Jadi Suami Dari Hantu Cantik

Jadi Suami Dari Hantu Cantik
Interogasi


__ADS_3

"Lo memang benar Chan! Nyawa harus di balas dengan nyawa!" Ucap Dafa menyetujui apa yang di katakan oleh Chan tadi, "Tapi l nggak bisa ke sana sekarang, lo harus ingat kalau istri lo masih di ruang operasi, dia butuh lo di sini!" Ucap Dafa setelahnya.


Mendengar ucapan dari Dafa Chan mengurungkan niatnya untuk pergi ke markas, dan membunuh siapa yang sudah berani menembak istri dan calon anaknya. Chan kembali duduk di kursi yang ada di depan ruang tunggu operasi. Tampak lampu ruang operasi itu masih menyala, yang menandakan kalau operasi belum juga selesai.


1 jam kemudian,


Lampu ruang operasi itu mati, dan bersamaan dengan itu, Dokter juga keluar dari ruang operasi. Chan yang melihat itu langsung mendekat ke arah Dokter yang baru keluar dari dalam ruang operasi.


"Bagaimana kondisi istri saya dokter?!" Tanya Chan yang merasa cemas dengan kondisi istrinya.


"Syukurlah, operasinya berjalan dengan lancar, istri tuan sudah melewati masa kritisnya! Tapi mungkin dia akan sedikit lama tersadar dari kondisinya, itu istri tuan masih membutuhkan banyak transfusi darah.


Mendengar itu Chan senang sekaligus bingung, dirinya tidak tahu harus menjawabnya bagaimana. Ucapan dokter itu sontak membuat dirinya cemas, karena pasti Velia akan membutuhkan waktu yang sedikit lama untuk sadar. Padahal hati Chan sudah berkecamuk untuk segera ingin melihat istrinya bangun. Di sisi lain, dia juga berpikir apa yang harus katakan kepada Velia nanti. Ketika Velia tahu dan sadar kalau janin yang dia kandung sudah tiada.


"Lalu bagaimana? Apa aku boleh menemuinya?" Tanya Chan d engan antusias.


"Tunggu sampai dia di pindahkan ke ruang perawatan!" Ucap Dokter lalu Chan dan juga lainnya menghela nafas mereka.


Chan kemudian berdiri dari duduknya setelah mendengar dari mulut dokter , kalau Velia sudah selesai melakukan operasi. Di hatinya ada sebuah api yang siap akan membakar siapa saja, termasuk mafioso musuh yang sudah tertangkap dan kini sudah ada di markas.


Semua orang melihat ke arah Chan yang tiba-tiba berdiri.


"Gue mohon para wanita, jaga istri gue sebentar! Gue akan selesaikan urusan gue dulu! Segera hubungi gue kalau Velia sudah sadar dari pasca operasi!!" Ucap Chan kepada seluruh wanita yang ada di sana untuk memberi tahukan kabar Velia nantinya kepada dirinya.


"Chan, apa nggak sebaiknya lo di sini dulu aja? Seenggaknya tunggu sampai dokter memindahkan Velia ke ruang perawatan!" Suho menyarankan kepada Chan yang sudah hendak beranjak dari sana.


"Nyawa harus di bayar dengan nyawa! Hidup gue nggak akan tenang sebelum pembunuh itu musnah di tangan gue!" Tegas Chan tanpa menoleh ke arah Suho, lalu dirinya segera pergi darii sana.


"Chan!" Panggil Suho, yang bahkan sama sekali tidak di gubris oleh Chan. Dafa lalu mengutus Sehun, Kai dan juga Byun untuk mengikuti langkah Chan. Takutnya Chan nanti akan berbuat hal-hal yang nekat yang nantinya akan melukai dirinya sendiri. Sedangkan sisanya memutuskan untuk menjaga Velia di rumah sakit itu.

__ADS_1


Singkat cerita, Chan yang saat itu sudah mengemudikan mobilnya lebih dulu, dengan perasaan emosi yang memuncak pun. Di susul oleh Kai, Byun dan juga Sehun yang memilih menggunakan satu mobil, dan Byun yang menyetirnya.


Sesampainya di markas, Chan langsung turun dengan tatapan wajah mengerikan, bak serigala yang haus akan darah dan ingin menerkam mangsanya.


Chan berjalan menuju tempat penyekapan mafioso musuh itu, dan berjalan melewati mafioso yang berjaga begitu saja.


"Bagaimana?" Tanya Sehun pada mafioso yang di lewati Chan begitu saja.


"Mereka masih tidak mau mengaku bos!" Jawabnya.


