Jadi Suami Dari Hantu Cantik

Jadi Suami Dari Hantu Cantik
Mangga muda


__ADS_3

"Ow jadi begitu ceritanya?!" Ucap Byun sambil mengangguk-angguk paham, dan tanpa menoleh ke arah Sindy. Namun tiba-tiba Byun mengingat sesuatu.


"Tunggu! Kau bilang tadi intan?" Ucap Byun yang langsung menghentikan mobilnya dan menoleh ke arah Sindy.


"Iya!" Jawab Sindy.


Byun pun menunjukkan sebuah foto yang ada di ponselnya "Apa dia orangnya?"


"Ka-kau mengenalnya?" Ucap Sindy terbata karena melihat foto yang di tunjukkan oleh Byun.


"Gue cuma pernah ketemu sama dia satu kali saja!" Ucap Byun yang sudah menghentikan mobilnya.


Sindy menghela nafas dan matanya mulai berkaca-kaca "Huhhhh! Dunia ini begitu sempit ternyata!" Ucapnya.


"Apa kau tahu siapa dia, dan bagaimana gue bisa kenal sama dia?" Tanya Byun.


"Gue nggak tahu itu, yang gue tahu dia udah punya suami dan merebut calon suami gue!" Ucap Sindy tanpa menoleh pada Byun.


"Intan itu adalah mama tiri Chan!" Kata Byun.


Deg,,,


Hati Sindy seperti tersambar petir mengetahui itu, karena mengira akan hidup berdampingan dengan perebut calon suaminya.


"Apa? Bagaiman gue bisa hidup dengan orang yang udah buat hati gue hancur?" Ucap Sindy yang sekarang sudah mulai menitihkan air matanya, dan mengusapnya tanpa sepengetahuan Byun.


"Lo tenang aja, Chan bahkan tidak pernah menerima Intan sebagai mama tiri nya!" Kata Byun lagi.


Sindy mengernyitkan dahinya merasa heran dan bingung akan ucapan Byun "Maksud lo?" Tanya Sindy.


"Dia hanyalah mama tiri Chan yang ingin merebut harta papa Chan saja, dan apa kau tahu? Bahkan Intan sudah tega menghabisi adik Chan dengan sadis!" Jelas Byun.


"Apa ? Kenapa bisa begitu?" Tanya Sindy sembari membelalakkan matanya.


Byun menghela nafas "Karena Intan pikir, Adik Chan akan menjadi penghalang untuk merebut harta papa Chan!" Jelas Byun lagi.


"Benar-benar perempuan gila!" Umpat Sindy sambil melihat ke arah depan.


"Dan apa kau tahu di mana dia sekarang?" Tanya Byun sambil menatap ke arah Sindy.


"Gue nggak tahu dan nggak mau tahu! Biarkan saja dia kelak berada di neraka!!" Kesal Sindy tanpa menoleh ke arah Byun.


"Hey ,apa yang lo katakan? Dia bahkan sudah di neraka sekarang!" Ucap Byun sambil tersenyum ke arah Sindy.


Mendengar itu Sindy langsung menoleh ke arah Byun dan mengangkat satu alisnya karena tak mengerti.


"Lo bercanda?"


"Buat apa gue bercanda? Gue serius, dia sekarang udah mati karena di bunuh!" Ucap Byun lalu tertawa mengingatnya.


Sindy menghela nafas "Huhhh! Syukurlah! Dengan begitu gue nggak perlu susah payah buat balas dendam tanpa turun tangan!" Ucapnya lega.

__ADS_1


Sindy lalu menyandarkan dirinya pada jok mobil. Sedangkan Byun mulai melajukan mobilnya yang memang sudah dekat dengan mansion.


"Byun!" Panggil Sindy lalu Byun menoleh ke arahnya.


"Ada apa?"


"Sekali lagi gue mau ngucapin makasih ke lo! Karena lo udah nolong gue tadi!" Ucap Sindy dengan tulus.


"Tidak masalah, apa lo masih cinta sama pria tadi?" Tanya Byun tiba-tiba.


"Hey, jelas gue udah nggak punya rasa sama dia! Perasaan gue ke dia udah mati saat dia bercumbu dengan wanita lain di depan mata gue!!" Jelas Sindy.


"Oh baguslah!" Ucap Byun lalu menatap ke arah depan.


"Kok bagus?" Sindy mengernyitkan dahinya.


"Ya kan gue ada kesempatan buat bisa deket sama lo!" Ucap Byun terkekeh.


"Nggak perlu kesempatan, ini aja kita udah deket, satu mobil lagi!" Jawab Sindy seketika dengan polosnya.


"Haish, lo ini!! Maksud gue bukan itu!" Ucap Byun.


"Maksud gue itu- " ucap Byun terpotong.


"Akh akhirnya sampai juga!" Ucap Sindy yang melihat mobil sudah sampai mansion.


"Yuk kita masuk, gue udah lapar nih!" Ajak Sindy langsung turun dari mobil meninggalkan Byun.


Sedangkan di waktu yang bersamaan, mereka yang ada di mansion sedang mengkhawatirkan Sindy. Velia mengira kalau Sindy sudah di culik. karena kata mafioso dia di bawa oleh pacarnya, sedangkan saat Velia menanyakan pada Irene (Saudara sepupunya). Ternyata Sindy tidak memiliki pacar. Itu sebabnya Velia khawatir akan Sindy.


