
"Chan, bukan Mama pelakunya!" Ucap Intan yang masih berusaha untuk mengelak.
"Kau mungkin bisa mengatakan hal seperti itu, tapi bukti ini akan menunjukkan semuanya!" Ucap Chan pada Mama tirinya.
"Pak, silahkan periksa lebih lanjut kasus ini!" Perintah Chan pada para polisi.
"Baik tuan, kami akan melakukan tes dan membawa saudari Intan ke kantor polisi!" Ucap salah seorang polisi dan Chan hanya mengangguk tersenyum.
"Mas, aku tidak mau melakukan apapun!" Ucap Intan pada suaminya.
"Sayang, kau tenang saja! Jika kamu tidak bersalah kamu tidak perlu takut! Percayalah aku akan selalu ada bersamamu" Ucap Alexandra mencoba menenangkan Intan yang terlihat takut.
"Haish, pria tua bangka ini sama sekali tidak bisa diandalkan! Kali ini aku terpaksa harus berbuat nekat!!" Ujar Intan di dalam batinnya.
"Ayo ikut kami ke kantor untuk di periksa!" Ucap salah seorang polisi yang hendak membawa Intan.
"Tidak! Aku tidak mau!!" Ujar Intan yang langsung dengan cepat mengambil pistol salah seorang polisi yang ada di sana lalu menodongkan pistolnya. Hal itu sontak membuat semua yang ada di sana terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Intan.
"Jangan ada yang bergerak! Atau aku habisi kalian semua!" Kata intan sembari menodongkan pistolnya ke setiap orang.
"Kau wanita gila!!!" Umpat Chan pada Intan.
"Ya! Aku memang wanita gila!! Lantas apa mau mu? Menangkap ku? Silahkan saja, tapi sebelum itu aku akan membunuhmu!!" Ujar Intan mengancam Chan.
Alexandra bingung dengan istrinya itu, karena sebelumnya Intan tidak pernah melakukan hal senekat itu di hadapan Alexandra.
"Sayang" ucap Alexandra lirih dengan berusaha menenangkan Intan.
"Dan kamu!! Aku muak denganmu!!" Ujar Intan yang kemudian menodongkan pistolnya pada Papa Chan.
"Apa yang kau katakan? Kenapa kau jadi seperti ini?" Tanya Alexandra yang masih bingung.
"Kau pikir aku menikah denganmu itu karena cinta? Hahaha dasar bodoh!! Aku tidak mungkin jatuh cinta pada pria tua bangka sepertimu!!" Umpat Intan pada Alexandra, karena memang usia Intan jauh lebih muda di bandingkan Papa Chan. Bahkan usia Intan hanya berbeda 2 tahun dari Chan.
"Ka,,,kau?!" Ucap Alexandra yang masih tidak menyangka.
__ADS_1
"Astaga, bagaimana ini? Aku takut kalau Chan sampai kenapa-kenapa! Apa yang harus aku lakukan sekarang?" Tanya Velia yang juga berada di sana, dan hanya Chan yang bisa melihat keberadaannya.
"Aku tidak menyangka kalau kau bisa seperti ini!" Ucap Papa Chan.
"Kenapa? Apa kau terkejut?" Ujar Intan dengan nada sedikit mengejek "Aku memang orang yang sudah membunuh anakmu, aku muak dengannya! Aku tidak ingin hartamu jatuh ke tangan anak-anak kamu!! Karena itu hanya akan menjadi milikku saja! Tadinya aku juga akan menyingkirkan anak lelakimu ini (menunjuk Chan) tapi aku pikir itu tidak perlu, karena dia sudah pergi sendiri! Hahaha" ucap Intan dengan diakhiri tawa jahatnya.
Mendengar penjelasan dari Intan, Alexandra murka dan meluapkan emosinya.
"Cukup!!! Cepat serahkan dirimu ke polisi!!" Perintahnya.
"Tidak akan pernah!!" Jawab Intan dengan senyum seringai di wajahnya.
Dengan cepat Chan langsung mengunci pergerakan Intan sehingga Intan tidak bisa kabur, namun sayangnya Chan tidak mengingat kalau Intan masih memegang sebuah pistol. Pistol yang berisi beberapa peluru itu dilepaskan oleh Intan.
Dor,,,,,,,
Peluru itu tepat mengenai perut Chan, Papa Chan dan juga seluruh polisi yang ada di sana sangat terkejut begitu juga dengan Velia.