Sehun, Byun dan Kai lalu masuk ke dalam mengikuti langkah Chan menuju ke ruang interogasi, penyekapan mafioso musuh itu.


"Kalian berdua, cepat katakan siapa pemimpin kalian?!" Ucap Chan dengan lantang kepada mafioso musuh itu, dirinya memegang pedang di tangannya yang dia hunus kan pada leher mafioso itu.


"Cih!!! Kita tidak akan mengatakannya!" Jawab mafioso musuh itu dengan senyum miringnya, terlihat tangan mereka terikat oleh rantai dan tak bisa bergerak banyak.


"Katakan! Atau gue penggal kepala kalian berdua!!!" Bentak Chan lagi.


"Sesetia itu kalian pada pemimpin kalian?!" Ucap Sehun dengan tangan yang dia sedekapkan ke dada.


"Wah-wah gue sangat kagum pada kalian haha!" Ucap Byun di sertai tawa membahana mengejek dua mafioso itu.


"Apa gue boleh siksa mereka?" Tanya Kai, terlihat tangannya yang memegang sebuah pedang panjang sudah gatal ingin menyiksa mereka.


"Biar Chan saja yang turun tangan sendiri!" Kata Byun melarang Kai.


Chan pun menoleh ke arah Kai dan berkata, "Siksa saja mereka! Gue nggak perduli mau sesekarat apa dia! Gue hanya butuh jawaban! Sampai mereka memohon pada kematian mereka sendiri!" Chan pun menatap tajam ke arah 2 mafioso itu lalu berjalan ke sebuah kursi yang tak jauh dari sana. Chan membiarkan Kai menyiksa mereka dan memilih menonton pertunjukan yang akan Kai lakukan pada 2 mafioso musuh itu. Dengan di ikuti Byun dan Sehun mereka berjalan menuju kursi yang ada di dekat Chan.


Kai kini mengarahkan pedangnya pada mafioso yang tadi menjawab ucapan Chan dengan lantang.

__ADS_1


"Kau yang menjawab dengan lantang, lalu menolak mentah-mentah pertanyaan yang di ucapkan saudara gue?!" Cih!!!" Ucap Kai berdecih.


Srakkkkk,,,,,


"Akhhh" Rintih mafioso itu ketika tangan kirinya di tebas oleh Kai.


"Sekarang kau masih mau menyembunyikannya?" Kai bertanya padanya mencoba bernegosiasi.


"Ti-tidak ssst akan!!!" Mafioso itu masih bersikeras tidak mau mengatakan apapun.


Kai menaikkan satu alisnya dan hendak memotong tangan kanan mafioso itu. Namun cepat di hentikan oleh Chan dengan ucapan.


"Sobek saja mulutnya itu! Dia sendiri yang tidak mau mengakuinya! Jadi buat dia tidak bisa bicara! Gue muak mendengar penolakan dia!!!" Ancam Chan yang membuat mata mafioso itu terbelalak karena terkejut.


"Ja-jangan, Ssssttt!" Ucapnya dengan terbata dan merintihkan tangan kirinya yang telah terpotong.


Sedangkan dari tadi mafioso yang satunya hanya diam tak bergeming, dia cukup ketakutan melihat teman yang ada di dekatnya mengalami hal seperti itu. Bukan hanya takut pada mereka, tapi mafioso itu juga tidak ingin mengatakan apapun.


"Oh iya? Apa sekarang lo masih mau menolak lagi?" Tawar Chan.


"Cih, gue tetap akan tutup mulut ini dan nggak akan mengatakan siapa sebenarnya pemimpin kita! Lebih baik gue mati!" Ucap mafioso itu lagi dengan lantang ,padahal dia merasakan sakit pada tangannya yang terpotong.


Kai menoleh ke arah Chan, Chan hanya mengangguk seperti memberi aba-aba pada Kai untuk melakukan tugasnya. Kai yang mengerti akan maksud dari Chan mengayunkan pedangnya hendak menebas mulut mafioso itu.


"Tunggu!!!" Ucap mafioso musuh yang dari tadi hanya diam tak bersuara. Perhatian mereka sontak menatap pada mafioso itu yang hanya diam tak bergeming.


"Jangan lakukan itu, aku akan mengatakannya!" Ucapnya yang membuat Chan tersenyum menyeringai.


"Apa yang lo katakan! Hah? Apa lo mau mengkhianati bos kita sendiri?!" Mafioso yang satunya tak kalah membela bosnya yang akan di ungkapkan identitasnya.

__ADS_1


Chan yang melihat perdebatan itu langsung beranjak dari duduknya, dan mendekati mafioso yang dari tadi hanya tutup mulut saja.


__ADS_2