
"Haish, ini terlalu sulit bukan?!" Ucap Chan sambil menghela nafas.
"Lo menyerah?" Tanya Varga memastikan.
Chan tampak menarik nafas dan menghela nafasnya, "Ya gue bisa apa selain menyerah?" Chan mengangkat bahunya sambil menghela nafas lagi, "Tangkap gue dan bunuh gue aja!" Ucapnya lagi lalu perlahan mendekat ke arah Varga ,"Itu kalau lo bisa!" Ucap Chan lirih di telinga Varga.
"Cih, lo ngancam gue?!" Tanya Varga berdecih.
"Gue nggak ngancam lo, tapi gue punya satu permintaan sebelum lo bunuh gue!" Ucap Chan lalu menarik nafasnya, "Gue mau kita satu lawan satu! Tanpa ada campur tangan dari mafioso milik lo!" Pinta Chan.
Varga pun menyetujuinya, namun ternyata saat mereka sudah memulai pertarungan. Ternyata mafioso milik Varga menembak Chan dengan tiba-tiba, beruntung Chan bisa menghindar tepat pada waktunya.
"Cih, dasar pecundang! Jadi lo mau main kotor hah?" Kata Chan.
"Seorang penjahat tidak mungkin bermain mulus begitu saja bukan?" Varga tampak tersenyum seringai pada Chan.
"Gue jamin lo bakal dapat balasan yang lebih dari ini!" Ucap Chan mengingatkan pada Varga.
Chan yang marah pun akhirnya memutuskan untuk langsung memukul Varga. Tentu itu bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan, karena Varga adalah seorang mafia. Namun biar begitu, Chan juga adalah mafia bahkan pengikut mafia nomor 1.
Saat Chan berhasil memberi bogem mentah pada wajah Varga, seluruh mafioso milik Varga langsung mengarahkan senjata mereka pada Chan. Akan tetapi Chan masih berusaha bersikap biasa saja, meskipun dia akan mati karena senjata mereka nanti. Perlahan Chan juga mencoba membuat Varga terpancing emosi akibat ucapan Chan. Yang mengatakan kalau sebenarnya mafioso milik Varga itu berkhianat padanya.
Varga yang sudah bangkit pun mencoba mengeluarkan senjata pistolnya dan dengan segera Chan juga sama melakukan hal itu. Kini mereka saling mengarahkan pistol pada bagian kepala.
Sampai akhirnya,,,
Dorrr,,,,Dorrr,,,,,Dorrr,,,,,,
Dorrrrr,,,,Dorrrr,,,
Dorrr,,,Dorrrr,,,,,Dorrr
Banyak peluru yang di lepaskan hingga kini seluruh mafioso milik Varga mati, tak ada yang tersisa sama sekali.
__ADS_1
Sehun yang memang sudah merencanakan ini sebelumnya pun dengan bangganya melihat Chan dari jauh. Ternyata memang para mafioso milik Sehun lah yang membantai mereka dengan tembakan. Rupanya sedari tadi setelah Chan masuk, para mafioso milik Sehun langsung menyebar dan mengepung markas, Chan hanya sebagai pengalih saja waktu itu. Sampai tiba saatnya mereka langsung menembak habis seluruh mafioso milik Varga tanpa bersisa.
Varga tampak terkejut sekaligus bingung, dengan apa yang sedang terjadi. Dia benar-benar tidak tahu dan tidak menyangka kalau akan jadi seperti ini.
"Bagaimana? Bukankah gue benar?! Bukan gue yang masuk ke kandang buaya, tapi lo sendiri yang masuk ke dalam kandang singa!" Ucap Chan dengan sombong dan angkuhnya.
"Cih, lo pikir gue akan menyerah gitu aja?!" Ucap Varga yang saat itu hendak mencoba kabur, namun menghentikan langkahnya karena ucapan dari Chan.
"Jangan coba-coba untuk kabur! Atau lo akan mati dengan sia-sia! Di sekeliling lo ini, ada banyak mafioso gue yang mengintainya! Mereka akan membunuh lo kapan aja!" Ucap Chan sambil tersenyum smirk ke arah Varga. Varga sendiri tampak mengepalkan tangannya dan merasa memang benar dia terjebak dan masuk ke dalam kandang singa.
"Lo bakal menyesal!!!" Ucap Varga tanpa berbalik menatap ke arah Chan.
"Lo yang bakal menyesal karena udah bunuh gue!" Ujar Chan yang sudah sangat merasa geram pada Varga yang sudah tega membunuh anaknya.
Saat itu Varga hendak kabur dengan berlari, namun dengan cepat Byun menembak kakinya hingga dia jatuh terhuyung ke depan. Sampai tersungkur.
"Akh!" Rintih Varga setelah tertembak pada bagian kakinya.
Sesaat semuanya telah muncul dari tempat persembunyian mereka. Lalu mereka mengepung Varga.
"Brengsek kalian semua!" Umpat Varga pada mereka semua yang mengepungnya.