"Arkhh" rintih Chan.
"Tidak!!!" ucap Papa Chan setelah melihat anaknya tertembak.
Chan terjatuh ke tanah karena tidak kuat menopang tubuhnya.
Bruk,,,,,
"Hahaha, siapa suruh kau bermain-main denganku!" Ujar Intan dengan bangganya karena berhasil melukai Chan.
Namun tiba-tiba saja,,,,
Dor,,,,,,,
Sebuah peluru mendarat pada wajah Intan sehingga membuatnya meringis kesakitan, peluru itu dilepaskan oleh salah seorang polisi yang hendak menembak kaki Intan namun Intan mengubah posisinya yang semula duduk dengan mengatai Chan lalu berdiri hingga terkena tembakan.
"Arkhhh,,,sssstttt,,,,sialan!!!" Ujar mama tiri Chan yang setelahnya berlari dan kabur entah kemana, seluruh polisi yang ada di sana segera mengejar Intan.
__ADS_1
Di sisi lain Papa Chan langsung mendekati anaknya yang terluka itu dan menyuruh beberapa pengawal miliknya untuk menggendong Chan dan segera membawa Chan ke rumah sakit.
Saat di perjalanan menuju rumah sakit Chan sudah tidak sadarkan diri karena kehilangan banyak darah. Alexandra panik saat melihat putra satu-satunya itu menutup matanya tak sadarkan diri.
Sesampainya di rumah sakit, Chan langsung ditangani oleh beberapa dokter ahli yang ada di sana.
Velia berdiri di dekat ranjang Chan dan bersedih melihat Chan tak sadarkan diri.
"Chan bangunlah, apa yang aku katakan pada Riri nanti kalau sampai kamu tiada?!" Ujar Velia yang hanya bisa di dengar oleh dirinya sendiri.
Setelah di periksa oleh dokter, dokter itu mengatakan kalau pelurunya bersarang pada perut Chan dan harus segera dilakukan operasi untuk pengangkatan peluru itu dari dalam perutnya. Tanpa basa-basi Alexandra langsung saja menandatangani surat persetujuan untuk operasi anaknya itu dan meminta dokter untuk melakukan yang terbaik untuk putranya.
Satu jam sudah berlalu, Papa Chan menunggu di depan ruang operasi dengan perasaan cemas akan kondisi anaknya. Saat dokter keluar dari ruang operasi, Alexandra langsung menghampirinya dan menanyakan tentang kondisi Chan.
"Bagaimana keadaan anak saya, dok?" Tanya Papa Chan pada dokter itu.
"Syukurlah operasinya berjalan dengan lancar, tapi pasien masih dalam pengaruh obat bius jadi kita tinggal menunggu dia sadar saja!" Ucap dokter dengan senyuman yang tersirat di wajahnya.
Akhirnya papa Chan bisa bernafas dengan lega karena mendengar bahwa kondisi anaknya sudah mulai membaik dan operasinya berjalan dengan lancar.
Setelah di operasi, Chan pun di pindahkan ke ruang rawat inap. Di sana Papa Chan menunggu Chan di dekat ranjangnya, Chan masih terbaring lemah dengan selang oksigen di hidungnya.
"Chan, maafkan papa!! Maafkan papa karena tidak percaya padamu!! Papa menyesal, nak! Bangunlah!!! Jangan tinggalkan papa!! Papa sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi selain kamu Chan!!" Ujar Alexandra dengan linangan air mata yang jatuh dari pelupuk matanya.
"Bangunlah Chan!" Ucap Velia sedih melihat kejadian itu.
Beberapa saat kemudian Chan terbangun setelah menjalani operasi pengangkatan peluru di perutnya.
"Papa?" Ujar Chan lirih.
"Chan, kamu sudah bangun?!" Tanya Alexandra yang senang melihat anaknya sudah sadar.
"Bagaimana dengan wanita itu, Pa? Apa dia sudah dipenjara?" Tanya Chan yang mengingat kejadian kalau dirinya hendak menangkap basah Intan, Mama tirinya itu.
"Kamu tidak perlu memikirkan itu! Yang penting sekarang kamu sembuh dulu!! Biarkan polisi yang menangani kasus ini?!" Saran Papa Chan.
__ADS_1
"Tapi Chan harus memastikan kalau dia dipenjara, Pa!" Bantah Chan.
"Kamu tenang saja, Nak! Polisi.pasgi bisa mengurus semuanya!" Ucap Papa Chan lagi.