan membawanya ke rumah sakit, anaknya pasti masih bisa di selamatkan.
__ADS_1
Tak ada perasaan bersalah sedikitpun yang di rasa Aditya, baginya semua ini karena Tia saja yang tak beres kandungannya. Almira dan Fahri keduanya merasa terpukul melihat keadaan Tia saat ini. Memikirkan nasib Tia selanjutnya. Sungguh tidak mudah untuk memberikan Tia pengertian terlebih Tia seorang yang keras kepala. Doa terbaik dari kedua orang tuanya, semoga hal ini di jadikan pelajaran berharga untuk Tia di kemudian hari.
Sambil menunggu aku up, mampir yuk ke karya temanku yang keren banget ceritanya.
BLURB!
"Hidup itu memang perlu bebenah diri! Termasuk singkirin kamu!"
"Hanum, serius itu hanya kecelakaan dan lupa."
"Termasuk menyakiti juga kamu sebut Hippocampus sejenis amnesia anterograde?"
Kamu tau, kamu cuma jadi beban yang bisanya nyalahin aku dan ninggalin aku diwaktu yang tidak tepat. Muaaak!!
Hanum seorang wanita dengan minus akal kepercayaan diri jauh dari kata cantik, serta bentuk tubuhnya besar jauh dari kata normal membuat dirinya selalu di ejek dan hina oleh pasangan. Hanum mati matian diet, demi mendapatkan pasangan yang tampan serta bisa mengertinya. Dapatkah Hanum melewatinya, belum lagi kisah cintanya dengan Alfa Jhonson bagai ada di roller coaster!
NAH KAN, SIMAK PENASARAN?
CUSS! KLIK LINK JUDULNYA YA KAK!
BAD WIFE.
JANGAN LUPA TAP LOVE, JEJAKNYA.
__ADS_1