Saat semua sudah berkumpul di halaman belakang untuk makan siang. Velia memberi tahu mereka kalau Sindy di culik.


"Ini gawat! " Kata Velia khawatir.


"Ada apa sayang?" Tanya Chan yang melihat istrinya khawatir.


"Sindy di culik!" Ucap Velia memberi tahu.


"Apa?" Jawab para pria kompak, karena para wanita sebenarnya tidak begitu mengkhawatirkan Sindy.


"Tadi mafioso bilang kalau dia udah pulang duluan sama pacarnya, tapi pas aku tanya sama Irene! Ternyata Sindy nggak punya pacar!" Jelas Velia dengan rasa kekhawatirannya. Dirinya bahkan tidak menyadari kalau Byun tidak ada di sana bersama dengan mereka, begitu juga dengan yang lainnya yang juga tidak menyadari.


"Kalau begitu ayo kita cari dia!" Ujar Chan menyarankan.


"Cari apa?" Terdengar suara dari belakang mereka yang tak lain adalah Sindy, yang datang bersama dengan Byun. Suara Sindy membuat semua orang langsung menoleh ke arahnya berada.


"Loh, itu Sindy?!" Ujar Jenie menunjuk Sindy yang berjalan berdampingan dengan Byun.


"Eh tunggu-tunggu! Jadi yang di bilang mafioso kalau Sindy pulang sama pacarnya itu kamu Byun?" Ucap Velia yang langsung mengartikan kalau Byun adalah pacar Sindy.


"Hah?" Byun langsung tercengang mendengar kesimpulan yang langsung diambil oleh Velia begitu saja.

__ADS_1


"Duh, tadi gue pakai bilang ke mafioso kalau Sindy lagi sama pacarnya lagi! Jadi gini deh!" Batin Byun tanpa menjawab pertanyaan Velia.


"Cie,,,jadi ceritanya kalian udah pacaran nih?" Ucap mereka menggoda Byun dan Sindy.


"Siapa yang pacaran?" Tanya Sindy polos, karena tidak tahu apa-apa.


Banyak pertanyaan yang di lontarkan pada Sindy, sebab mereka mengira kalau Sindy sidah menjalin hubungan bersama dengan Byun. Namun karena banyaknya pertanyaan yang dilontarkan, akhirnya Irene pun menengahi.


"Udah-udah, orang lagi pulang malah kalian kasih pertanyaan yang begitu banyak! Lebih baik kita makan siang dulu aja!" Ucap Irene mencoba mengalihkan pembicaraan mereka mengenai hubungan Sindy dan Byun.


Setelah itu mereka menghabiskan waktu bersama di halaman belakang mansion. Sambil bersenda gurau menikmati suasana dan keharmonisan keluarga mereka.


Meskipun mereka telah kehilangan orang tua mereka yang sangat mereka cintai, namun kebersamaan mereka telah berhasil menciptakan kekeluargaan yang utuh dan harmonis.


Masih di saat yang sama, Velia tiba-tiba saja ngidam minta di belikan mangga muda oleh Chan, di saat itu juga.


Karena harus menuruti apa yang istrinya minta, dirinya langsung saja pamit dan beranjak dari duduknya lalu pergi membeli buah yang diinginkan oleh Velia.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pov Chan


Di mobil Chan yang menuju toko buah.


"Haish, aku harus beli berapa buah mangga muda untuk Velia? 1 atau 10?" Tanya Chan pada dirinya sendiri.


"10!"


"Apakah akan di habiskan olehnya?" Tanya Chan lagi pada entah siapa itu.


"Pasti, kalau nggak habis maka aku yang akan menghabiskannya!" Suara itu menjawab ucapan Chan.


"Benarkah? Kalau begitu baiklah!" Jawab Chan lagi, namun tiba-tiba Chan menyadari sesuatu dan langsung menghentikan mobilnya begitu saja.


Cittttt,,,,,


"Tunggu, siapa yang tadi berbicara denganku?" Ucap Chan sambil celingukan mencari seseorang yang tadi menjawab ucapannya. Karena Chan memang berangkat sendiri tanpa di temani siapapun.


"Aneh!" Ucap Chan, "Haish, gue lupa kalau gue bisa melihat mereka yang tak kasat mata!" Ucap Chan lagi.


"Benar kau bisa!" Ucap sosok itu lagi tanpa memperlihatkan wujudnya.


"Siapa di sana?" Tanya Chan sambil celingukan mencari keberadaan sosok yang menjawab ucapannya tadi.


Seketika Chan langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan mak menuju ke toko buah.


Sesampainya di toko buah, Chan langsung membeli beberapa mangga muda untuk Velia.


Di saat perjalanan pulang, Chan melihat ada orang yang tengah berjalan sendirian. Dan seperti membutuhkan tumpangan.


__ADS_1


"Kasihan sekali tuh orang, apa gue kasih tumpangan aja kali ya?" Ucap Chan lalu menghentikan mobilnya, kemudian dirinya segera turun dari mobil untuk menghampiri wanita itu.


__ADS_2