"Lo yang brengsek bodoh! Lo yang udah berani-beraninya mengusik kehidupan keluarga kita! Bahkan lo tega udah menghabisi anak yang bahkan belum terlahir ke dunia!!" Ucap Kai kesal pada Varga.
"Itu semua tidak seberapa dengan apa yang sudah kalian lakukan pada Intan! Bukankah nyawa harus di bayar dengan nyawa?!" Dengan sikap angkuhnya, meskipun kakinya masih merasakan sakit akibat timah panas yang masuk ke dalam kakinya tadi. Varga masih tetap saja angkuh.
"Ya lo benar, nyawa Intan itu untuk membayar nyawa Riri yang mereka habisi!! Sedangkan nyawa lo harus di bayarkan untuk bayi yang bahkan belum terlahir!!!" Ucap Byun yang memang benar adanya.
Varga tidak menggubris ucapan Byun, dan perlahan mengambil pistol yang ada di sakunya. Namun sayangnya hal itu diketahui oleh Sehun, King mafia. Sehun seketika menjadi seperti seorang pembunuh berdarah dingin yang ingin menghabisi Varga. Matanya bak hewan seakan ingin menerkam mangsa yang hendak dia makan.
Dengan segera Sehun mengambil pistol itu dan langsung menembak kaki Varga yang satunya, lalu kemudian memukul tengkuk Varga hingga dirinya pingsan seketika.
"Bawa dia ke markas!" Ucap Sehun menyuruh beberapa mafioso nya untuk membawa Varga ke markas miliknya sendiri.
__ADS_1
Setelah itu para mafioso milik Sehun membawa Varga ke markas, sedangkan Chan langsung menuju ke rumah sakit untuk menemui istrinya yang masih belum sadar.
"Loh, Chan? Lo udah di sini? Lalu gimana sama urusan lo?!" Tanya Suho yang merasa heran karena Chan begitu cepat datang ke rumah sakit.
"Tinggal menunggu pelaku sadar, habis itu gue akan siksa dia! Gue ke sini karema gue mau menemani Velia! Tolong biarkan gue sama Velia berdua dulu!" Chan meminta semua yang ada di dalam ruang rawat Velia keluar, karena Chan ingin berbicara pada istrinya meskipun tidak sadar.
Mereka pun langsung keluar dan membiarkan Chan juga Velia berdua di dalam ruangan itu. Chan duduk di kursi yang ada di dekat blankar milik Velia. Chan menatap istrinya dengan sendu.
"Velia bangunlah! Meskipun aku tidak tahu bagaimana aku akan mengatakan padamu kalau anak kita meninggal!" Ucap Chan yang perlahan menitihkan air matanya, lalu mencium kening Velia.
Di sisi Velia, dirinya yang masih belum sadarkan diri. Seperti mimpi bertemu dengan keluarganya. Mami, Pipi dan juga Talia. Di sebuah tempat yang begitu terang Velia tampak berdiri seorang diri, hingga keluarganya datang menemuinya yang tengah kebingungan sendiri.
"Di mana aku? Apa aku sudah mati?" Tanya Velia pada dirinya sendiri.
"Nak!" Suara parau dari Kim Chen Zee, yang tak lain adalah Pipi Velia. Dirinya berdiri tepat di dekat istrinya dan juga Talia. Velia yang mendengar itu langsung menoleh ke arah mereka.
"Kalian?!" Ucap Velia lalu memeluk hangat tubuh mereka.
"Velia sangat merindukan kalian! Akankah kita bisa berkumpul seperti dulu lagi?!" Tanya Velia sambil mengusap air mata bahagia ketika bertemu dengan keluarganya.
"Kita pasti bisa bersama lagi nak, tapi tidak sekarang!" Ucap Mami Velia.
"Apa Velia sudah tiada?" Tanya Velia yang mengira kalau dirinya sudah tiada.
"Tidak sayang, kamu masih harus kembali!" Ucap mami Velia lagi memberi tahu.
"Iya kak, mami benar! Aku akan menjaganya!" Ucap Talia yang ternyata sedari tadi menggendong bayi mungil di tangannya. Sontak Velia langsung menoleh ke arah Velia dan bayi mungil itu.
"Si-siapa itu?!" Tanya Velia yang tak tahu akan siapa bayi yang di gendong oleh Talia, saudara kembarnya.
"Nak, kamu harus sabar! Kita di sini akan menjaganya, kamu harus percaya itu!" Ucap Mami Velia sembari mengelus bahu Velia.
"Maksud kalian apa? Aku tidak mengerti?!" Ucap Velia yang masih belum mengerti, namun beberapa saat kemudian dia menyadari lalu membelalakkan matanya, "Ti-tidak mungkin! ANAKKU!!!" Kata Velia.
__ADS_1
"Tidak! Anakku tidak boleh pergi bersama kalian! Aku mohon jangan bawa anakku!" Ucap Velia yang sudah menangis sesegukan.
Talia pun membiarkan Velia untuk menggendong bayi mungil itu.