
Sedangkan jauh di rumah sakit, Chan sedang menunggu di depan ruang IGD. Istrinya itu masih tidak sadarkan diri di dalam sana yang membuat Chan bingung dan tak tahu harus melakukan apa lagi. Dia merasa dirinya tidak bisa menjaga istri dan calon anaknya dengan baik.
"Akhhhh!! Kenapa sampai sekarang dokter belum keluar juga?!" Geram Chan lalu berjalan mondar mandir di depan ruang IGD itu.
Sampai beberapa menit dokter keluar dari ruang IGD itu, Chan langsung menghampirinya dan menanyakan tentang kondisi istri dan juga calon anaknya.
"Dok, bagaimana kondisi istri dan anak saya?" Tanya Chan pada dokter yang baru saja keluar dari ruangan itu.
"Mari ikut saya tuan!" Tanpa menjawab pertanyaan Chan, dokter itu mengajak Chan untuk masuk ke ruangannya.
Di ruangan dokter itu.
"Maaf tuan, tapi ini harus saya katakan!" Ucap Dokter itu mengawali.
"Ada apa dok?" Tanya Chan penasaran dengan raut wajah paniknya.
"Peluru yang bersarang di perut istri anda harus di ambil tuan, dan kita harus melakukan operasi untuk mengangkat peluru itu!" Ucap Dokter itu menjelaskan.
"Lakukan yang terbaik dok! Selamatkan mereka berdua!" Chan yang panik sudah menitihkan air matanya sedari tadi.
"Saya minta maaf tuan, tapi bayinya tidak akan bisa bertahan setelah di lakukan operasi ini, kita juga dengan terpaksa akan melakukan pengangkatan pada janin istri anda tuan!".
Deg,,,
Bak tersambar petir di siang bolong, hati Chan begitu sakit mendengar itu. Dia tak percaya kalau akan seperti ini.
"A-apa ti-tidak ada cara lain dok?" Ucap Chan terbata dengan melamun.
"Maaf tuan, meski peluru ini tidak tepat mengenai janin , tapi ini sangatlah beresiko! Kalau janin itu tetap di biarkan istri anda tidak akan bisa bertahan! Dan juga kemungkinan kecil bayi itu akan bertahan di dalam sana tuan!" Dokter itu menjelaskan dengan rasa prihatin pada Chan, seakan tahu apa yang di rasakan oleh Chan.
"Lakukan yang terbaik dok!" Ucap Chan akhirnya. Dirinya tidak punya pilihan lain lagi selain menuruti apa kata dokter dan apa yang terbaik untuk kondisi istrinya saat ini.
__ADS_1
"Baik tuan! Silahkan tanda tangan di sini!" Dokter itu mengarahkan sebuah surat persetujuan untuk di lakukan tindakan operasi.
Dengan berat hati Chan menandatangi surat itu, yang berarti dia harus merelakan calon anaknya pergi. Hatinya terasa sakit, dadanya sesak untuk bernafas. Namun dia harus tetap kuat untuk Velia nanti.
Operasi pun langsung di lakukan waktu itu juga, Chan yang kini berpindah menunggu di depan ruang operasi terlihat sedih meratapi nasibnya. Dia harus kehilangan calon anak pertamanya.
Kebetulan mereka yang memang sudah berencana akan ke rumah sakit, langsung menuju ke rumah sakit untuk mengetahui bagaimana kondisi Velia dan juga calon anaknya.
"Chan, bagaimana kondisi Velia?" Tanya Suho yang mewakili semuanya.
"Kak, katakan bagaimana dengan kondisi kak Velia?" Lia juga sudah khawatir dengan kondisi kakak angkatnya itu.
Chan yang menatap kosong ruangan bernuansa putih itu, tampak tak berdaya untuk menjawab apa yang terjadi dengan Velia. Bahkan mereka tidak tahu kenapa Chan bisa duduk di depan ruang operasi. Mata Chan yang sembab karena menangis perlahan buliran bening kembali membasahi pipinya yang sudah terlihat kusut karena menangis tadi.
"Chan, katakan?! Dan kenapa kau duduk di depan ruang operasi?!" Dila yang menyadari mencoba membuat Chan mengatakan pada mereka yang sebenarnya.
