
Setelah selesai berendam dari air terjun itu, Chan mengajak Velia untuk menemaninya makan siang. Meskipun para pengunjung tidak mengetahui adanya Velia di sana, namun bagi Chan adanya Velia membuat dia tidak merasa kesepian lagi.
Di tempat yang sama, ternyata Suho juga ada di restauran itu bersama dengan Dila. Mereka berdua juga sedang menikmati makan siang.
"Sayang, lihatlah ke sana!" Ujar Suho menunjuk ke arah Chan duduk. "Bukankah itu, Chan?" Tanya Suho.
Dila menoleh untuk melihat dan juga memastikan apakah benar itu adalah Chan atau bukan.
Dila dan juga Suho memutuskan untuk menghampiri Chan yang terlihat sedang duduk sendirian dan menanti makanan yang dia pesan. Dila juga masih merasa bersalah pada Chan dan juga Riri.
"Chan, bukankah itu Suho?" Ujar Velia yang menunjuk Suho dan juga Dila.
Saat Chan hendak menoleh dan melihatnya, Dila dan juga Suho sudah sampai di meja makannya dan juga menyapa dirinya.
"Hay, Chan!" Sapa Dila yang kini terlihat ramah pada Chan.
"Apa kita berdua boleh gabung?" Tanya Suho pada Chan.
"Ya, silahkan duduk!" Ujar Chan yang menyuruh Dila dan Suho untuk duduk di kursi meja makan yang sudah di pesan oleh Chan.
Setelah Dila dan juga Suho duduk, mereka menanyakan tentang bagaimana kabar Chan dan juga beberapa pertanyaan lain yang mereka tanyakan.
"Gimana kabar lo, Chan?" Tanya Suho setelah dia duduk di kursinya.
"Hmmt,, gue rasa kurang baik!" Ucap Chan dengan sedikit terlihat lesu.
"Kok gitu?" Jawab Dila.
"Gue habis terkena luka tembakan dan baru menjalani operasi, tapi udah baikan kok!" Ucap Chan memberi tahu Dila dan juga Suho.
"Tunggu! Kok bisa sih lo sampai terkena tembakan?" Tanya Suho bingung.
"Ceritanya panjang!!" Kata Chan lalu mulai menceritakan kejadian saat dia hendak menangkap pelaku yang sudah membunuh Riri.
Setelah menceritakan itu makanan datang dan mereka langsung menyantap makanan yang sudah tersedia di meja makan.
Mereka tertawa dan juga bersenda gurau bersama, Velia yang juga berada di sana ikut bahagia karena melihat Chan yang bisa tersenyum kembali.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Beberapa hari kemudian Chan sudah mulai terbiasa tanpa adanya Riri di sampingnya. Meskipun dia tidak akan pernah bisa melupaka. Riri adik kesayangannya itu, tapi setidaknya Velia lah yang sudah menggantikan Riri dan membuat Chan bahagia.
Di suatu hari, Chan mengajak Velia untuk pergi ke makam Riri. Velia yang saat itu tengah berada di halaman dengan menatap banyaknya bunga tulip, dia langsung mengiyakan ajakan Chan untuk pergi ke makam Riri.
Sesampainya di makam Riri, Chan membawa 2 bucket bunga tulip kesukaan Riri. Dan Chan menaruhnya pada nisan Riri.
"Semoga kamu tenang, Ri! Kakak tahu, kamu pasti jauh lebih baik dan juga bahagia di sana! Kakak sangat merindukanmu!" Ucap Chan sembari mengusap lembut batu nisan bertuliskan nama Riri.
"Chan, jangan pendam air mata kamu! Menangis lah jika kau ingin menangis!" Kata Velia yang tidak tega melihat Chan menahan air matanya.
"Vel, apa kamu tahu! Riri sangat baik dan juga ramah kepada semua orang?! Tapi aku kadang berpikir, kenapa bisa ada orang yang tega membunuhnya dengan tragis seperti itu?!" Kata Chan yang perlahan menitihkan air matanya.
Velia langsung memeluk hangat Chan dan berkata,,,,
"Sudah, Chan! Biarkan ini menjadi masalalu kamu ! Aku yakin Riri pasti sangat bahagia di sana saat melihat kamu tersenyum! Dan Riri pasti juga sedih saat melihatmu bersedih!" Ujar Velia yang sebenarnya juga menahan air matanya sendiri.
