
Jawaban Chanyeol membuat Velia langsung mengingat akan Papa mertuanya Iya itu Papa Chan, Alexandra.
"Chan, Papa ada dimana? bahkan saat di acara pernikahan kita tadi aku juga tidak melihatnya?dia ada di mana? apa dia di sini?" tanya Velia yang masih belum tahu kalau Papa mertuanya kini sedang menjalani operasi dan bahkan operasi itu belum selesai.
"Dia diculik dan disiksa oleh Mama tiri ku, Vel!!" jelas Chan.
"Apa?" jawaban caranya membuat Velia tersentak kaget, "Lalu sekarang Papa ada dimana?" katanya Velia yang memang sangat khawatir akan kondisi Papa mertuanya itu.
Chan pun mengatakan pada Velia kalau papanya masih berada di ruang operasi dan bahkan sudah 2 jam dokter yang melakukan operasi itu belum juga keluar dari ruang operasi. Itulah yang membuat Chan cemas dan juga terlihat murung karena takut kalau sampai terjadi apa-apa dengan papanya.
Velia bahkan juga merasa bersalah karena dirinya tidak bisa mengerti Chan. Chan tidak tega melihat Velia yang ikut merasa cemas dan khawatir, sampai akhirnya Chan dapat mengalihkan pembicaraan dan berusaha tersenyum dihadapan Velia.
"Vel, kamu tadi Dapat salam dari Riri!" ucap Chan yang memecah keheningan diantara mereka karena mereka berdua terlihat cemas. Velia yang awalnya terlihat ikut murung pun akhirnya tersenyum pada Chan.
"Benarkah itu? Aku sangat merindukan Riri!" ucap Velia yang merindukan Riri karena berkat Riri lah yang menjadi teman dan juga sudah membuatnya dekat dengan Chan.
Velia pun lalu memeluk Chan Begitu juga dengan Chan yang membalas pelukan Velia. saat masih berada di dalam pelukan Chan, Chan mengatakan bahwa dirinya tadi juga sempat memeluk Riri pada Velia.
"Aku tadi sempat memeluk Riri! Apa kau bisa merasakannya?" ucap Chan beritahu Velia. Velia pun seketika mencium aroma bunga tulip, gimana aroma bunga tulip adalah yang disukai Riri.
Selang beberapa jam, dokter pun akhirnya keluar dari ruang operasi. Chan yang terlihat antusias karena ingin mengetahui kondisi Papanya, langsung mendekati dokter itu.
"Bagaimana kondisi Papa saya ,dokter?" tanya Chan yang berjalan melangkah ke arah dokter diikuti dengan Velia.
"Maafkan saya tuan! saya dan rekan-rekan saya sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi ternyata Tuhan berkehendak lain! pasien tidak bisa diselamatkan karena terlalu banyak mengeluarkan darah! dan juga peluru yang sudah terlanjur bersarang di dekat jantungnya, membuat dia tidak bisa bertahan lagi!" ucap dokter itu panjang lebar menjelaskan kepada Chan.
Ucapan dokter itu membuat hati Chan dan juga Velia sakit, bak tersambar petir di siang bolong, karena mereka harus menerima kenyataan kalau Papa Alexandra telah tiada. air mata Chan dan juga Velia mengalir deras karena seperti tak percaya kalau Papa Alexandra benar-benar telah tiada.
Mata Chan terlihat memerah saat dia ingin marah pada dokter itu.
"Kau berada di dalam selama 3 jam lebih dan kau bilang kau tidak bisa menyelamatkan papaku?" ucap Chan yang terlihat marah lalu mencengkram kerah dokter itu.
__ADS_1
"Chan, tenanglah kamu jangan seperti ini!" ucap Velia yang mencoba menenangkan Chan meskipun dia sendiri masih terlihat terpuruk atas meninggalnya Papa Alexandra.
Chan yang sudah dikuasai emosi, tanpa sengaja mendorong Velia karena Velia mencoba menghalangi Chan yang akan mencelakai dokter itu.
"Akh" Rintih Velia saat dirinya terjatuh hingga membentur tembok.
Kebetulan saat itu Yuna dan Dafa juga menuju ke arah mereka dan melihat Velia yang terjatuh membentur tembok, akibat ulah Chan.
"Velia !!" ucap Yuna yang terkejut melihat Velia terjatuh. Yuna lalu berlari ke arah Velia dan menolong Velia. disusul Dafa yang berlari ke arah Chan.
"Astaga, Apa yang lo lakukan? sadarlah lu nggak bisa mah sama dokter ini! Ini semua udah jadi takdir bokap lo dan lo harus menerima Ini semua! dokter ini juga sudah melakukan yang terbaik!" ucap Dafa yang mencoba menenangkan Chan yang masih menggenggam erat kerah dokter itu.
Setelah mendengar ucapan dari Dafa Chan pun akhirnya melepaskan genggamannya pada kerah dokter itu, dan seketika dirinya jatuh lalu duduk bersimpuh. Air mata terus mengalir pada mata Chan, dirinya tidak pernah menyangka kalau Papanya kan pergi meninggalkannya secepat ini.
Velia yang melihat suaminya menangis, juga tidak bisa melakukan apapun dan hanya bisa menenangkannya dengan pelukan.