"Apa ada masalah yang serius, sampai lo nggak bisa jawab pertanyaan dari kita?!" Tanya Dafa yang geram karena Chan tak kunjung menjawab pertanyaan mereka.
Deg,,,,,
Kini bak ombak dahsyat yang menyapu mereka semua membuat hati mereka sakit dan tubuh gemetar mendengar apa yang di katakan oleh Chan. Mereka bingung dan tak percaya kalau akan sefatal ini.
"Tidak! Ini tidak mungkin!" Lisa tak percaya dengan menggelengkan kepalanya dan buliran bening di matanya sudah tak bisa dia bendung lagi.
Sudah bisa di bayangkan, Lisa saja sangat bersedih dan terpukul akan mengetahui hal itu terjadi pada kakaknya. Bagaimana dengan Chan, atau bahkan Velia nanti yang harus menerima kenyataan tentang calon anaknya yang telah tiada.
"Lisa tenang! Kita semua juga merasakan kesedihan yang sama denganmu!" Ucap Dila. Sehun menarik pelan Lisa ke dalam pelukannya sembari menenangkan istrinya itu.
Semuanya saling menguatkan, terlihat mereka menunggu dengan perasaan gusar karena lampu ruang operasi yang masih terus menyala.
Perlahan Kyungsoo berjalan sedikit menjauh dari tempat mereka. Dirinyalah yang paling merasa bersalah akan hal itu. Kyungsoo terduduk di sebuah koridor yang merutuki dirinya sendiri.
__ADS_1
"Gue yang salah!! Gue nggak guna! Gue nggak bisa jaga Velia!" Ucap Kyungsoo yang memukul kepalanya sendiri.
Amanda yang tadi mencari keberadaan Kyungsoo pun akhirnya menemukannya yang sedang merutuki dirinya sendiri. Melihat Kyungsoo yang memukuli kepalanya sendiri. Amanda langsung berlari dan memeluknya.
"Sayang, tenangkan diri kamu! Ini bukan salah kamu! Ini takdir!" Ucap Amanda menenangkan Kyungsoo dalam pelukannya.
"Tapi kalau seandainya aku bisa membawa Velia masuk ke dalam mansion! Ini semua tidak akan terjadi Amanda! Velia tidak akan seperti ini dan kehilangan calon anaknya!" Kyungsoo menangis di pelukan Amanda, karena dirinya memang merasa bersalah dengan apa yang saat ini menimpa keluarga kecil Chan.
"Syuttt, jangan berkata seperti itu sayang! Ini adalah takdir! Jangan salahkan diri kamu!" Amanda masih berusaha menenangkan Kyungsoo yang masih histeris dengan apa yang terjadi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Back to,,
Sehun menerima sebuah panggilan telepon dari mafioso suruhannya.
"Halo, bagaimana?" Tanya Sehun.
"Halo Bos! Kami sudah berhasil menemukan 2 mafioso musuh yang masih hidup bos!" Jawab mafioso itu di seberang telepon.
"Bagus! Sekarang bawa dia ke markas dan introgasi dulu dia! Sebentar lagi gue akan ke sana!" Ucap Sehun dengan datar.
"Baik bos!"
Sehun pun mematikan telepon itu secara sepihak.
Chan yang mendengar percakapan Sehun dan mafioso di telepon pun segera beranjak dari duduknya.
"Chan, lo mau ke mana?" Tanya Suho yang melihat Chan beranjak, Chan sontak menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Suho dan lainnya yang masih berada di depan ruang operasi.
"Gue mau balas kan perbuatan orang itu yang telah melayangkan nyawa anak gue! Nyawa harus di bayar dengan nyawa!!!" Ucap Chan yang sudah mengepalkan tangannya karena merasa emosi. Melihat Chan yang emosi, Dafa selaku yang tertua di sana mendekatinya lalu menepuk bahunya.
__ADS_1
"Lo memang benar Chan! Nyawa harus di balas dengan nyawa!" Ucap Dafa menyetujui apa yang di katakan oleh Chan tadi, "Tapi l nggak bisa ke sana sekarang, lo harus ingat kalau istri lo masih di ruang operasi, dia butuh lo di sini!" Ucap Dafa setelahnya.