"Terima kasih, Vel! Karena kau selalu menemaniku?!" Ucap Chan yang masih di peluk oleh Velia.
"Apapun akan ku lakukan untukmu Chan!" Ucap Gisella yang memeluk hangat Chan.
"Membantu aku? Membantu apa?" Tanya Velia yang tidak tahu maksud dari Chan.
"Apa kamu tidak mau bertemu dengan Mami dan Pipi kamu?" Tanya Chan pada Velia yang kini sudah melepas pelukannya.
"Entahlah, Chan! Aku bahkan takut untuk menemui mereka! Lagi pula mereka tidak akan bisa melihat aku!" Ucap Velia mendadak sedih.
"Kita ke mobil saja ya!" Ucap Chan sembari bangun dari posisi duduk nya lalu berjalan menuju ke mobilnya yang terparkir tak jauh dari lokasi makam.
Chan pun melajukan mobilnya menuju ke rumah Velia.
"Loh, Chan ini bukannya jalan ke rumah aku?" Tanya Velia sembari menatap jalan yang menuju rumahnya.
"Apa kamu nggak mau pulang ke rumah?" Tanya Chan yang masih fokus menyetir dengan kecepatan sedang.
"Aku sebenarnya ingin menetap di rumahku sendiri, Chan! Tapi hantu-hantu yang selalu mengganggu aku itu membuat diriku muak!! Apa lagi hantu itu sempat meminta satu hal yang tidak bisa aku lakukan!" Kata Velia yang kesal saat mengingat kejadian diancam oleh hantu yang sering mengganggunya.
__ADS_1
"Memangnya apa yang diminta olehnya, Vel?" Tanya Chan penasaran.
"Hantu itu memintaku untuk menjauhi dirimu, Chan!" Jelas Velia yang setelahnya terlihat sedih.
"Hey, jangan memasang muka yabg seperti itu, kau lebih cantik jika tersenyum, Vel!" Kata Chan berusaha menghibur Velia.
Veli hanya menoleh sekilas ke arah Chan lalu segera memandang ke arah depan lagi. Tak terasa mereka sudah sampai di depan rumah Velia.
Chan sudah lebih dulu turun dari mobil dan mengajak Velia untuk segera masuk ke dalam rumahnya.
Velia yang masih terlihat sedih pun akhirnya berhasil di hibur oleh Chan, dengan mengatakan kalau Chan akan mengajak Velia untuk menanam bunga mawar di halaman belakang.
"Sungguh?" Ucap Velia yang sudah kembali tersenyum lagi, lalu setelahnya mereka berdua menuju ke halaman belakang.
Sesampainya di halaman belakang,,,,
Lagi-lagi Velia melihat tanaman bunga tulip di sana. Gisella menghela nafasnya dan berkata,,,,
"Sebenarnya, dari mana datangnya bunga-bunga tulip ini?" Ucap Velia penasaran.
"Sudahlah yang penting sekarang kita langsung tanam aja bunga mawar ya!" Ucap Chan yang membuat Velia menaikkan satu alisnya karena heran.
"Mau di tanam di mana lagi, Chan?" Tanya Velia yang melihat sekelilingnya hanya ada bunga tulip dan tidak ada lagi tempat selain memangkas atau mencabut bunga-bunga tulip itu.
"Ya kita tinggal tanam aja di antara bunga-bunga ini!!" Ucap Chan sembari menunjuk ke arah bunga tulip.
"Hey, mana bisa begitu? Itu tidak akan terlihat cantik!!" Ucap Gisella mengerutkan keningnya.
"Haish, yang penting kan pemiliknya cantik, Vel!" Kata Chan menggoda Velia.
"Chan😒😒" kata Velia memutar mata malasnya.
"Hehe, beneran gitu, Vel!" Kata Chan sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kalau kita mencabutnya lagi, pasti akan dihancurkan lagi dan akan ada bunga-bunga tulip ini lagi, Chan?!" Ucap Velia yang bingung harus melakukan apa lagi.
"Ya sudah, sekarang lebih baik kita tanam saja bunga mawar nya diantara bunga-bunga tulip ini!" Saran Chan.
__ADS_1
"Hmmt, baiklah!" Ucap Velia pasrah karena tidak ada cara lain lagi selain melakukan itu.
Mereka berdua pun akhirnya menanam bunga mawar diantara bunga-bunga tulip yang ada di sana.