"Papa, Vel" kata Chan yang sudah dipeluk erat oleh istrinya. Bukan hanya Chan saja yang merasa kehilangan namun juga dengan Velia. Karena Velia sudah menganggap Papa Alexandra seperti papa nya sendiri.
"Iya sayang aku tahu! Menangis lah jika itu membuatmu merasa lebih tenang!" ucap Velia yang terus menang kan suaminya.
"Papa bangun !Kenapa Papa tinggalin Chan? Chan bahkan belum sempat membuat papa bahagia! Ayo bangun Pa!!!" isak tangis Chan dan juga Velia memenuhi ruangan operasi itu.
" Sayang kamu harus sabar, ini sudah menjadi jalan untuk papa!" ucap Velia sembari mengusap pundak Chan.
"Kenapa setiap masalah selalu datang bertubi-tubi padaku, Vel! Mama pergi meninggalkanku, lalu Riri juga pergi meninggalkanku! dan sekarang apapun juga meninggalkanku, Vel!!" ucap Chan yang merasa dirinya tidak berguna lagi karena seluruh orang yang dia sayangi meninggalkannya.
"Sayang tenanglah! Aku akan selalu ada buat kamu!" ucap Velia yang melihat suaminya rapuh.
Di sisi lain Dafa yang langsung memberitahu semua teman-teman yang ada di sana, masuk ke dalam ruang operasi. Kecuali Dila, saat itu Dila masih menunggu kesadaran dari Suho.
"Aku akan mengantar kamu bertemu dengan papa kamu Chan!" ucap Kyungsoo yang tidak tega melihat Chan menangis. Kyungsoo yang baru saja masuk langsung berkata seperti itu dan langsung membuat Chan menoleh ke arahnya.
__ADS_1
"Kemarilah arah papa lo juga ingin bertemu sama lo!!" ucap Kyungsoo pada Chan.
Chan pun berdiri dari posisinya lalu bertanya pada Kyungsoo.
"Di mana bokap gue?"
setelah Chan bertanya pada Kyungsoo seperti itu, tiba-tiba saja arwah Papa Alexandra muncul tepat di belakang Chan.
Chan yang merasakan kehadiran Papanya langsung menoleh ke belakang dan mendapati Papanya berdiri tepat di belakangnya. Hanya Chan, Velia dan Kyungsoo saja yang bisa melihat Papa Chan.
"Papa?" ucap Chan sembari mengusap air mata yang keluar dari matanya.
"Nak, Papa sangat menyayangimu !" Kalimat pertama yang diucapkan oleh Papa Chan dari mulutnya. Papa Alexandra menatap sendu anaknya itu.
"Kenapa Papa tinggalin Chan?" tanya Chan yang masih tidak percaya kalau Papanya sudah tiada.
"Ini sudah menjadi takdir papa, nak! hiduplah damai bersama dengan teman-teman dan juga istrimu! Anggaplah mereka seperti keluarga kamu sendiri!" kata Papa Chan yang masih menatap sendu anaknya itu, meskipun dari lubuk hatinya yang paling dalam dirinya juga tidak ingin berada di posisinya saat ini. Namun apa boleh buat takdir sudah mengatakan bahwa dirinya harus kembali kepada yang maha kuasa terlebih dahulu.
"Papa, kenapa Papa harus pergi?" ucap Velia yang menangis menatap Papa Alexandra.
"Hey Gadis cantik jangan menangis! dan kalian semua tidak perlu menangisi kepergian papa, cepatlah memiliki momongan!" ucap Papa Chan yang mencoba menenangkan suasana supaya mereka tidak menangisi kepergiannya.
"Tapi bagaimana Pa? bahkan Papa tidak akan bisa menggendong cucu papa sendiri kelak! Chan masih belum bisa membahagiakan papa kenapa Bapak meninggalkan, Chan?" ucap Chan ya memang menyadari bahwa nantinya jika dia memiliki seorang anak, Papanya tidak mungkin bisa menggendongnya.
"Hei kau ini seorang pria Apa kamu tidak malu menangis di depan istri kamu? sudah Papa bilang kalau ini adalah takdir papa! kamu sama yang lainnya harus bisa mengikhlaskan papa! Papa juga tidak bisa melawan takdir ini! Papa pergi dulu!" ucap apa Alexandra yang sudah akan pergi ke alam berikutnya.
Chanyeol dan juga Velia pun langsung memeluk Papa Alexandra ,karena hanya mereka berdua dan Kyungsoo lah yang bisa melihat Papa Alexandra. setelah memeluk papa Alexandra, rohnya pergi ke alam yang seharusnya dia tuju.
Setelah itu Papa Alexandra dimakamkan, dekat dengan pemakaman yang digunakan untuk para orang tua mereka di kebumikan.
Semuanya ikut memakamkan Papa Alexandra, namun tidak dengan Dila, karena dia memilih menunggu Suho sampai sadar.
__ADS_1
Kini bukan hanya Chan dan Velia yang bersedih di pemakaman itu. Semua teman-temannya bersedih atas kematian para orang tua mereka, karena para orang tua mereka meninggal saat kejadian setelah pernikahan.
Mereka juga saling menguatkan satu sama lain, supaya tidak berlarut-larut dalam kesedihan.